Informasi Artikel

Penulis Artikel

Dian Savitri

Pernahkah Anda merasa ingin langsung checkout belanjaan saat sedang merasa emosi atau penuh tekanan? Jika iya, Anda tidak sendiri. Fenomena ini sering dikenal dengan istilah emotional spending atau retail therapy, dan merupakan bentuk belanja impulsif yang dipicu oleh kondisi emosional tertentu, terutama stres.

Ketika sedang stres entah karena pekerjaan, masalah keluarga, atau sekadar lelah menjalani hari, emosi kita menjadi lebih mudah meledak. Dalam kondisi ini, otak mencari jalan pintas untuk merasa lebih baik, dan salah satu cara tercepat adalah dengan belanja. Aktivitas membeli sesuatu yang diinginkan akan melepaskan hormon dopamin (hormon bahagia) sebagai stress release

Menurut survei Katadata Insight Center tahun 2023 terhadap 1.200 responden muda di kota besar Indonesia, sekitar 62% responden mengaku pernah melakukan pembelian impulsif karena stres atau merasa bosan dan mayoritas menyebut alasan “ingin memperbaiki suasana hati”. Menariknya, platform yang paling sering digunakan untuk belanja impulsif adalah marketplace dan media sosial.

 

Mengapa Stres Memicu Belanja Impulsif?


 

1. Otak Mencari Rasa Aman dan Nyaman

Ketika stres, otak manusia memproduksi hormon kortisol yang meningkatkan kecemasan dan ketegangan. Untuk mengimbangi efek ini, otak berusaha mencari “kebahagiaan instan”  (quick dopamine), sesuatu yang bisa memberikan rasa senang atau nyaman dalam waktu singkat. 

Aktivitas belanja, terutama membeli sesuatu yang diinginkan, memicu pelepasan hormon dopamin, yaitu hormon yang sama ketika kita merasa bahagia atau jatuh cinta. Belanja dalam kondisi stres menjadi bentuk pelarian emosional. Alih-alih mengatasi sumber stres, kita “menenangkan” diri dengan cara yang instan dan bisa dikontrol dengan membeli barang.

 

2. Kehilangan Kontrol Diri

Saat seseorang mengalami tekanan, fungsi otak dapat menurun sehingga mengganggu otak untuk berpikir secara logis; bagian yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan pengendalian diri. Itulah sebabnya, ketika stres, kita lebih mudah berkata “ya” pada keinginan jangka pendek, meskipun itu bertentangan dengan tujuan keuangan jangka panjang.

 

3. Lingkungan Digital yang Mendukung Impulsif

E-commerce dan media sosial kini menempatkan tombol “Beli Sekarang” hanya sejauh satu klik. Algoritma mampu membaca emosi dengan memperkuat dorongan impulsif. Misalnya, saat sedang bad mood dan scrolling sosial media, Anda melihat influencer memamerkan “haul belanja” dengan nada menyenangkan. Otak langsung menangkap itu sebagai solusi cepat untuk meredakan stres.

 

Dampak Finansial yang Mungkin Terjadi

Meski terasa menyenangkan sesaat, belanja impulsif saat stres bisa berdampak buruk secara finansial:

  • Pengeluaran tak terencana yang bisa menumpuk dan mengganggu arus kas.
  • Rasa bersalah setelah belanja yang memperburuk kondisi emosi, menciptakan siklus stres-belanja lagi.
  • Meningkatkan risiko utang konsumtif, terutama jika menggunakan kartu kredit atau pay later.
  •  Rasa ketergantungan untuk quick release saat emosi datang kembali

Berdasarkan data dari kredivo tahun 2014 perihal pengguna paylater Indonesia menyebutkan bahwa, rentang usia 26–35 tahun masih menjadi kelompok dengan proporsi terbesar dalam penggunaan paylater. Usia tersebut merupakan rentang usia yang juga paling rentan terhadap stres pekerjaan dan tekanan sosial.

 

Bagaimana Menghindarinya?


 

1. Sadari Pola Emosi dan Pemicu

Langkah pertama adalah menyadari kapan Anda cenderung belanja secara impulsif. Apakah setelah rapat yang melelahkan? Saat merasa kesepian? Dengan mengenali pemicu emosional, Anda bisa mencari cara alternatif untuk meredakan stres, seperti jalan kaki, journaling, atau curhat keteman terdekat.

 

2. Tunda 24 Jam Sebelum Membeli

Teknik “delay 24 jam” membantu memberi jarak antara dorongan emosional dan tindakan. Simpan dulu barang dalam keranjang, lalu cek kembali esok harinya dengan kondisi emosi lebih netral.

 

3. Anggarkan Dana "Self-Rewards"

Belanja bukan musuh, tapi harus terukur. Sisihkan dana kecil setiap bulan sebagai “hadiah / reward” untuk diri sendiri. Ini membantu Anda tetap bisa menikmati belanja tanpa merasa bersalah atau merusak anggaran.

 

4. Ciptakan Sistem Proteksi

Gunakan pengingat atau aplikasi budgeting untuk membatasi pembelian. Beberapa aplikasi dapat menjadi reminder saat anggaran belanja telah menipis 

Stres memang tidak bisa dihindari, tapi cara kita meresponsnya bisa dikendalikan. Belanja impulsif mungkin terasa seperti solusi cepat, namun justru bisa memperbesar masalah jika dilakukan tanpa kesadaran. Mengelola stres secara sehat dan membangun kebiasaan finansial yang sadar adalah langkah penting menuju keseimbangan emosi dan keuangan.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

5.0
Pengelolaan Dasar

Metode Amplop: Cara Sederhana Membuat Pos Keuangan Keluarga

18 Januari 2026

Artikel Ahli
4.9
Pengelolaan Dasar

Kenapa Punya Penghasilan Besar Belum Tentu Bebas Finansial?

27 Juli 2025

Artikel Ahli
4.9
Pengelolaan Dasar

Cara Berutang yang Sehat, dan Tip Miliki BI Checking atau SLIK OJK yang Sehat

19 Februari 2024

4.9
Pengelolaan Dasar

5 Dasar Literasi Keuangan

24 Januari 2024

Berikan Pendapat Anda

5 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS