Informasi Artikel

Dirilis

28 September 2026

Penulis Artikel

Anastasia Ekachandra


Pengusaha

Diana Komara

Jenis Usaha

dokter umum, project leader di perusahaan skincare, dan pegiat olahraga

Tag

dr. Diana Komara menjalani berbagai peran dalam kesehariannya. Ia merupakan dokter umum, pernah mengelola klinik estetik, dan kini bekerja di dunia korporasi sebagai Project Leader di sebuah perusahaan skincare. Di tengah padatnya aktivitas tersebut, ada satu kebiasaan yang terus ia pertahankan, yaitu berolahraga.

Bagi Diana, olahraga bukanlah hal baru. Sejak duduk di bangku SD dan SMP, ia sudah menyukai berbagai aktivitas fisik. Namun, kebiasaan tersebut sempat mengalami pasang surut. Saat SMA, menjalani pendidikan kedokteran, hingga awal kariernya, sebagian besar waktu Diana tersita untuk belajar, praktik, dan berbagai tugas di luar daerah. Ia tetap berolahraga, tetapi belum melakukannya secara konsisten.

Baca juga: Ide Aktivitas Fisik untuk Usia 50+


 

Mulai Lebih Serius Sejak Mengenal Komunitas Lari

Titik awal Diana lebih termotivasi berolahraga terjadi sekitar 2014. Saat itu, teman-temannya dari Bandung yang juga lulusan kedokteran membentuk komunitas lari bernama KedodoRun, singkatan dari Kelompok Dokter Doyan Run.

Diana merasa terbantu karena ada teman yang memiliki minat serupa. Meski belum langsung konsisten, komunitas itu membuatnya lebih semangat. Beberapa tahun kemudian, sekitar 2017 hingga 2019, ia mulai ikut latihan dan race. Dari sana, olahraga perlahan berubah menjadi kegiatan yang punya arah. “Pada saat itu cukup termotivasi karena merasa, oh ada temannya nih,” ujar Diana.

 

Alasan Ingin Tetap Sehat dan Berdaya


Motivasi Diana untuk menjaga kesehatan semakin kuat setelah melihat ibunya mengalami autoimun. Pengalaman mendampingi sang ibu membuat Diana sadar bahwa kesehatan perlu dijaga dengan serius. Apalagi, ia juga memiliki kondisi autoimun dan beberapa alergi obat.

Diana tidak ingin tubuhnya membuat ia bergantung sepenuhnya pada orang lain. Baginya, olahraga adalah salah satu cara agar ia tetap bisa berdaya, produktif, dan menjaga kekuatan tubuh. “Saya harus memaintain tubuh saya. Saya harus tetap sehat,” katanya.

Di usia 50 tahunan, Diana juga mulai lebih memperhatikan kekuatan otot. Ia menyadari bahwa bertambahnya usia dapat membuat massa otot menurun. Karena itu, targetnya bukan hanya berlari lebih jauh, tetapi juga menjaga tubuh tetap kuat. “Saya pengen saya tetap berdaya walaupun di usia saya sekarang,” ujarnya.

 

Lari, Sepeda, dan Strength Training

Saat ini, Diana lebih fokus pada lari. Dalam satu minggu, ia biasanya menjalani tiga kali latihan lari, satu kali bersepeda sebagai cross-training, dan tiga kali strength training di rumah. Ia menyiapkan alat latihan sendiri agar lebih mudah bergerak tanpa harus pergi ke gym.

Diana lebih menyukai olahraga luar ruangan. Ia biasa berlari sebelum bekerja. Baginya, rute sederhana pun bisa terasa menyenangkan selama bisa menikmati udara pagi, suara burung, atau suasana jalan yang berbeda.

Durasi latihannya menyesuaikan menu. Kadang hanya 30 menit, kadang satu jam, dan saat akhir pekan bisa sampai dua jam jika ada long run.

 

Konsistensi Perlu Dibentuk Perlahan

Menurut Diana, banyak orang berhenti berolahraga karena hanya mengandalkan motivasi di awal. Padahal, motivasi bisa naik turun. Karena itu, ia melihat olahraga perlu dibentuk menjadi kebiasaan.

Diana menyebut bahwa konsistensi bisa mulai terbentuk setelah dilakukan terus-menerus sekitar 180 hari. Pada masa awal, seseorang mungkin masih perlu memakai alasan tertentu agar mau bergerak, misalnya ingin lebih sehat, ingin lebih percaya diri, atau ingin mencapai target pribadi. “Setelah 180 hari itu menjadi otomatisasi, menjadi suatu kebiasaan, menjadi sesuatu yang dicintai,” jelas Diana.

 

Belajar dari Jenuh dan Cedera

Perjalanan Diana juga tidak selalu lancar. Setelah mengikuti maraton pada 2023, ia sempat mengalami fase jenuh. Latihan maraton selama enam bulan terasa berat karena harus membagi waktu dengan pekerjaan, menjaga nutrisi, menyiapkan biaya, dan mengelola emosi.

Setelah maraton selesai, Diana sempat kehilangan keinginan untuk ikut race. Ia tetap berlari, tetapi tanpa arah yang jelas. Perlahan, semangat itu kembali setelah ia melihat suasana race, berkumpul dengan teman, dan merasa senang mendapatkan medali.

Diana juga pernah mengalami cedera karena tidak mengikuti menu latihan. Ia pernah berlari terlalu cepat, terlalu sering, bersepeda berlebihan, dan mengangkat beban yang belum sesuai kemampuan tubuhnya. “Listen to your body beneran. Pada saat rest ya rest aja. Itu nggak akan mengurangi performance,” katanya.

 

Makan dan Tidur Tetap Perlu Dijaga

Untuk pola makan, Diana tidak menerapkan aturan yang terlalu ketat. Ia menghitung kebutuhan kalori, protein, dan suplemen yang dibutuhkan, tetapi tetap memberi ruang untuk menikmati makanan favorit. Ia menyebut prinsip 80 : 20 sebagai pola yang lebih cocok baginya.

80% mengonsumsi makanan sehat sesuai kebutuhan tubuh, dan 20% mengonsumsi ma-kanan favorit seperti jajanan, kopi kekinian, dan sebagainya.

Pola tidur menjadi tantangan lain. Diana mengakui pernah tidur hanya empat sampai lima jam karena sulit berhenti membuka media sosial pada malam hari. Dampaknya terasa pada tubuh, terutama saat harus latihan atau bekerja keesokan harinya. Karena itu, ia mulai mencari cara agar tidurnya lebih baik dan tubuh punya waktu pemulihan yang cukup.

Baca juga: Olahraga 15 Menit di Rumah, Pilihan untuk Pemula

 

Olahraga yang Membuat Hidup Lebih Teratur

Setelah rutin berolahraga, Diana merasakan beberapa perubahan. Ia merasa lebih disiplin, lebih mampu mengatur emosi, lebih bahagia, lebih fokus saat bekerja, dan memiliki lebih banyak teman serta kesempatan baru.

Namun, ia tidak menyarankan orang baru langsung mengejar target besar. Menurutnya, olahraga harus dimulai dari hal yang disukai, dilakukan perlahan, dan disesuaikan dengan kemampuan tubuh. “Harus start slow, semuanya start slow,” kata Diana.

Kisah Diana menunjukkan bahwa hidup sehat tidak harus dimulai dengan cara yang ekstrem. Yang penting adalah memilih olahraga yang menyenangkan, mengenali kemampuan tubuh, menjaga makan dan istirahat, lalu melakukannya cukup lama sampai menjadi kebiasaan.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait informasi kesehatan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Penilaian :

5.0

1 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

Berbagai cerita sukses member Daya lainnya

5.0
Sunarti

Mengabdi kepada Masyarakat di Masa Pensiun

26 Oktober 2018

5.0
Widi Dwi Asiarini, S.T., M.KM

Terus Bergerak di Masa Pandemi

05 April 2021

5.0
Britania Theresa

Sehat Bukan Soal Angka: Kisah Dokter Gigi Merawat Diri di Tengah Kesibukan Praktik

31 Juli 2026

5.0
Dave Rio

Dave Rio, Hidup Sehat Bukan Hanya Perubahan Sesaat

12 Juni 2025

Berikan Pendapat Anda