Sudah mencatat pemasukan dan pengeluaran, tapi keuangan rumah tangga masih sering bocor?
Mengatur keuangan rumah tangga tidak sekadar mencatat pemasukan dan pengeluaran saja lho! Lebih dari itu, pengelolaan keuangan yang baik membantu keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari, mempersiapkan masa depan, serta menghadapi kondisi darurat tanpa harus utang.
Sayangnya, masih banyak keluarga yang mengalami masalah keuangan bukan karena penghasilannya kecil, melainkan karena tidak memiliki pembagian pos keuangan yang jelas. Gaji habis sebelum akhir bulan, tabungan tidak pernah bertambah, hingga kebutuhan mendadak yang akhirnya harus dibayar menggunakan pinjaman.
Padahal, kalau pos keuangan rumah tangga disusun dengan tepat, setiap rupiah jadi memiliki tujuan yang jelas. Anda bisa mengetahui berapa dana yang boleh digunakan untuk kebutuhan harian, berapa yang harus disimpan, dan berapa yang dapat dialokasikan untuk hiburan tanpa merasa bersalah.

Cara Menyusun Pos Keuangan Rumah Tangga
Berikut ini cara menyusun pos keuangan rumah tangga yang ideal yang bisa Anda coba.
1. Hitung dulu total pendapatan bersih
Sebagai langkah awal, Anda perlu mengetahui jumlah pendapatan bersih keluarga setiap bulannya. Pendapatan bersih adalah uang yang benar-benar diterima setelah dipotong pajak, iuran, atau kewajiban lainnya. Jika dalam keluarga terdapat dua sumber penghasilan, jumlahkan keduanya. Dengan mengetahui pendapatan bersih, Anda dapat menentukan batas maksimal pengeluaran agar tidak terjadi defisit.
Selain gaji bulanan, Anda juga bisa memasukkan pendapatan lain yang sifatnya rutin, seperti:
- Penghasilan usaha.
- Komisi atau bonus yang rutin diterima.
- Pendapatan sewa properti.
- Pendapatan investasi yang stabil.
Bonus tahunan atau Tunjangan Hari Raya (THR) sebaiknya tidak dijadikan dasar perhitungan anggaran bulanan karena sifatnya tidak tetap.
2. Pos kebutuhan: Prioritaskan kebutuhan pokok
Setelah mengetahui pendapatan bersih, susun daftar kebutuhan yang benar-benar wajib dipenuhi alias kebutuhan pokok, seperti:
- Makanan dan kebutuhan dapur.
- Listrik dan air.
- Internet dan pulsa.
- Transportasi.
- Biaya sekolah anak.
- Cicilan rumah.
- Biaya kesehatan.
- Kebutuhan rumah tangga lainnya.
Idealnya, total kebutuhan pokok tidak menghabiskan seluruh penghasilan Anda. Perencana keuangan biasanya menyarankan agar kebutuhan rutin berada di kisaran 50%-60% dari total pendapatan. Namun, angka tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga. Jika pengeluaran pokok sudah mencapai lebih dari 70% dari total pendapatan, artinya Anda perlu mengevaluasi pos gaya hidup atau pengeluaran yang sebenarnya masih bisa dikurangi.
3. Pos tabungan & investasi: Sisihkan sejumlah dana untuk tabungan dan Investasi sebelum dibelanjakan
Biasanya, kesalahan yang sering terjadi adalah menabung dari uang sisa di akhir bulan. Padahal, cara yang lebih efektif adalah menerapkan prinsip pay yourself first, yaitu menyisihkan tabungan terlebih dahulu begitu menerima penghasilan.
Sebagai gambaran, Anda dapat mengalokasikan sekitar 15% hingga 25% pendapatan untuk tujuan keuangan jangka panjang, seperti:
- Dana pendidikan anak.
- Dana pensiun.
- Investasi.
- Tabungan membeli rumah.
- Dana liburan
Dengan cara ini, menabung menjadi kewajiban, bukan sekadar pilihan apabila masih ada sisa uang. Jika Anda memiliki mobile banking, Anda bisa mengaktifkan fitur autodebet agar dana tabungan langsung berpindah ke rekening atau instrumen investasi setiap tanggal gajian.
4. Pos Proteksi: Siapkan dana darurat dan proteksi
Tidak ada yang tahu kapan kondisi darurat akan terjadi. Kehilangan pekerjaan, kendaraan rusak, anggota keluarga sakit, atau kebutuhan mendadak lainnya bisa mengganggu kondisi keuangan apabila tidak dipersiapkan. Makanya, sangat penting untuk memiliki dana darurat.
Berikut ini acuan umum besarnya dana darurat bagi setiap kelompok status:
- Lajang: sekitar 3–6 kali pengeluaran bulanan.
- Pasangan menikah: sekitar 6 kali pengeluaran bulanan.
- Keluarga dengan anak: sekitar 9–12 kali pengeluaran bulanan.
Selain dana darurat, perlindungan melalui asuransi kesehatan juga menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan. Apalagi biaya kesehatan yang relatif tinggi seringkali menjadi penyebab utama kondisi keuangan keluarga memburuk. Memiliki perlindungan asuransi yang sesuai dapat mengurangi risiko tersebut.
5. Pos hiburan & lifestyle: Sediakan anggaran untuk gaya hidup dan hiburan
Mengatur keuangan bukan berarti tidak boleh menikmati hasil kerja. Justru, sangat penting untuk menyisihkan dana khusus untuk hiburan demi menjaga keseimbangan hidup sekaligus mengurangi keinginan belanja secara impulsif. Anda bisa menyiapkan anggaran khusus untuk hobi atau hal lain yang Anda sukai seperti makan di luar, menonton bioskop, liburan singkat, membeli barang yang sudah lama diinginkan, dan sebagainya.
Besarnya pos hiburan dan lifestyle dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan, misalnya sekitar 5% hingga 10% dari pendapatan. Yang penting, pastikan tetap berada dalam batas anggaran yang telah ditentukan.
Sebagai ilustrasi, berikut contoh pembagian anggaran untuk keluarga dengan pendapatan bersih Rp10.000.000 per bulan.:
|
Pos Keuangan |
Persentase |
Nominal |
|
Kebutuhan pokok |
55% |
Rp5.500.000 |
|
Tabungan dan investasi |
20% |
Rp2.000.000 |
|
Dana darurat dan asuransi |
10% |
Rp1.000.000 |
|
Hiburan dan gaya hidup |
10% |
Rp1.000.000 |
|
Donasi atau kebutuhan lain |
5% |
Rp500.000 |
Angka tersebut bukan aturan baku, setiap keluarga memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga pembagian anggaran kemungkinan akan berbeda-beda. Misalnya, keluarga yang masih mengontrak rumah mungkin memiliki biaya hunian lebih tinggi dibanding keluarga yang rumahnya sudah lunas.
Nah itu tadi 5 pos keuangan yang bisa dicoba untuk membantu Anda mengelola keuangan rumah tangga. Bagaimanapun, menyusun anggaran hanyalah langkah awal. Tantangan sebenarnya adalah menjalankannya secara konsisten. Berikut beberapa tips untuk membantu Anda melakukan pengelolaan pos keuangan secara rutin:
- Catat seluruh pemasukan dan pengeluaran setiap hari.
- Manfaatkan aplikasi pencatat keuangan agar lebih mudah dipantau.
- Pisahkan rekening kebutuhan harian dan rekening tabungan.
- Libatkan pasangan dalam menyusun anggaran agar memiliki tujuan yang sama.
- Lakukan evaluasi minimal satu kali setiap bulan untuk mengetahui apakah ada pos yang terlalu besar sehingga perlu disesuaikan pada bulan berikutnya.
Masih ada yang pertanyaan? Diskusikan dengan ahli keuangan kami di kolom Tanya Ahli! Daftarkan juga diri Anda di daya.id untuk tahu berbagai tips dan info menarik lainnya.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda