Salah satu metode sederhana mengelola keuangan adalah dengan membagi pemasukan ke dalam pos-pos khusus (envelope budgeting). Misalnya, setelah menerima gaji, pisahkan uang tunai ke amplop atau rekening terpisah sesuai kategori kebutuhan (misal kebutuhan pokok, hiburan, tabungan, dan lainnya).
Teknik ini sederhana dan langsung bisa diterapkan tanpa perlu aplikasi rumit. Tiap amplop diberi label kategori dan batas anggaran, sehingga bila uang di amplop habis, keluarga dapat berhenti berbelanja kategori tersebut hingga bulan berikutnya.
Contohnya, amplop diberi warna. Amplop untuk belanja bulanan diberi warna hijau, amplop untuk tabungan dan dana darurat diberi warna kuning, dan amplop untuk investasi jangka panjang diberi warna merah.
Sistem amplop budgeting membantu keluarga lebih sadar ke mana uang pergi setiap bulan, mencegah pengeluaran berlebihan, dan mendorong disiplin finansial
Baca Juga: Pengelolaan Penghasilan Suami-Istri: Harta, Penghasilan Bersama, dan Rencana Pensiun
Pencatatan Manual di Buku atau Table
Selain menggunakan metode amplop fisik, mencatat pemasukan dan pengeluaran secara manual di buku atau tabel sederhana juga terbukti efektif. Dengan buku kas atau notebook, setiap transaksi ditulis secara rinci mulai dari tanggal, keterangan, jumlah, hingga pos pengeluaran—sehingga pola pengeluaran dapat dipantau dari waktu ke waktu.
Pengalaman banyak keluarga menunjukkan bahwa pencatatan manual sering kali lebih konsisten dan mudah diingat dibandingkan aplikasi di ponsel. Menulis langsung membantu meningkatkan kesadaran terhadap setiap uang yang keluar. Bahkan, buku tulis biasa sudah cukup selama kolomnya disesuaikan dengan kebutuhan, seperti tanggal, uraian, debit, kredit, dan saldo. Untuk mempermudah perhitungan, penggunaan kalkulator sederhana juga sangat membantu.
Mencatat pos-pos keuangan di notes kecil atau buku kas membuat pembagian alokasi dana menjadi lebih jelas dan terkontrol, terutama bagi keluarga yang ingin disiplin tanpa bergantung pada teknologi.
Contoh Pos Keuangan Keluarga
Setelah pemasukan dan pengeluaran tercatat dengan rapi, langkah berikutnya adalah membagi keuangan ke dalam beberapa pos sesuai prioritas keluarga. Berikut contoh pos keuangan yang umum digunakan:
Kebutuhan Pokok
Pos ini mencakup belanja bulanan seperti sembako, makanan, listrik, air, gas, dan bahan bakar. Karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar, alokasinya biasanya paling besar, sekitar 40–50% dari total pendapatan, tergantung jumlah anggota keluarga.
Tagihan dan Kewajiban Rutin
Meliputi cicilan, biaya pendidikan anak, asuransi, serta tagihan rutin lainnya. Menempatkan kewajiban ini dalam satu pos khusus memudahkan pemantauan dan mencegah keterlambatan pembayaran.
Dana Darurat
Dana ini disiapkan untuk kebutuhan tak terduga seperti biaya kesehatan, perbaikan rumah, atau kehilangan pendapatan. Idealnya, dana darurat berjumlah 3–6 kali pengeluaran bulanan. Untuk mencapainya, keluarga dapat menyisihkan sekitar 10% pendapatan setiap bulan hingga target terpenuhi.
Tabungan dan Investasi
Pos ini ditujukan untuk tujuan jangka menengah dan panjang, seperti dana pendidikan anak, dana pensiun, atau pembelian rumah. Selain menabung, sebagian dana juga bisa dialokasikan ke investasi sederhana agar nilai uang berkembang.
Hiburan dan Kebutuhan Sekunder
Mencakup rekreasi, makan di luar, hobi, dan hiburan keluarga. Meski bukan prioritas utama, pos ini tetap penting agar keluarga dapat menikmati hasil kerja tanpa rasa bersalah. Alokasinya bisa sekitar 10–15% dari pendapatan.
Donasi, Zakat, atau Sedekah (Opsional)
Bagi yang ingin beramal secara rutin, pos ini dapat dialokasikan sekitar 5–10% dari pendapatan sesuai kemampuan dan keyakinan masing-masing.
Lain-lain atau Pengeluaran Tidak Terduga
Pos ini digunakan untuk kebutuhan musiman atau mendadak, seperti perbaikan kecil, pembelian pakaian, atau biaya tambahan lainnya. Menyisihkan 5–10% dana untuk kategori ini membantu menjaga stabilitas pos utama.
Pembagian pos keuangan di atas bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi serta prioritas setiap keluarga.
Baca Juga: Tips Cegah Boros Saat Gajian, Biar Bisa Nabung!
Praktik Penyusunan Anggaran Sederhana
Secara praktis, anggaran keluarga dapat dituangkan dalam bentuk tabel atau buku kas bulanan. Kolom yang digunakan bisa mencakup pendapatan, pengeluaran, tabungan, investasi, dan tujuan keuangan. Pada kolom pengeluaran, rincikan biaya rutin seperti belanja rumah, tagihan, transportasi, dan hiburan.
Dengan pencatatan ini, pasangan dapat memantau kondisi keuangan secara visual, termasuk mengetahui sisa anggaran yang masih bisa digunakan tanpa mengganggu kebutuhan pokok dan dana darurat.
Mengatur keuangan keluarga tanpa aplikasi tetap dapat dilakukan secara efektif melalui metode sederhana seperti amplop, buku catatan, atau tabel manual. Kunci utamanya adalah konsistensi dalam mencatat dan disiplin membagi uang sesuai prioritas. Cara ini telah membantu banyak keluarga lebih terkontrol, terhindar dari utang tak terduga, serta tetap bisa menabung meski penghasilan tidak selalu tetap.
Jika Anda masih mempunyai pertanyaan yang lain, jangan ragu silahkan berkonsultasi dengan yang Ahlinya di Fitur Tanya Ahli untuk mendapatkan saran yang tepat. Daftar kan diri Anda segera dan Login di Daya.id untuk mendapatkan infomasi dan tips-tips yang bermanfaat secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda