Tunjangan Hari Raya (THR) kerap menjadi momen istimewa bagi keluarga untuk memeriahkan Lebaran. Namun, tidak jarang sebagian dana THR terbuang untuk belanja konsumtif dan justru habis tanpa sisa. Menurut survei, hingga 90% pekerja mengalokasikan THR untuk berbelanja, sementara hanya sekitar 6,6% yang disisihkan untuk tabungan atau investasi. Padahal, dengan perencanaan keuangan yang matang, sisa THR dapat dimanfaatkan untuk tujuan jangka panjang yang lebih produktif. Artikel ini membahas alternatif penggunaan sisa THR keluarga – apakah sebaiknya masuk tabungan, dikembangkan lewat investasi, atau digunakan untuk proteksi (asuransi) – serta langkah sebelum dan sesudah Lebaran untuk mengelola keuangan dengan bijak.

Baca Juga: Cara Mengelola Bonus atau THR dengan Bijak agar Tidak Habis Percuma
Perencanaan Sebelum dan Sesudah Lebaran
Sebelum Lebaran, upayakan membuat rencana anggaran THR yang realistis. Tinjau kembali pengeluaran Lebaran tahun lalu untuk memperkirakan kebutuhan mudik, belanja kebutuhan pokok, zakat, dan lain-lain. Misalnya, hitung dana yang dibutuhkan untuk mudik, zakat, THR keluarga, dan belanja. Buat prioritas antara kebutuhan wajib (mudik, zakat, cicilan utang) dan skeinginan (gadget baru, liburan ekstra). Dengan memprioritaskan kebutuhan utama dan memperkirakan biaya Lebaran, kita dapat memperkecil pemborosan dan mengetahui perkiraan sisa THR yang akan didapat.
Setelah Lebaran berakhir, evaluasi kembali realisasi pengeluaran. Sisa THR yang ada harus diperlakukan sebagai modal masa depan. Ini berbeda dengan penggunaan THR biasa untuk konsumsi. Sebagian sisa ini seyogyanya ditujukan untuk tabungan, investasi, dan asuransi, bukannya kembali habis untuk keinginan jangka pendek. Dengan sikap hemat dan perencanaan post-Lebaran, sisa THR keluarga dapat berfungsi sebagai fondasi keuangan yang lebih sehat di tahun-tahun mendatang.
Menabung untuk Cadangan Dana Darurat
Salah satu langkah bijak adalah memasukkan sisa THR ke dalam tabungan atau deposito berjangka. Menurut para ahli keuangan, menabung di instrumen yang aman penting agar uang tetap tumbuh (dengan bunga) dan siap dipakai saat darurat. Roojai, penyedia asuransi digital, mencontohkan bahwa sisa THR bisa dialokasikan ke tabungan biasa, deposito, atau tabungan berjangka. Keuntungan menabung adalah menjaga likuiditas kita bisa mengambil dana sewaktu-waktu untuk keperluan mendesak yang tak terduga (misalnya biaya kesehatan, perbaikan rumah, atau kebutuhan mendadak lainnya).
Misalnya, jika sisa THR cukup besar, buka deposito berjangka untuk mendapatkan bunga lebih tinggi daripada tabungan biasa. Atau, perhatikan suku bunga rekening tabungan Flexi di bank digital yang kini bersaing ketat, sehingga dana menganggur bisa tetap bertambah sedikit demi sedikit. Ringkasnya, menabung membangun “jaring pengaman” finansial: sebuah langkah konservatif dengan risiko sangat rendah, sesuai untuk dana darurat atau tujuan jangka pendek.
Berinvestasi untuk Pertumbuhan Dana
Sisa THR juga dapat dipakai untuk investasi, terutama bagi keluarga yang sudah memiliki tabungan darurat yang memadai. Dengan berinvestasi, uang THR bisa berkembang lebih besar dari laju inflasi. Pilih instrumen investasi sesuai profil risiko keluarga: mulai dari reksa dana pasar uang atau obligasi (risiko rendah) hingga saham atau reksa dana saham (risiko tinggi). Roojai menyarankan menginvestasikan sisa dana THR ke instrumen seperti saham, reksa dana, atau emas. IDN Times mengulang kiat serupa, mengingatkan berbagai pilihan investasi seperti saham dan emas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan modal keluarga.
Sebagai gambaran alokasi, Manulife menyebutkan bahwa idealnya 20–30% dari THR dialokasikan untuk investasi jangka panjang. Misalnya, jika sisa THR Rp2 juta, sekitar Rp400–600 ribu dapat diinvestasikan. Investasi jangka pendek seperti deposito atau reksa dana pasar uang bisa dipilih untuk kebutuhan 1 tahun ke depan. Untuk tujuan lebih panjang (pendidikan anak, uang muka rumah), investasi saham atau properti bisa dipertimbangkan karena potensinya mengungguli inflasi dalam 5–10 tahun. Dengan menanamkan sebagian dana THR ke investasi, kita berharap memperoleh keuntungan di masa depan sekaligus mengembangkan modal agar lebih produktif.
Memperkuat Proteksi (Asuransi) Keluarga
Tidak kalah penting, sebagian sisa THR bisa digunakan untuk proteksi melalui asuransi. Jika keluarga belum memiliki asuransi memadai, dana THR dapat dipakai untuk memperkuat perlindungan. Misalnya, upgrade asuransi kesehatan atau menambah asuransi jiwa/penyakit kritis bagi kepala keluarga. Allianz Indonesia menegaskan bahwa setelah kebutuhan lebaran terpenuhi, salah satu prioritas berikutnya adalah melengkapi proteksi asuransi keluarga. THR bisa dimanfaatkan untuk membeli asuransi kesehatan ekstra atau asuransi jiwa, terutama bagi yang belum punya polis sama sekali. Roojai bahkan mengusulkan penggunaan sisa THR untuk membeli asuransi kendaraan jika prioritas lain sudah tercukupi.
Dengan memiliki proteksi asuransi, keluarga terlindungi dari risiko finansial tak terduga (seperti kecelakaan, sakit kritis, atau kerugian aset) tanpa harus menguras tabungan. Seperti dijelaskan IDN Times, jika kendaraan mengalami kecelakaan, biaya perbaikan akan ditanggung perusahaan asuransi, sehingga tabungan tidak terganggu. Dengan kata lain, asuransi berperan memindahkan risiko ke pihak ketiga. Beberapa produk asuransi juga menggabungkan investasi (unit link), memberikan manfaat ganda: proteksi sekaligus menumbuhkan dana melalui hasil investasinya. Namun, pastikan premi asuransi tidak membebani, dan pilih polis sesuai kebutuhan (kesehatan, jiwa, perlindungan aset) untuk keluarga.
Baca Juga: Strategi Bijak Agar Uang THR Berdampak Lebih Lama
Contoh Alokasi Sisa THR
Beberapa praktisi keuangan menyarankan pembagian persentase tertentu dari dana cadangan keluarga ke dalam ketiga kategori di atas. Misalnya, Novy Agrina dari Popmama menuliskan agar “sisa uang” keluarga dialokasikan 25–30% untuk tabungan, investasi, dan asuransi. Sebagai contoh konkret: sekitar 5% untuk tabungan aman, 15% untuk investasi, dan 5–10% untuk proteksi tambahan. Great Eastern Life juga menekankan menabung minimal 30% dari THR sebagai dana darurat, lalu alokasikan sisanya ke investasi jangka panjang seperti emas, reksa dana, atau asuransi yang menjanjikan perlindungan finansial.
Contoh perhitungan praktis: katakan keluarga mendapat THR Rp5 juta dan setelah kebutuhan pokok sisanya Rp3 juta. Dari Rp3 juta tersebut, bisa ditabung 500 ribu (≈17%), diinvestasi 1 juta (≈33%), dan 1 juta lagi untuk asuransi atau proteksi lain. Persentase tersebut fleksibel, menyesuaikan kondisi keuangan masing-masing keluarga. Intinya, sisa THR tidak hanya dihabiskan, tetapi dibagi sesuai prioritas: dana darurat, pertumbuhan, dan proteksi.
Sisa THR keluarga sebaiknya tidak dihabiskan tanpa arah, melainkan dikelola secara bijak untuk membangun keuangan yang lebih sehat. Dengan perencanaan sebelum Lebaran (menganggarkan belanja pokok, utang, zakat) dan evaluasi pengeluaran setelahnya, kita dapat memperkirakan berapa dana yang tersisa. Dana tersebut idealnya dibagi dalam tiga aspek: tabungan untuk cadangan darurat, investasi untuk mengembangkan dana jangka panjang, dan proteksi (asuransi) untuk menghalau risiko keuangan. Saran ahli keuangan menunjukkan proporsi sekitar 25–30% THR disisihkan untuk ketiga hal tersebut secara bertahap. Melalui langkah ini, sisa THR tidak hanya menjadi pengeluaran sesaat, melainkan modal produktif dan perlindungan bagi masa depan keluarga. Dengan demikian, kebiasaan mengelola sisa THR dari sekarang akan semakin menyejahterakan keuangan keluarga di kemudian hari.
Jika Anda masih mempunyai pertanyaan yang lain, jangan ragu silahkan berkonsultasi dengan yang Ahlinya di Fitur Tanya Ahli untuk mendapatkan saran yang tepat. Daftar kan diri Anda segera dan Login di Daya.id untuk mendapatkan infomasi dan tips-tips yang bermanfaat secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda