Informasi Artikel

Dirilis

18 Oktober 2026

Penulis Artikel

Aliah Abdullah


Tag

Punya usaha kuliner yang ramai pembeli tentu menyenangkan. Namun, pernahkah Anda bertanya, apakah usaha yang ramai tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan?

Banyaknya uang yang masuk dari penjualan belum tentu berarti usaha Anda untung. Sebab, dalam menjalankan usaha kuliner ada berbagai biaya yang perlu diperhitungkan, mulai dari bahan baku, kemasan, listrik, gas, gaji karyawan, hingga biaya promosi. Karena itu, penting bagi pelaku usaha untuk memahami cara menghitung untung dan rugi dengan benar.

Laporan laba rugi pada dasarnya menggambarkan pendapatan dan biaya suatu usaha dalam periode tertentu sehingga dapat diketahui apakah usaha menghasilkan laba atau justru mengalami kerugian.

Lalu, bagaimana cara sederhana menghitung untung dan rugi usaha kuliner? Simak langkah-langkah berikut.

 

1.    Catat Seluruh Pendapatan Usaha


Langkah pertama adalah mengetahui berapa total pendapatan atau omzet yang diperoleh selama periode tertentu, misalnya satu bulan.

Pendapatan dapat berasal dari penjualan makanan dan minuman, baik secara langsung di toko maupun melalui layanan pesan antar. Pastikan seluruh transaksi dicatat agar angka pendapatan yang digunakan dalam perhitungan sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Sebagai contoh, Anda memiliki usaha rice bowl dengan harga jual rata-rata Rp25.000 per porsi. Dalam satu bulan Anda berhasil menjual 1.000 porsi.
Maka omzet usaha adalah:

Omzet = Jumlah Produk Terjual × Harga Jual = 1.000 × Rp25.000 = Rp25.000.000

Jadi, omzet usaha Anda dalam satu bulan adalah Rp25.000.000.

Namun ingat, omzet bukanlah laba bersih. Anda masih harus memperhitungkan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan penjualan tersebut. 

 

2. Hitung Harga Pokok Penjualan atau HPP

Berikutnya, hitung Harga Pokok Penjualan (HPP). Secara sederhana, HPP merupakan biaya yang berkaitan langsung dengan produk yang dijual. Dalam usaha kuliner, komponen ini dapat mencakup bahan baku dan biaya lain yang secara langsung diperlukan untuk menghasilkan makanan atau minuman.

Misalnya dalam satu bulan Anda mengeluarkan:
Beras: Rp2.500.000
Ayam dan bahan utama: Rp5.000.000
Sayur dan bumbu: Rp1.500.000
Saus dan bahan pelengkap: Rp1.000.000
Kemasan: Rp1.000.000

Total HPP menjadi:
Rp2.500.000 + Rp5.000.000 + Rp1.500.000 + Rp1.000.000 + Rp1.000.000 = Rp11.000.000

Pencatatan bahan baku juga penting karena perubahan harga bahan dapat mempengaruhi biaya produksi dan harga jual produk. Oleh karena itu, pelaku bisnis kuliner perlu mengelola persediaan serta mengevaluasi harga jual secara berkala sesuai biaya produksi dan kondisi pasar.

 

3. Hitung Laba Kotor

Setelah mengetahui omzet dan HPP, Anda dapat menghitung laba kotor.

Rumus sederhananya:
Laba Kotor = Omzet - HPP

Berdasarkan contoh sebelumnya:
Rp25.000.000 - Rp11.000.000 = Rp14.000.000

Artinya, usaha rice bowl tersebut menghasilkan laba kotor sebesar Rp14.000.000.

Tetapi, angka tersebut belum menjadi keuntungan yang bisa langsung digunakan untuk keperluan pribadi. Masih ada berbagai biaya operasional usaha yang perlu diperhitungkan.

 

4. Catat Seluruh Biaya Operasional

Biaya operasional merupakan pengeluaran yang diperlukan agar kegiatan usaha dapat berjalan. Dalam usaha kuliner, biaya tersebut bisa berbeda-beda tergantung skala dan model usaha.

Sebagai contoh:
Sewa tempat: Rp3.000.000
Gaji karyawan: Rp4.000.000
Listrik, air, dan gas: Rp1.000.000
Promosi: Rp500.000
Internet dan biaya lainnya: Rp500.000

Maka total biaya operasional adalah Rp9.000.000.

Pencatatan yang baik membantu pelaku UMKM mengetahui kondisi keuangan dan kinerja usahanya, termasuk pencatatan transaksi dan laporan laba rugi.

 

5. Hitung Laba atau Rugi Bersih

Setelah mengetahui laba kotor dan biaya operasional, kini saatnya menghitung hasil usaha yang sebenarnya.

Rumus sederhananya:
Laba Bersih = Laba Kotor - Biaya Operasional

Dari contoh sebelumnya:

Rp14.000.000 - Rp9.000.000 = Rp5.000.000

Dengan demikian, usaha rice bowl tersebut menghasilkan laba bersih Rp5.000.000 dalam satu bulan.

Sebaliknya, apabila total biaya lebih besar daripada pendapatan, maka usaha mengalami kerugian.

Misalnya laba kotor hanya Rp7.000.000 sementara biaya operasional Rp9.000.000:

Rp7.000.000 - Rp9.000.000 = -Rp2.000.000

Artinya, usaha mengalami kerugian sebesar Rp2.000.000.

 

6. Evaluasi Hasil Perhitungan Secara Berkala


Menghitung untung dan rugi sebaiknya tidak dilakukan sekali saja. Buatlah pencatatan secara rutin, misalnya setiap bulan. Dengan begitu, Anda dapat membandingkan kinerja usaha dari waktu ke waktu.

Jika keuntungan menurun, coba telusuri penyebabnya. Apakah harga bahan baku meningkat? Apakah biaya promosi terlalu besar? Apakah ada bahan makanan yang banyak terbuang? Atau justru harga jual produk perlu dievaluasi?

Laporan keuangan juga dapat membantu pemilik usaha memantau biaya seperti bahan baku dan tenaga kerja serta mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki untuk mengurangi pemborosan dan meningkatkan keuntungan.

Pisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha. Dengan pencatatan yang teratur dan konsisten, Anda akan lebih mudah melihat kondisi usaha secara objektif dan mengambil keputusan berdasarkan data.

Menghitung untung dan rugi usaha kuliner sebenarnya tidak harus rumit. Mulailah dari mencatat seluruh pendapatan, menghitung HPP dan biaya operasional, kemudian menghitung laba bersih yang diperoleh.

Dengan mengetahui kondisi keuangan secara rutin, Anda dapat lebih mudah menentukan strategi selanjutnya, mulai dari mengendalikan biaya, mengevaluasi harga jual, hingga merencanakan pengembangan usaha.

Jika masih memiliki pertanyaan mengenai cara menghitung keuntungan, menentukan HPP, atau mengelola keuangan usaha, Anda juga dapat memanfaatkan fitur Tanya Ahli di Daya.id untuk mendapatkan solusi sesuai dengan kebutuhan usaha Anda.

Belum bergabung dengan Daya.id? Yuk, daftar dan aktivasi akun Daya.id untuk mendapatkan berbagai informasi, edukasi, dan layanan yang dapat membantu Anda mengembangkan usaha.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Rahasia Bisnis Rumahan Bebas Razia: Panduan Dasar Izin UMKM Pemula
Keuangan

Rahasia Bisnis Rumahan Bebas Razia: Panduan Dasar Izin UMKM Pemula

25 Agustus 2026

5.0
Cara Mengelola Pembayaran Utang Usaha agar Operasional Lancar
Keuangan

Cara Mengelola Pembayaran Utang Usaha agar Operasional Lancar

22 Mei 2026

5.0
Cara Cepat Balik Modal Usaha: Strategi Efektif untuk Pemula
Keuangan

Cara Cepat Balik Modal Usaha: Strategi Efektif untuk Pemula

24 April 2026

5.0
7 Tips Memisahkan Uang Pribadi dengan Uang Usaha
Keuangan

7 Tips Memisahkan Uang Pribadi dengan Uang Usaha

23 April 2026

Berikan Pendapat Anda