Jam kerja dokter gigi tidak selalu berakhir saat klinik tutup. Ada catatan pasien yang harus diselesaikan, persiapan untuk esok hari, dan terkadang jadwal yang baru benar-benar selesai menjelang tengah malam. Di tengah semua itu, Britania Theresa, yang akrab disapa Tesa, tetap meluangkan waktu untuk berlari setiap pagi.
Tesa adalah dokter gigi yang berpraktik di salah satu klinik di Jakarta. Rutinitas hariannya padat, tetapi ada satu hal yang hampir tidak pernah ia lewatkan: olahraga. Lari pagi, naik gunung, hingga menyelam di perairan Indonesia timur, semuanya ia jalani bukan sebagai pelarian dari pekerjaan, melainkan sebagai bagian dari cara ia merawat dirinya sendiri.
Baca juga : Lingkungan Sehat, Kunci Kesehatan Mental Pribadi
Warisan Kebiasaan dari Keluarga
Kecintaan Tesa pada olahraga tidak tumbuh dengan sendirinya. Ayahnya adalah seorang perenang, dan kebiasaan aktif itu menurun ke Tesa sejak ia masih kecil. Bergerak, bagi keluarganya bukan pilihan, melainkan bagian dari keseharian.
Tesa pun tumbuh dengan mengikuti jejak sang ayah. Ia menekuni renang dari SD hingga SMP, sampai sebuah kondisi medis mengharuskannya berhenti total dari kolam renang.
Terlalu sering kemasukan air saat berenang membuat telinganya terinfeksi. Kondisi itu dikenal sebagai otitis media infeksi pada telinga tengah yang memengaruhi keseimbangan dan memicu vertigo. Atas rekomendasi dokter THT, Tesa dilarang berenang selama hampir sepuluh tahun agar gendang telinganya tidak semakin rusak. Seiring berjalannya waktu, kondisi telinganya berangsur membaik. Kini ia sudah bisa kembali beraktivitas di air, meski di kedalaman tertentu telinganya masih sesekali berdengung , tapi jauh lebih baik dari sebelumnya berkat kontrol rutin ke dokter.
"Dulu aku bermainnya lumayan agresif, suka masuk air terus jadinya infeksi. Sempat vakum dari air sekitar sepuluh tahun, abis itu baru mulai lagi."
Larangan itu tidak membuatnya berhenti bergerak. Justru dari situ Tesa menemukan bentuk-bentuk olahraga lain yang cocok untuknya. Ada alasan sederhana yang ia pegang sampai sekarang: kalau terlalu lama tidak berolahraga, badannya terasa pegal-pegal dan tidak nyaman. Selain itu, sebelum memulai aktivitas apa pun, ia selalu butuh menghirup udara luar terlebih dulu semacam ritual kecil yang membantunya siap menjalani hari.
Lari: Bukan Soal Angka, Tapi Soal Kepala
Kini, lari menjadi olahraga utama Tesa. Lima hingga enam hari dalam seminggu, ia sudah berada di luar rumah sebelum aktivitas kerja dimulai, biasanya mulai pukul enam pagi. Durasi larinya berkisar antara 45 menit hingga satu setengah jam, dengan jarak minimal sekitar tujuh kilometer. Untuk lokasi, Tesa selalu memilih tempat terbuka. Gelora Bung Karno (GBK) menjadi favoritnya karena luas dan segar.
Tapi perjalanan Tesa bersama lari tidak seperti sekarang. Dulu, ia mengaku sangat ambisius soal angka.
"Dulu aku ambis banget, sehari minimal 15 kilo. Aku mengukur pencapaianku berdasarkan jarak, berdasarkan kecepatan."
Pola pikir itu berubah setelah ia jatuh sakit. Sebuah kondisi yang memengaruhi pernapasannya memaksanya untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi ulang hubungannya dengan olahraga. Sejak pemulihan itulah ia memutuskan untuk berlari dengan cara yang berbeda.
"Aku switch ke mindful running. Aku nggak mau lari hanya karena lihat angka pace atau kilometer. Aku pengen lari lagi, tapi dengan no pressure."
Alasan Tesa memilih lari bukan semata soal kebugaran fisik. Ia menyadari bahwa saat berlari, tubuhnya melepaskan dopamin, hormon yang berperan dalam mengatur suasana hati dan emosi. Efeknya nyata: pikirannya terasa lebih ringan, dan emosinya lebih terkontrol sepanjang hari.
"Kepalaku tuh overthinking. Ketika lari, aku fokus ke pace dan ke napas. Jadi aku nggak overthinking. Lari itu bisa meringankan kepala."
Itulah mengapa Tesa selalu memilih lari di luar ruangan. Paparan udara segar dan sinar matahari pagi bukan sekadar bonus pemandangan. Keduanya membantu tubuh meregulasi hormon secara alami, sehingga suasana hati lebih stabil dan tidak mudah terguncang oleh tekanan dari luar.
![]()
Dari Puncak Gunung ke Dasar Laut
Di luar rutinitas lari hariannya, Tesa juga aktif mendaki gunung dan menyelam. Kedua aktivitas ini ia lakukan beberapa kali dalam setahun, bergantian sesuai jadwal dan kondisi.
Untuk mendaki, Tesa sudah menjejak sejumlah gunung di Indonesia. Ia pernah mendaki Gunung Prau, dan Gunung Rinjani. Gunung Rinjani bahkan sudah ia daki dua kali. Yang paling berkesan adalah pendakian terakhirnya ke Everest Base Camp di Nepal, sebuah pencapaian yang ia raih.
Sementara ketertarikannya pada dunia bawah laut bermula dari perjalanan ke wilayah Indonesia timur. Saat pertama kali tiba di sana, ia hanya berniat menikmati pemandangan darat. Tapi orang-orang setempat mengingatkannya bahwa perjalanan jauh itu akan terasa kurang lengkap tanpa menyentuh lautnya.
"Kamu sayang kalau udah jauh segini, tapi cuma lihat daerahnya doang. Padahal surga di laut dan di dalamnya itu lebih bagus."
Nasihat itu Tesa pegang sampai sekarang. Setiap kali berkunjung ke wilayah timur Indonesia, ia selalu menyempatkan diri untuk menyelam. Perairan Maluku, Nusa Tenggara Timur, hingga Alor sudah pernah ia jelajahi.
Tesa belum pernah mengambil lisensi menyelam secara formal. Ia belajar langsung dari pemandu lokal yang berpengalaman di lapangan.
Mendapat lisensi selam secara resmi masih menjadi salah satu target yang ingin Tesa wujudkan ke depannya.
![]()
Tantangan yang Paling Sulit: Tidur dan Makan
Dengan jadwal praktik yang berjalan dari sore hingga malam, tantangan terbesar Tesa bukan soal stamina fisik melainkan soal mengatur waktu makan dan kualitas istirahat.
Karena praktik baru selesai menjelang malam, Tesa kerap baru bisa makan setelah jam sembilan malam. Bukan karena tidak mau makan lebih awal, tapi karena selama menangani pasien, makan memang tidak bisa dilakukan. Waktu tidurnya pun ikut mundur bisa sampai pukul dua dini hari sebelum kemudian bangun pagi lagi untuk berlari.
"Tidur belum tentu benar-benar nyenyak. Jadwalku tidak teratur, jadi kualitas tidurnya pun belum selalu bagus. Itu yang paling susah dikontrol."
Untuk makan, Tesa tidak menerapkan pantangan ketat. Ia menganut prinsip yang sudah ditanamkan keluarganya sejak kecil: makan secukupnya, tidak berlebihan, dan pastikan ada karbohidrat, protein, serta sayuran di setiap piring.
"Aku nggak selalu strict. Tapi dari kecil diajarin untuk nggak makan sampai terlalu kenyang. Jadi kayak makan 80% perut penuh."
Tesa juga tidak melarang dirinya menikmati makanan bersama teman-teman. Baginya, bersosialisasi adalah bagian dari hidup sehat itu sendiri. Yang ia lakukan hanya memastikan ada keseimbangan kalau satu hari makan lebih banyak dari biasanya, esoknya ia kembali ke porsi normalnya.
Hidup Sehat Bukan Soal Angka
Dulu, Tesa mengukur kesehatannya dari angka-angka: berapa kilometer yang sudah ditempuh, dan seberapa cepat pacenya. Ia mengakui bahwa pola pikir itu sempat membuatnya terlalu keras pada diri sendiri.
Setelah melewati masa sakit dan pemulihan, cara pandangnya bergeser.
"Hidup sehat adalah ketika tubuh, jiwa, dan roh kamu itu sehat. Fisik, mental, spiritual semuanya harus seimbang. Kalau badan sehat tapi stres dan tidak mindful, menurut aku itu juga belum sehat."
Pergeseran itu terasa nyata dalam cara Tesa menjalani olahraga sekarang. Lari tanpa terlalu memperhatikan angka, mendaki tanpa tekanan target puncak, menyelam hanya karena ingin menjelajah. Semua dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan untuk memenuhi standar tertentu.
Pesan untuk yang Sibuk tapi Ingin Tetap Sehat
Kepada siapa pun yang merasa tidak punya waktu untuk berolahraga karena pekerjaan, Tesa punya satu prinsip yang selalu ia pegang.
"Seize the day. Kita hidup di budaya yang serba hustle. Tapi jangan sampai kesibukan itu membuat kita kehilangan diri sendiri."
Menurutnya, menjaga kesehatan bukan tentang menemukan waktu luang yang sempurna. Melainkan tentang kesadaran bahwa kesehatan baik fisik maupun mental adalah sesuatu yang harus disengaja, bukan ditunggu.
Ia juga mengingatkan pentingnya lingkungan yang mendukung. Bergaul dengan orang-orang yang punya energi positif, yang mendorong untuk bergerak dan berkembang, adalah bagian dari ekosistem sehat yang sering kali luput dari perhatian.
"Jangan sampai kita kehilangan diri sendiri. Harus disempatkan — bukan tidak ada waktu, tapi memang harus disempatkan."
Baca juga : Menjaga Kesehatan Walau Hidup Super Sibuk dan Multi Fokus
Penutup
Tesa tidak pernah menganggap olahraga sebagai beban. Baginya, bergerak aktif adalah cara ia mengenal dirinya lebih dalam sejauh apa tubuhnya bisa melangkah, setenang apa pikirannya bisa diajak berdamai.
Dari pengalaman Tesa, ada beberapa hal yang bisa menjadi pelajaran:
- Olahraga yang paling berhasil dipertahankan adalah yang benar-benar dinikmati, bukan yang dipaksakan.
- Kesehatan bukan hanya soal fisik mental dan keseimbangan emosi sama pentingnya.
- Meski jadwal padat, olahraga bisa tetap berjalan kalau sudah menjadi kebiasaan, bukan pilihan.
- Pola makan tidak harus ketat yang penting konsisten dan sadar porsi.
- Istirahat yang berkualitas sama pentingnya dengan latihan fisik itu sendiri.
Di balik semua aktivitasnya, Tesa menyimpan harapan yang sederhana namun dalam. Ia pernah menulis beberapa buku, dan dari sana ia mulai memikirkan soal jejak apa yang akan ia tinggalkan setelah ia tidak ada lagi.
"Aku cuma berharap setiap hari bisa dilalui dengan kesadaran. Dan hidupku bukan cuma untuk diriku sendiri. Walaupun nanti aku sudah tiada, namaku sudah terlupakan — itu tidak apa-apa. Yang penting, apa yang aku tinggalkan di dunia ini bisa memberi manfaat dan cahaya positif buat orang lain."
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait informasi kesehatan lainnya, segera log inkedaya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Berikan Pendapat Anda