Mulai 1 Oktober 2026, short selling kembali menjadi bagian dari aktivitas pasar modal Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat menaikkan likuiditas pasar modal, sekaligus memperluas fleksibilitas strategi transaksi bagi para investor.
Pada tahap awal baru tersedia untuk 5 emiten berlikuiditas tinggi yaitu ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF yang dapat dilakukan short selling. Ada 2 anggota bursa yang sudah menyediakan layanan short selling.

Pengertian Short Selling
Konsep perdagangan saham pada umumnya adalah membeli di harga bawah kemudian menjualnya di harga lebih tinggi dari harga beli. Keuntungan didapatkan dari selisih harga jual yang lebih tinggi dari harga beli. Jadi pergerakan harga yang semakin naik membuat peluang untuk mendapatkan keuntungan semakin besar.
Short selling punya konsep yang sama sekali berbeda. Short selling adalah menjual saham yang belum dimiliki investor, dengan niat membelinya kembali di kemudian hari pada harga yang lebih rendah. Tujuannya adalah mendapat keuntungan dari penurunan nilai saham tersebut yang diperkirakan akan terjadi.
Jadi intinya short selling adalah mencari keuntungan dari penurunan harga saham. Semakin turun harganya maka peluang keuntungan terbuka.
Mekanisme perdagangannya seperti ini : Pinjam saham → jual → harga turun → beli kembali → kembalikan saham → selisih berpotensi menjadi keuntungan.
Contoh short selling saham BUMI berada di harga Rp1.000.
- Investor meminjam saham BUMI melalui mekanisme short selling.
- Saham tersebut dijual di harga Rp1.000.
- Harga saham kemudian turun menjadi Rp800.
- Investor membeli kembali saham BUMI di Rp800.
- Saham dikembalikan kepada pihak yang meminjamkan.
- Selisih Rp200 per saham merupakan potensi keuntungan, sebelum dipotong biaya dan kewajiban lainnya.
Sebaliknya, jika harga saham naik menjadi Rp1.200, investor harus membeli kembali pada harga yang lebih tinggi. Artinya terdapat potensi kerugian Rp200 per lembar saham.
Konsep short selling adalah “jual dulu, baru beli”, Dalam short selling, investor menjual efek yang dipinjam melalui mekanisme yang diatur, bukan menjual saham yang sudah menjadi miliknya.
Risiko Short Selling
Short selling bukan sekadar “cara menghasilkan uang ketika pasar turun”, tetapi strategi yang mempunyai risiko tersendiri.
Perdagangan saham umumnya “buy low, sell high”, semakin harga naik, semakin untung posisi investor. Short selling mekanismenya “open sell, close low” pelaku pasar membuka posisi dengan menjual (Open Sell) di harga saat ini yang relatif tinggi, dan menutup posisi tersebut (Close) di harga yang lebih rendah (Low) untuk mendapatkan selisih keuntungan.
Dalam konsep perdagangan saham biasa, penurunan harga dapat mengurangi nilai investasi yang dimiliki. Sebaliknya pada short selling jika harga saham meningkat, investor justru mengalami kerugian karena harus membeli kembali saham pada harga yang lebih tinggi. Oleh karena itu investor perlu memahami analisis saham, mekanisme, biaya, kewajiban, serta risiko yang menyertainya sebelum mengambil keputusan.
Jadi memahami peluang keuntungan perlu berjalan beriringan dengan memahami potensi kerugian. Bukan hanya besarnya keuntungan yang perlu dipertimbangkan, tetapi juga kemampuan untuk mengelola risiko.
Apakah Short Selling Cocok untuk Anda?
Setiap investor memiliki tujuan keuangan dan toleransi risiko yang berbeda. Oleh karena itu tidak semua strategi investasi cocok untuk setiap orang, termasuk short selling. Sebelum mengambil keputusan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
- Tentukan tujuan investasi. Strategi untuk membangun aset dalam jangka panjang tentu berbeda dengan strategi untuk mencari peluang dalam jangka pendek.
- Pahami resiko yang dapat ditanggung. Jangan menggunakan dana untuk kebutuhan sehari-hari atau dana darurat pada investasi yang memiliki risiko tinggi.
- Pahami mekanisme short selling, termasuk syarat umum fasilitas short selling, resiko, biaya dan kewajiban yang menyertainya.
- Keputusan investasi juga sebaiknya didasarkan pada analisis, bukan semata-mata karena mengikuti tren pasar.
Dengan memahami tujuan dan kemampuan finansial, investor dapat memilih strategi yang lebih sesuai. Investasi bukan tentang mengikuti setiap peluang yang tersedia, melainkan memilih peluang yang sejalan dengan tujuan keuangan dan kemampuan mengelola risikonya.
Pasar menawarkan lebih banyak peluang untuk keuntungan dengan adanya strategi short selling. Namun perlu diingat bahwa peluang keuntungan yang lebih besar juga disertai risiko yang lebih tinggi (high risk high return). Oleh karena itu, mengejar keuntungan dalam waktu singkat tidak selalu menjadi strategi terbaik untuk menggandakan aset. Dalam membangun aset, investor perlu melihat lebih jauh dari sekadar potensi return. Besarnya dana yang diinvestasikan, tingkat keuntungan, konsistensi investasi, jangka waktu, dan kemampuan mengelola risiko juga turut menentukan pertumbuhan aset dalam jangka panjang.
Short selling dapat menjadi salah satu strategi di pasar modal, tetapi bukan jalan pintas untuk mempercepat kekayaan. Bagi sebagian investor, strategi yang lebih sesuai justru bisa berupa investasi yang terdiversifikasi dan dilakukan secara konsisten sesuai tujuan keuangan dan toleransi resiko. Menggandakan aset bukan hanya tentang seberapa besar keuntungan yang bisa diperoleh, tetapi juga seberapa baik risiko dapat dikelola sepanjang perjalanan investasi.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda