Selama ini kalau bicara investasi emas, pilihannya hanya dua: beli logam mulia lalu disimpan sendiri, atau menabung lewat aplikasi emas digital. Sedangkan emas perhiasan lebih condong dikategorikan sebagai aset guna pakai dibanding aset investasi. Sehingga pada artikel ini tidak dibahas lebih dalam.
Sejak 10 Agustus 2026, ada pintu ketiga. Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia resmi meluncurkan lima ETF Emas bertepatan dengan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia. Artinya, emas kini bisa dibeli dan dijual lewat aplikasi sekuritas, layaknya saham.

Apa itu ETF emas?
ETF Emas adalah reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa dan memiliki emas sebagai aset dasar. Investor membeli unit ETF, bukan emas batangan secara langsung, atau dengan kata lain emas fisik menjadi aset milik seperti reksa dana yang dikelola secara kolektif.
Aturan yang mendasarinya sudah jelas. Penerbitannya mengacu pada POJK Nomor 2 Tahun 2026, dan BEI menetapkan aset emas untuk ETF harus memenuhi standar kemurnian minimal 99,5% (LBMA) atau 99,9% (SNI). Kepemilikan emasnya direpresentasikan lewat Electronic Gold Receipt (EGR) di KSEI, dan seluruh produk berstruktur syariah mengacu Fatwa DSN-MUI Nomor 163/DSN-MUI/VII/2025 tentang ETF Syariah Emas.
Saat pertama kali rilis, terdapat lima produk perdananya yakni:
|
No |
Kode |
Manajer Investasi |
Harga perdana / unit |
|
1 |
XTRA |
Trimegah Asset Management |
Rp248 |
|
2 |
XGLD |
Indo Premier Investment Management |
Rp256 |
|
3 |
XMES |
Mandiri Manajemen Investasi |
Rp757 |
|
4 |
XDES |
BRI Manajemen Investasi |
Rp1.000 |
|
5 |
XSGO |
Syailendra Capital |
Rp1.000 |
Karena terdapat limat produk, maka diperlukan analisis dalam memilih produk mana yang bisa kita beli.
Berikut strategi memilih instrumen ETF emas:
1. Cek premium/discount terhadap NAV atau harga wajarnya
Setiap ETF punya dua angka, harga di layar (harga pasar) dan nilai emas di dalamnya (NAB). Idealnya keduanya berdekatan. Cara ceknya gampang:
(Harga di layar ÷ NAB) − 1, lalu kali 100%
Kalau hasilnya +5%, berarti kamu bayar 5% lebih mahal dari nilai emasnya. Kalau hasilnya minus, kamu justru dapat diskon.
2. Lihat volume transaksi
ETF yang ramai ditransaksinya menandakan banyak investor yang melakukan jual dan beli. Artinya ketika kita membeli ETF tersebut, kita tidak akan kesulitan untuk menjual kembali atau dengan kata lain ETF tersebut cukup likuid.
3. Lihat isinya
Walaupun secara peraturan ETF ini wajib menaruh minimal 95% dananya di aset emas fisik, namun tidak semua persis sama. Mandiri menetapkan minimum 95% pada emas fisik, sementara Syailendra, Trimegah, dan BRI MI membuka ruang untuk emas batangan maupun emas nonfisik dan instrumen emas lain.
4. Biaya Pengelolaan
Yang perlu diperhatikan lagi adaah biaya pengelolaan, biaya kustodian, dan biaya penyimpanan emas.
Kelebihan dari ETF Emas:
- Modal awal sangat ringan. Satu lot berisi 100 unit, sehingga dengan harga perdana terendah Rp248 per unit, modal minimal berada di kisaran Rp24.800 per lot. Bandingkan dengan membeli 1 gram logam mulia yang butuh jutaan rupiah.
- Tidak repot media penyimpanan. Trimegah dalam prospektusnya menyebut salah satu manfaat ETF adalah investor memperoleh eksposur emas tanpa harus memiliki, menyimpan, atau mengamankan fisik emas secara langsung. Tidak ada risiko hilang, tergores, atau biaya sewa safe deposit box.
- Likuid dan transparan. Investor dapat bertransaksi secara real time selama jam perdagangan bursa tidak perlu menunggu NAB akhir hari seperti reksa dana biasa.
- Terkurasi regulator dan sesuai prinsip syariah. Emas disimpan kustodian berizin, dicatat di KSEI, dan diawasi OJK.
Kekurangan dari ETF Emas:
- Tidak memegang emasnya secara fisik. Prospektus empat ETF yang ditelaah tidak menetapkan hak investor ritel berupa gram emas tetap untuk setiap unit penyertaan. Jadi ETF emas tidak bisa dijadikan mahar, hadiah, atau perhiasan.
- Ada selisih harga pasar vs nilai wajar. Harga ETF di bursa ditentukan permintaan dan penawaran, sehingga bisa berada di bawah, sama dengan, atau di atas NAB. Ini yang disebut premium/discount. Rumusnya: (Harga ETF ÷ NAB per unit − 1) × 100%.
- Ada biaya pengelolaan dan risiko kurs. Harga emas global memakai dolar AS, sehingga rupiah yang menguat dapat menekan nilai emas dalam rupiah meskipun harga emas dunia relatif stabil.
- Pergerakannya lebih volatile dibanding pergerakan harga emas fisik. Sehingga lebih cocok untuk investor agresif dibanding moderat maupun konservatif.
Perbandingan antara ETF Emas, Logam Mulia, dan Emas Digital
|
No |
Faktor |
ETF Emas |
Logam Mulai |
Emas Digital |
|
1 |
Wujud |
Unit penyertaan |
Batangan fisik |
Saldo gram |
|
2 |
Tempat transaksi |
Bursa Efek Indonesia melalui aplikasi sekuritas |
Butik/toko emas |
Aplikasi penyelenggara |
|
3 |
Modal awal |
± Rp24.800 (1 lot) |
Harga 0,5–1 gram |
Bisa mulai 0,01 gram |
|
4 |
Penyimpanan Aset |
Kustodian berizin |
Tanggung jawab sendiri |
Penyelenggara |
|
5 |
Biaya |
Spread bid-offer, premium/discount, fee MI & broker |
Selisih harga jual–buyback |
Spread beli–jual platform |
Jadi, cocok untuk siapa?
ETF emas cocok untuk kamu yang sudah punya rekening efek dan terbiasa membaca order book dan ingin menambah eksposur emas sebagai penyeimbang portofolio saham/obligasi tanpa membuka aplikasi baru. Strateginya silahkan berinvestasi rutin dengan nominal kecil dan tidak membutuhkan wujud fisiknya.
Logam mulia cocok untuk tujuan jangka panjang di atas 5 tahun seperti dana warisan, mahar, tabungan haji, atau simpanan yang ingin benar-benar dipegang. Perlu memperhatikan spread yang cukup lebar, sehingga tidak bisa sembarangan melakukan jual dan beli dalam waktu yang relatif pendek.
Emas digital cocok untuk pemula dan pelajar yang ingin membiasakan diri menabung dari nominal sangat kecil, dengan opsi mencetak fisik di kemudian hari. Syaratnya, pastikan penyelenggaranya terdaftar dan diawasi regulator, lalu cek spread beli–jualnya sebelum menyetor rutin.
Satu catatan penutup. ETF emas bukan deposito dan tidak menjanjikan imbal hasil tetap. Harga unitnya dapat naik maupun turun. Emas dalam bentuk apapun sebaiknya berperan sebagai pelengkap portofolio, bukan pengganti dana darurat.
Dahulukan dana darurat 3–6 kali pengeluaran bulanan di instrumen likuid, baru bicara alokasi emas. Dan sebelum memilih satu ETF, bandingkan harga pasar terhadap NAB, spread bid-offer, volume transaksi, komposisi portofolio, dan biaya bukan hanya melihat harga unit yang paling murah.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda