Ada orang yang menemukan makna hidup dari pekerjaan utama, ada juga yang menemukannya dari hal yang ia lakukan setelah jam kerja selesai. Dan bagi Romy, salah satu sumber makna itu datang dari ruang kelas sederhana, tempat ia mengajar fisika untuk anak-anak yang ingin tetap sekolah meski keadaan keluarga tidak selalu mudah.
Romy adalah seorang wiraswasta. Di luar pekerjaan, ia juga aktif berolahraga, terutama lari dan hiking. Pada hari biasa, ia biasa berlari sekitar 5 sampai 7 kilometer, dan saat akhir pekan, jaraknya bisa lebih panjang, sekitar 10 sampai 15 kilometer. Ia juga pernah melakukan perjalanan ke Everest Base Camp dan Island Peak di Nepal. Namun, di antara banyak aktivitas itu, ada satu peran yang sudah lama ia jalani dan sangat dekat dengan hatinya: menjadi guru sukarela di SMP Mandiri.
Setiap Jumat, Romy datang mengajar fisika untuk siswa kelas 7. Sekolah tersebut berada di sekitar Bintaro dan dibangun untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu di wilayah Bintaro, Pondok Aren, Jombang, dan sekitarnya.

Baca juga: Bangkit Lewat Bahasa Isyarat: Perjalanan Callan Menemukan Kesehatan Mentalnya
Dari Garasi Kecil Menjadi Sekolah
SMP Mandiri tidak lahir dari bangunan besar atau fasilitas lengkap. Pada awalnya, kegiatan belajar dimulai dari garasi salah satu guru. Saat itu, hanya ada beberapa anak yang ingin bersekolah, tetapi terkendala biaya dan tidak punya banyak pilihan.
Dari situ, Romy bersama teman-temannya mulai ikut membantu. Sekolah ini berkembang secara perlahan. Bangunannya pernah berdiri di tanah pinjaman, dengan ruang belajar yang dibuat dari bahan sederhana karena tidak boleh dibangun permanen.
Meja, kursi, papan tulis, dan perlengkapan belajar juga banyak berasal dari sumbangan. Meski serba terbatas, sekolah tetap berjalan karena ada orang-orang yang percaya bahwa anak-anak tersebut berhak mendapat kesempatan belajar.
“Awalnya memang sangat sederhana,” cerita Romy.
Kini, SMP Mandiri sudah berjalan sekitar 16 tahun. Jumlah siswanya sekitar 60 anak, dengan masing-masing tingkat berisi kurang lebih 20 murid. Jumlah ini tidak dibuat terlalu banyak karena sekolah ingin memastikan bantuan pendidikan benar-benar tepat sasaran.
![]()
Sekolah Gratis yang Dijaga Bersama
Sejak awal, SMP Mandiri berjalan dari donasi. Anak-anak tidak dikenakan biaya sekolah. Mereka juga dibantu seragam dan makan siang. Bagi para murid, bantuan seperti ini bukan sekadar fasilitas tambahan, tetapi alasan mereka masih terus bertahan.
Sebelum menerima siswa baru, pihak sekolah melakukan survei ke rumah calon murid. Tujuannya untuk melihat langsung kondisi keluarga dan memastikan bahwa anak yang diterima memang membutuhkan bantuan.
Para guru di sekolah ini juga merupakan relawan. Tidak ada gaji. Bahkan, beberapa guru kadang ikut membantu dengan uang pribadi. Bagi Romy, hal ini menunjukkan bahwa sekolah tersebut bertahan bukan karena satu orang saja, melainkan karena banyak pihak yang mau menjaga keberlangsungannya.
Saat ini, ada sekitar 40 guru yang terlibat, dengan 20 sampai 25 guru yang aktif. Banyak di antaranya berasal dari lingkungan pertemanan Romy, termasuk teman lari dan rekan kerja.

Pertanyaan yang Membekas
Keterlibatan Romy dalam dunia pendidikan sukarela bermula dari sebuah percakapan yang sulit ia lupakan. Suatu hari, seseorang bertanya, apakah ia memiliki anak asuh. Pertanyaan itu membuat Romy berpikir ulang tentang manfaat yang sudah ia berikan untuk orang lain.
Saat itu, Romy merasa hidupnya sudah berjalan cukup baik. Ia bekerja, memiliki keluarga, dan menyekolahkan anaknya. Namun, pertanyaan tersebut membuka kesadaran bahwa hidup tidak hanya tentang mencukupi keluarga sendiri.
Tak lama setelah itu, ia bertemu dengan salah satu orang yang sejak awal membuka ruang belajar untuk anak-anak di garasi. Dari pertemuan itu, Romy mulai ikut terlibat, mengajar, dan perlahan menjadikan sekolah sebagai bagian penting dari hidupnya.
Tidak Semua Tantangan Ada di Buku Pelajaran
Mengajar di SMP Mandiri membuat Romy melihat bahwa persoalan anak-anak tidak berhenti di ruang kelas. Banyak murid datang dengan cerita hidup yang berat. Ada yang harus membantu orang tua bekerja, ada yang harus mencari uang, ada yang kondisi keluarganya tidak stabil, dan ada yang hampir berhenti sekolah.
Bagi Romy, tantangan terbesar sering kali bukan pada kemampuan anak memahami pelajaran, tetapi pada kondisi di sekitar mereka. Ada murid yang sebenarnya punya potensi, namun diminta keluarga untuk berhenti sekolah. Ada juga anak yang sulit belajar karena harus ikut mencari nafkah hingga larut malam.
Karena itu, sekolah tidak hanya mengajar murid. Sekolah juga berusaha menjalin komunikasi dengan keluarga. Orang tua atau wali murid rutin diundang untuk berdiskusi agar mereka memahami pentingnya pendidikan dan tidak menarik anak keluar dari sekolah begitu saja.
Mengajar yang Menguatkan Diri Sendiri
Meski menghadapi banyak kisah berat, Romy tidak pernah menjadikan kegiatan mengajar sebagai beban. Justru dari sekolah itulah ia merasa banyak belajar.
Ketika pekerjaan sedang sulit atau usaha tidak selalu berjalan sesuai harapan, bertemu anak-anak membuat Romy melihat hidup dengan sudut pandang yang lebih luas. Ia menyadari bahwa ada banyak orang yang perjuangannya jauh lebih berat, tetapi tetap berusaha berjalan.
“Saya banyak belajar hidup dari mereka,” ujar Romy.
Bagi Romy, mengajar menjadi semacam ruang untuk menata hati. Anak-anak itu mengajarkannya tentang ketahanan, rasa syukur, dan keberanian untuk tetap berjuang meski keadaan tidak ideal.
Baca juga: Kesehatan Fisik atau Mental? Kisah Joshua Membuktikan Keduanya Penting!
Harapan agar Anak-anak Bisa Melangkah Lebih Jauh
Romy masih memiliki mimpi untuk SMP Mandiri. Salah satunya adalah memiliki jenjang SMA. Menurutnya, lulusan SMP masih memiliki keterbatasan untuk bekerja, sehingga pendidikan lanjutan menjadi sangat penting.
Selain itu, ia berharap sekolah memiliki dana cadangan yang cukup untuk menjaga biaya operasional selama tiga tahun ke depan. Dengan begitu, anak-anak yang sudah diterima di kelas 7 dapat dipastikan tetap belajar sampai lulus kelas 9.
Kisah Romy menunjukkan bahwa gaya hidup bermakna tidak hanya lahir dari tubuh yang aktif, tetapi juga dari hati yang mau peduli. Lewat lari, hiking, mengajar, dan membangun sekolah bersama para relawan, Romy membuktikan bahwa hidup bisa terasa lebih penuh ketika seseorang tidak hanya bergerak untuk dirinya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi orang lain.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait informasi kesehatan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Berikan Pendapat Anda