Setelah masa produktif, akan datang masa pensiun. Anda juga akan mengalaminya, terutama jika bekerja sebagai karyawan.
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Pensiun menyebutkan bahwa usia pensiun bertambah satu tahun setiap tiga tahun. Ketentuan ini dimulai pada tahun 2019 dengan usia pensiun 57 tahun, meningkat menjadi 58 tahun pada 2022, dan pada tahun 2025 menjadi 59 tahun.
Seiring bertambahnya usia setiap tahun, pensiun adalah fase yang pasti tiba bagi setiap pekerja. Ini adalah fase ketika penghasilan tetap berhenti, sementara waktu luang justru melimpah. Waktu yang sebelumnya habis untuk bekerja dan perjalanan pulang-pergi kantor kini tersedia dan menunggu untuk diisi. Di sisi lain, saat pendapatan aktif berhenti, kebutuhan hidup tetap berjalan.
Masa Pensiun dan Tantangan Keuangan
Pensiunan akan menerima dana pensiun yang berfungsi untuk menjaga kestabilan finansial dan menyediakan penghasilan setelah tidak lagi bekerja. Dana ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya kesehatan, serta menikmati masa pensiun tanpa bergantung pada orang lain atau anak.
Namun, dalam praktiknya, dana pensiun sering kali terbatas dan tergerus inflasi. Pada masa pensiun, dua hal yang menjadi sorotan utama adalah dana dan waktu. Kondisi ini membuat trading saham mulai dilirik sebagai alternatif sumber penghasilan sekaligus aktivitas untuk mengisi waktu. Fleksibilitas waktu, kemudahan akses digital, serta aktivitas yang bisa dilakukan dari mana saja menjadikan trading terlihat menarik. Pertanyaannya, apakah hal ini memungkinkan? Apakah trading saham merupakan peluang, atau justru berisiko besar bagi pensiunan?
Trading Saham sebagai Peluang di Masa Pensiun
Bagi pensiunan, trading saham dapat menjadi peluang penghasilan tambahan jika dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Perkembangan teknologi dan kemudahan aplikasi memungkinkan aktivitas ini dipelajari dan dijalankan dari mana saja. Selain itu, pensiunan umumnya memiliki waktu yang lebih longgar sehingga dapat memantau pasar dengan lebih tenang dan mengambil keputusan tanpa terburu-buru.
Trading saham berpotensi memberikan pemasukan apabila dilakukan dengan strategi yang sederhana dan terukur, misalnya swing trading pada saham berfundamental baik atau memanfaatkan momentum jangka menengah. Sebaliknya, trading jangka sangat pendek dan iming-iming cepat kaya sebaiknya dihindari karena risikonya sangat besar. Risiko tersebut tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga dapat memicu stres dan mengganggu kesehatan, termasuk kesehatan jantung.
Hal penting lainnya adalah penggunaan “uang dingin”, yaitu dana yang tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Dana trading harus dialokasikan secara khusus dengan proporsi yang aman agar tidak mengganggu kelangsungan hidup di masa pensiun.
Manfaat Non-Finansial Trading Saham
Selain potensi finansial, trading saham juga dapat memberikan manfaat non-finansial. Aktivitas memantau pasar, menganalisis saham, dan melakukan transaksi jual beli membantu menjaga ketajaman berpikir dan mengurangi risiko penurunan fungsi kognitif. Trading juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan perasaan tetap produktif meskipun sudah pensiun.
Dengan disiplin dan ekspektasi yang realistis, trading saham dapat menjadi peluang yang bermanfaat, bukan ancaman.

Ketika Trading Menjadi Bumerang
Di sisi lain, trading dapat menjadi bumerang jika dilakukan tanpa persiapan, dengan ekspektasi yang tidak realistis, serta tanpa perhitungan yang matang. Pasar saham selalu bergerak naik dan turun. Pergerakan yang tajam memiliki risiko tinggi dan dapat menggerus modal dalam waktu singkat. Sementara itu, kemampuan untuk memulihkan kerugian di masa pensiun sangat terbatas.
Keinginan untuk cepat mengembalikan kerugian sering kali memicu keputusan impulsif, seperti overtrading atau menahan saham yang merugi terlalu lama. Kondisi ini menuntut kesiapan mental yang kuat dalam menghadapi volatilitas pasar. Kesalahan umum yang sering terjadi antara lain menggunakan dana pensiun utama, mengejar keuntungan cepat, dan mengabaikan manajemen risiko.
Tidak jarang, kondisi ini membuat pensiunan mengalami tekanan mental akibat fluktuasi harga yang tajam. Jika trading dijadikan sebagai sumber utama penghasilan, risiko stres dan penurunan kualitas hidup menjadi semakin besar. Pada titik ini, kesehatan pun ikut dipertaruhkan. Ketika sudah demikian, trading bukan lagi peluang, melainkan bumerang.
Empat Faktor Penentu Trading Saham di Masa Pensiun
Trading saham di masa pensiun sangat ditentukan oleh cara melakukannya. Ada empat faktor utama yang perlu diperhatikan.
Faktor pertama adalah tujuan. Tujuan merupakan pondasi dalam melakukan apa pun. Ketika merasa ragu atau tersesat, kembalilah pada tujuan awal. Tujuan trading di masa pensiun seharusnya adalah mencari penghasilan tambahan, bukan sebagai sumber utama penghidupan.
Faktor kedua adalah profil risiko pribadi. Pensiunan umumnya berada pada fase konservatif, sehingga pendekatan agresif sangat tidak disarankan. Pendekatan konservatif bertujuan melindungi modal dan memperoleh pendapatan yang relatif stabil, bukan mengejar keuntungan tinggi dari instrumen berisiko. Profil risiko ini akan memengaruhi pemilihan saham atau instrumen investasi yang digunakan.
Faktor ketiga adalah pengalaman dan literasi pasar modal. Jika belum memiliki pengalaman, literasi pasar modal menjadi sangat penting. Literasi membantu pensiunan memahami cara kerja pasar, karakteristik instrumen investasi, serta hubungan antara risiko dan imbal hasil. Tanpa pemahaman yang memadai, keputusan cenderung spekulatif dan mudah dipengaruhi emosi maupun rumor.
Kesalahan dalam memilih saham, analisis yang keliru, tidak mengukur risiko, serta tidak menerapkan manajemen risiko dapat berdampak pada keamanan dana jangka panjang. Dengan literasi yang baik, potensi kesalahan dapat diperkecil dan strategi yang lebih realistis dapat disusun. Selain saham, tersedia pula instrumen investasi yang lebih konservatif seperti saham dividen, obligasi pemerintah, dan reksa dana pendapatan tetap.
Faktor keempat adalah porsi dana. Trading sebaiknya hanya menggunakan sebagian kecil dari total aset, sekitar 5–10%, agar tidak mengganggu keamanan finansial di masa pensiun.
Trading saham dapat dilakukan pada masa pensiun, tetapi membutuhkan kehati-hatian. Empat faktor utama tujuan, profil risiko, literasi pasar, dan porsi dana perlu dipikirkan dan disiapkan dengan matang. Trading menjadi peluang apabila dijalankan dengan tujuan yang realistis, perhitungan yang jelas, kesiapan mental, serta disiplin yang kuat.
Sebaliknya, tanpa batasan dan disiplin, trading mudah berubah dari peluang menjadi bumerang yang mengancam kestabilan hidup di masa pensiun. Prioritas utama pada fase ini adalah menjaga kestabilan keuangan dan kualitas hidup, bukan mengejar keuntungan besar dengan risiko yang berlebihan.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda