Dirilis

12 Pebruari 2021

Delirium adalah salah satu istilah penyakit yang mungkin masih sangat awam dan belum familiar bagi sebagian orang. Padahal, kondisi delirium ini cukup umum ditemui, terutama pada pasien kesehatan yang berusia lanjut atau lansia di rumah sakit. Kondisi delirium ini bersifat fluktuatif atau terkadang bisa muncul, namun juga bisa tidak. Inilah pengertian lengkap dan delirium, penyebab, dan pengobatannya yang harus Anda ketahui.

Pengertian dan Jenis-Jenis Delirium

delirium adalah
Dilansir dari laman Harvard Health: Recognizing and managing delirium di tahun 2019, delirium adalah kondisi penurunan kesadaran yang bersifat akut dan fluktuatif, dimana pengidapnya bisa mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Delirium adalah sebuah kondisi yang cukup umum ditemui, namun gangguan ini memiliki dampak buruk karena tidak hanya memperpanjang masa rawat dan menurunkan kualitas hidup penderitanya, namun penyakit delirium juga meningkatkan angka kematian pengidapnya.
Delirium juga memiliki beberapa jenis. Delirium dibagi menjadi beberapa jenis tergantung pada gejala yang ditunjukkan pengidap, yaitu:
a. Delirium hiperaktif: dimana penderita akan tampak gelisah, sering mengalami perubahan mood, atau berhalusinasi.
b. Delirium hipoaktif: dimana penderita terlihat tidak aktif atau mengurangi aktivitas gerak, lesu, mengantuk, atau cenderung linglung
c. Delirium campuran: dimana penderita sering menunjukkan perubahan gejala dari delirium hiperaktif ke delirium hipoaktif ataupun sebaliknya

Penyebab Delirium dan Gejala Delirium

Dilansir dari sumber Harvard Health: Recognizing and managing delirium di tahun 2019, disebutkan beberapa hal yang dapat menjadi penyebab delirium adalah sebagai berikut:
1. Konsumsi obat-obatan tertentu atau keracunan obat: seperti obat pereda nyeri, obat tidur, anti-alergi (antihistamin), dan lain sebagainya.
2. Kecanduan alkohol
3. Keracunan
4. Operasi atau prosedur medis lain yang melibatkan adanya proses pembiusan
5. Penyakit kronis
6. Malnutrisi
7. Dehidrasi
8. Gangguan tidur atau gangguan emosi.
9. Gangguan elektrolit
10. Demam akibat infeksi akut, khususnya pada anak
11. Infeksi pada organ yang menyebar ke seluruh tubuh
12. Kadar gula dalam darah yang rendah (hipoglikemia)
13. Penyakit serebrovaskular, seperti stroke
14. Perubahan lingkungan atau perpindahan ruangan
Selain itu, terdapat beberapa faktor yang dapat memicu delirium, seperti:
1. Adanya kelainan pada otak.
2. Berusia lanjut atau di atas usia 65 tahun.
3. Memiliki riwayat mengidap delirium sebelumnya.
4. Mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran.
5. Mengidap kombinasi atau komplikasi beberapa penyakit.
Meski dikatakan gangguan ini cukup umum terjadi, namun biasanya tidak ada gejala yang khas. Penderita akan menunjukkan gejala berupa perubahan kondisi mental dalam beberapa jam hingga beberapa hari, seperti:
 

1. Penurunan kesadaran terhadap lingkungan sekitar

Seperti contohnya mudah teralihkan, sulit fokus atau konsentrasi, dan sering melamun.
 

2. Kemampuan berpikir yang buruk (gangguan kognitif)

Seperti halnya berkurang atau memburuknya daya ingat terutama untuk jangka pendek, maupun cenderung lebih pelupa, disorientasi, kesulitan berbicara atau mengingat kata-kata, bicara bertele-tele, kesulitan dalam memahami pembicaraan, membaca, dan menulis.
 

3. Gangguan emosional

Contohnya seperti gelisah, takut atau paranoid, depresi, mudah tersinggung, perubahan mood yang mendadak, dan bahkan perubahan kepribadian.
 

4. Terjadi perubahan perilaku

Seperti halnya menjadi lebih agresif, menjadi penutup atau pendiam, pergerakan menjadi lambat juga terganggunya kebiasaan tidur.
 

Pengobatan Delirium

pengobatan delirium adalah

Jika Anda atau kerabat mengalami tanda maupun gejala yang seperti tertulis di atas. Atau mungkin termasuk dalam beberapa faktor penentu yang berpotensi mengidap delirium, baiknya segera berobat atau mengunjungi fasilitas kesehatan. Biasanya, dokter akan melakukan diagnosis delirium dengan serangkaian wawancara medis dengan keluarga pengidap yang mengetahui gejala yang dialami penderita, melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis, memeriksakan kondisi kejiwaan, serta melakukan pemeriksaan lainnya termasuk medical check up, seperti:
1. Pemeriksaan urine atau darah untuk menilai fungsi hati, kadar alkohol tiroid, paparan zat NAPZA, atau alkohol.
2. CT scan, MRI, atau elektroencefalogram (EEG) untuk menilai kondisi otak.
3. Rontgen dada untuk melihat adanya infeksi pada paru.
4. Analisis cairan serebrospinal, untuk mengetahui adanya infeksi otak.
Langkah pertama pengobatan delirium adalah melakukan penilaian atau meneliti berbagai kemungkinan penyebab, kemudian menyediakan dukungan suportif, dan mencegah terjadinya komplikasi. Kemudian, tanggung jawab kita adalah menjaga penderita agar tidak terjadi kecelakaan selama perawatan, karena pengidap berada pada fase penurunan kesadaran. Penanganan masalah yang mendasari sangat diperlukan, misalkan infeksi, penurunan gula darah, gangguan dapat buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK), dan imobilisasi.
Itulah informasi mengenai delirium. Pada dasarnya, delirium adalah kondisi yang umum ditemui terutama pada pasien kesehatan yang bisa mengalami penurunan kesadaran. Semoga informasi diatas tak hanya menambah pengetahuan tapi juga sekaligus meningkatkan kewaspadaan serta menjadi motivasi bagi kita untuk menjaga kesehatan. Anda juga bisa berkonsultasi dengan dokter dari Daya.id seputar berbagai jenis penyakit dan kesehatan lainnya.
Informasi lain terkait pola hidup sehat dan kesehatan lainnya, bisa Anda peroleh dengan mudah di Daya.id. Dengan mendaftar di Daya.id semua informasi kesehatan bisa diakses dengan gratis dan sangat mudah. Jadi, tunggu apalagi? Yuk, kunjungi dan daftarkan diri Anda di Daya.id sekarang juga!
 

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber

Penilaian :

5.0

1 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

dr. Sanny Yanisyah Cutfriana

Dokter Umum

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS