Informasi Artikel

Dirilis

29 Agustus 2026

Penulis Artikel

Fathiya Nadhifa Sydra Tsany, B.A., S.Psi.


Tag

"Kok bisa sih percaya sama orang yang baru kenal di internet?"

Pertanyaan seperti ini sering muncul setiap kali ada berita tentang seseorang yang kehilangan ratusan juta rupiah karena penipuan investasi online. Dari luar, ceritanya mungkin terdengar sederhana: korban percaya, mengirim uang, lalu sadar bahwa semuanya adalah penipuan. Namun, kenyataannya sering kali jauh lebih rumit daripada sekadar "kurang hati-hati". 

Belakangan ini, salah satu modus yang semakin sering dibahas adalah pig butchering scam, yaitu bentuk penipuan yang menggabungkan manipulasi emosional dengan investasi palsu. 

Menariknya, uang biasanya bukan topik pertama yang dibicarakan pelaku. Mereka lebih dulu hadir sebagai sosok yang ramah, perhatian, dan menyenangkan untuk diajak ngobrol. Percakapan yang awalnya terasa biasa perlahan berkembang menjadi hubungan yang akrab. Ketika rasa percaya mulai terbentuk, barulah pelaku memperkenalkan peluang investasi yang tampak meyakinkan dan menguntungkan.

 

Ketika Kebutuhan Emosional Dimanfaatkan Dimanfaatkan

Pada dasarnya, setiap orang ingin merasa diterima, dihargai, dan memiliki hubungan dengan orang lain. Itu adalah kebutuhan yang sangat manusiawi. Sayangnya, kebutuhan tersebut juga bisa dimanfaatkan oleh orang yang berniat buruk. 

Seseorang yang sedang merasa kesepian, memiliki dukungan sosial yang terbatas, atau menghadapi masa sulit, mungkin akan lebih menghargai kehadiran seseorang yang selalu ada untuk mendengarkan. Begitu juga dengan individu yang cenderung memiliki kepercayaan diri rendah (low self-esteem) atau sedang mencari validasi. Perhatian, pujian, dan dukungan yang diberikan pelaku bisa terasa begitu tulus, sehingga sulit membayangkan bahwa semua itu sebenarnya bagian dari strategi manipulasi. 

Hal ini bukan berarti kondisi tersebut membuat seseorang pasti menjadi korban. Namun, pelaku memang cenderung mencari situasi yang dapat membuat seseorang lebih rentan secara emosional.

 

Manipulasi Tidak Terjadi dalam Satu MalamSatu Malam

Banyak orang membayangkan penipuan terjadi dalam hitungan jam atau hari. Padahal, dalam kasus seperti ini, prosesnya sering berlangsung jauh lebih lama. Pelaku membangun kepercayaan sedikit demi sedikit, bahkan terkadang menunjukkan keuntungan investasi di awal agar korban semakin yakin. Setelah rasa percaya terbentuk, nominal investasi perlahan meningkat hingga akhirnya korban mengalami kerugian yang besar. 

Proses bertahap ini membuat korban semakin sulit mundur. Ketika seseorang telah menginvestasikan waktu, emosi, dan uang dalam jumlah tertentu, muncul harapan bahwa kerugian tersebut dapat kembali jika bertahan sedikit lebih lama.

 

Mengapa Korban Sering Menyalahkan Dirinya Sendiri?Sendiri?

Setelah menyadari telah ditipu, banyak korban justru merasa malu dan enggan bercerita. Tidak sedikit yang berpikir bahwa mereka seharusnya bisa lebih waspada. Padahal, rasa percaya bukanlah sebuah kelemahan. Kemampuan untuk membangun hubungan dan mempercayai orang lain merupakan bagian penting dari kehidupan sosial manusia yang secara sengaja dimanfaatkan oleh pelaku. 

Memahami bagaimana seseorang dapat menjadi korban bukan berarti membenarkan setiap keputusan yang diambil setelahnya atau mengabaikan dampak yang mungkin ditimbulkan. Dalam beberapa kasus, korban bahkan meminjam uang dari keluarga atau teman dengan harapan dapat menutup kerugian yang dialami. Namun, memahami proses psikologis di balik penipuan membantu kita melihat bagaimana manipulasi bekerja, tanpa menghilangkan tanggung jawab atas setiap tindakan maupun konsekuensinya. 

Sayangnya, komentar seperti "Harusnya dari awal sudah tahu" atau "Kok bisa percaya?" justru dapat memperkuat rasa malu yang sudah dirasakan korban. Akibatnya, mereka menjadi semakin enggan mencari bantuan atau melaporkan kejadian yang dialami, sehingga kondisi yang dihadapi pun dapat semakin memburuk.

 

Apa yang Bisa Kita Lakukan?Lakukan?

Tidak ada cara yang dapat menjamin seseorang dapat benar-benar terhindar dari penipuan. Namun, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risikonya, antara lain:

  1. Berhati-hatilah ketika seseorang yang baru dikenal secara online mulai membangun kedekatan dengan sangat intens, terutama jika pembicaraan kemudian mengarah pada investasi atau peluang mendapatkan keuntungan finansial.
  2. Libatkan perspektif orang lain sebelum mengambil keputusan finansial. Berdiskusi dengan keluarga atau teman terpercaya dapat membantu melihat situasi secara lebih objektif ketika keputusan kita mulai dipengaruhi oleh aspek emosional.
  3. Berikan jeda sebelum mengambil keputusan. Pelaku sering menciptakan kesan bahwa kesempatan hanya tersedia dalam waktu singkat. Padahal, keputusan finansial yang sehat seharusnya tidak dibuat di bawah tekanan.

Pada akhirnya, perlindungan terbaik bukan hanya berasal dari kemampuan mengenali modus penipuan, tetapi juga dari kesadaran bahwa emosi dapat mempengaruhi cara kita mengambil keputusan. Memahami bagaimana manipulasi psikologis bekerja membuat kita tidak hanya lebih waspada terhadap pelaku, tetapi juga lebih berempati kepada mereka yang pernah mengalaminya.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait topik ini atau masalah psikologi lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Peter Pan Syndrome: Ketika Menjadi Dewasa Terasa Menakutkan
Artikel Ahli
Sosial

Peter Pan Syndrome: Ketika Menjadi Dewasa Terasa Menakutkan

27 Juli 2026

Premium sparkles
5.0
Mengapa Social Battery Lebih Cepat Habis Saat Hari Raya?
Artikel Ahli
Sosial

Mengapa Social Battery Lebih Cepat Habis Saat Hari Raya?

19 April 2026

Premium sparkles
5.0
Tips Menjadikan Bulan Ramadan sebagai Momen Pendidikan Karakter Anak
Artikel Ahli
Sosial

Tips Menjadikan Bulan Ramadan sebagai Momen Pendidikan Karakter Anak

14 Maret 2026

Premium sparkles
5.0
5 Cara Mengungkapkan Bahasa Cinta Kepada Diri Sendiri
Artikel Ahli
Sosial

5 Cara Mengungkapkan Bahasa Cinta Kepada Diri Sendiri

25 Februari 2026

Berikan Pendapat Anda