Karyawan Sekaligus Pengusaha, Kenapa Tidak?

Dirilis

17 Desember 2018

Penulis

Tim Penulis Daya Tumbuh Usaha

Pengusaha

Megasari Jamilah

Jenis Usaha

Happy Hana Rice Bowl

Berawal dari blog di internet, Mega Sari Jamilah dan suami akhirnya bisa memiliki kafe sendiri. Bagaimana ceritanya?

Mega adalah salah seorang karyawati bank di Jakarta. Sementara suaminya, Dior, adalah seorang digital marketer. Sejak 2010, mereka biasa menyalurkan minat terhadap topik memasak dan menyicipi berbagai makanan, dan mengulasnya dalam bentuk tulisan atau cerita di blog atau akun media sosial.  

Ternyata kebiasaan mereka ini mendapat respon baik dari pelaku usaha makanan. Mega dan suami sering mendapat undangan untuk mengulas beberapa kafe dan restoran. 


Membangun kafe gara-gara tawaran sang Ipar
Suatu hari, adik iparnya yang ingin membuka usaha butik penyewaan gaun mengajak Mega ikut menyewa tempat usahanya. “Waktu itu adik ipar saya mencari ruko untuk tempat usaha butiknya. Dapat yang 4 lantai di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Tapi menurutnya, ruko tersebut terlalu besar jika hanya untuk butik saja. Dia menawarkan apakah aku mau pakai lantai 1 ruko,” ceritanya.

Mega melihat penawaran itu sebagai peluang, karena sebenarnya dia juga memimpikan untuk memulai usaha kafe. Meskipun sempat ragu karena merasa belum punya ilmu yang memadai untuk berwirausaha, Mega dan suami akhirnya mantap membuka usaha kafe pada November 2016. 

Kafe itu dinamai Happy Hana, diambil dari nama anak perempuannya yang bernama Hanami, dan kata “happy” yang berarti bahagia. Mega berharap siapapun yang datang ke kafenya dan makan masakannya merasa bahagia. 


Bangun coffee shop dengan modal awal Rp 300 juta
Konsep awal Happy Hana adalah coffee shop, karena usaha jenis ini sedang hits di Jakarta. Terlebih di sekitar lokasi tersebut belum ada coffee shop yang cukup nyaman. Makanya tahap awal yang Mega lakukan adalah merenovasi ruko yang disewanya menjadi senyaman mungkin. 

Referensi desain kafenya banyak ia dapatkan dari browsing di Instagram dan Pinterest. Mega mengakui, saat itu biaya renovasi rukolah yang paling banyak menyerap modal usahanya. Selain itu, peralatan untuk coffee shop memang cukup mahal, misalnya saja mesin kopi yang harganya sekitar Rp40 juta, alat penggiling kopi, freezer, alat masak, dan alat makan. Tidak heran Mega harus merogoh kantong cukup dalam untuk modal awal mereka, yaitu Rp 300 juta. Untuk dekorasi sendiri, Mega menyebut tidak memakan banyak modal karena ia memilih konsep minimalis. 

Untuk alat masak dan alat makan, Mega tidak sembarang membeli. Ia memilih alat makan dan alat masak yang memenuhi syarat sertifikasi higienitas dari lembaga kompeten. Menurutnya, sertifikat higienitas penting untuk disiapkan agar ketika Happy Hana mulai beroperasi, pelanggan yakin bahwa tiap menu yang disajikan tela diolah secara higienis dan sudah mengacu pada standar restoran meski hanya kafe kecil. Wah, keren ya….

Sejak awal, Mega dan Dior memang membuat Happy Hana untuk dikerjakan oleh orang lain, karena mereka belum ada niat untuk meninggalkan profesinya saat ini. Makanya Mega merekrut 3 orang karyawan yang terdiri atas koki, barista, dan kasir. Sementara hal lain terkait operasional dan pemasaran tetap dikelola oleh Mega dan suaminya.


Bukan kopi, rice bowl justru jadi menu favorit
Dalam perjalanannya, kafe berkapasitas 32 orang ini tidak hanya menawarkan menu kopi yang khas, tetapi juga berbagai cemilan, pastry, pasta, makanan berat bertema rice bowl untuk menambah varian menu yang ada. Nah, menu rice bowl inilah yang justru menjadi favorit pelanggan sampai sekarang.

Untuk menu rice bowl-nya sendiri, Mega terinspirasi dari menu-menu yang sebelumnya pernah ia coba saat masih aktif menjadi foodblogger. Menu tersebut dikreasikan kembali hingga menjadi resep baru. Ibu satu orang putri ini kemudian meminta keluarga dan teman-teman untuk mencicipi serta memberi kritik dan masukan. Hingga cita rasanya oke dan banyak yang suka, ia mengajarkan resep tersebut kepada koki untuk kemudian diperkenalkan sebagai menu di Happy Hana. Untuk jenis saus, Mega membuatnya sendiri di rumah, lalu distok ke Happy Hana setiap 3 hari. Hal ini dilakukan agar cita rasanya tetap terjaga.


Bertahan sebulan lagi, hingga sekarang
Menurut Mega, perjuangan terberat usahanya adalah di 3 bulan pertama. Lokasi yang cenderung jarang dijadikan tujuan nongkrong , menyebabkan Happy Hana sepi pelanggan. Saat itu, pelanggan yang datang merupakan pelanggan butik milik adik iparnya yang berada di lantai atas. “Biasanya kalau pasangan lagi fitting gaun di butik, prianya menunggu di Happy Hana sambil ngopi,” ungkapnya. Meski sempat dilanda ragu dan khawatir keputusan memulai usaha ini salah, Mega mencoba melanjutkan usahanya sebulan lagi, kemudian sebulan lagi… begitu seterusnya hingga Happy Hana bertahan sampai sekarang.

Kini, Happy Hana sudah punya pelanggan setianya sendiri. Beberapa diantaranya mahasiswa kampus sekitar yang mampir untuk kumpul-kumpul atau karyawan kantor yang mau rapat atau sekedar nongkrong saja. Untuk promosi, Mega lebih memilih melalui media online seperti Facebook ads, Instagram ads, atau dengan meng-endorse beberapa selebgram dan influencer. Apalagi sang suami, Dior, memang handal dibidang digital marketing.

Berdasarkan pengalamannya, dari berbagai media online yang ia gunakan untuk promosi, Instagram ads adalah yang paling efektif karena bisa langsung menentukan target pasar. Selain itu, Mega juga bisa menyesuaikan anggaran yang dimiliki dengan seberapa banyak iklan yang dinginkan. “Kalau di Instagram ads, misalnya saja dengan biaya Rp500 ribu, iklan kita bisa menyentuh sampai 10 ribu orang,” jelas wanita berambut panjang ini. 

Selain itu, Mega juga bekerjasama dengan situs penyedia kupon promo seperti Fave, Dealjava, dan Bigdish. Tidak ketinggalan, ia juga menggaet Gojek agar pelanggan bisa tetap menikmati menu Happy Hana melalui layanan Go-food. Mega diuntungkan juga dengan teman-teman food blogger yang bersedia bantu memberikan ulasan menu Happy Hana untuk dijadikan materi di blog mereka secara gratis. Ia beberapa kali bekerjasama dengan foodiest dan menjadi sponsor makanan di acara gathering mereka, agar ulasan makanannya bisa di posting oleh foodiest yang hadir.


Fokus ke harga murah tapi tetap enak
Baru-baru ini Happy Hana pindah dari Manggarai ke kawasan kuliner di Menteng, tepatnya di Menteng Hawkers Jl. Teuku Cik Ditiro no.40 A, Jakarta Pusat. Mengingat menu favorit pelanggan adalah rice bowl, di lokasi yang baru Mega memutuskan tidak lagi menawarkan menu kopi dan hanya fokus ke menu rice bowl. Anda bisa menikmati menu rice bowl ala Happy Hana dengan harga dibawah Rp50 ribu. Cukup murah, bukan? 

Harga menu memang menjadi salah satu fokus Mega sejak awal berniat memulai usaha. “Dulu sewaktu mengulas tempat makan, seringkali aku mencicipi makanan yang enak tapi harganya mahal banget. Nah, aku tidak ingin pelanggan Happy Hana merasa begitu juga. Makanya sebisa mungkin aku buat makanan yang murah, enak, dan kenyang biar pelanggan puas dan happy seperti nama kafenya, Happy Hana. Sejauh ini sih responnya bagus,” katanya.

Meski Happy Hana baru berjalan selama 2 tahun, Mega yang dibantu 5 orang karyawannya sudah mencapai omzet 30 juta rupiah per bulan, lho! Mega juga sudah tidak perlu datang setiap hari ke kafe karena kasirnya sudah menggunakan sistem yang bisa dipantau kapan pun melalui gadget. “Kalaupun ke kafe paling 3 hari sekali untuk ambil uang hasil penjualan dan cek stok,” jelasnya.


Perlakukan karyawan seperti keluarga
Dalam menjalankan usaha, menurut Mega tantangan terbesarnya adalah merekrut karyawan. Sempat mendapat karyawan laki-laki yang karakternya kurang bagus, kini ia memilih merekrut karyawan perempuan. “Lebih suka karyawan perempuan sih sekarang. Meski jadinya kalau ada masalah teknis seperti ada alat rusak atau ada saluran mampet, suamiku yang turun tangan,” imbuhnya. Mega kerap memperlakukan karyawannya seperti keluarga sendiri, seperti mengajak karyawan makan atau nonton bioskop bersama-sama. Selain agar mereka betah, Mega juga berharap mereka bekerja dengan maksimal untuk kemajuan Happy Hana. Mega juga tidak segan mengobrol dan mendengarkan keluh kesah karyawan. 

Saat ini, Mega dan Dior belum berencana membuka cabang baru Happy Hana. Menurut mereka, masih banyak yang perlu dikembangkan sehingga mereka memilih fokus mengelola yang sudah ada terlebih dulu. Apalagi mereka juga belum berencana meninggalkan pekerjaan masing-masing dalam waktu dekat. Namun, jika kelak Happy Hana sudah lebih berkembang, Mega baru akan mempertimbangkan untuk fokus mengurus Happy Hana. 


Sukses Happy Hana-nya yah, Mega!



 

Penilaian :

4.0

1 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS