Informasi Artikel

Penulis Artikel

Adhiyat Thoriq

Jika Anda membaca artikel ini, artinya Anda berhasil melewati fase kritis "lembah kematian" UMKM. Bertahan di dua tahun pertama dengan profit di tangan bukanlah sekadar keberuntungan, melainkan bukti kegigihan Anda.

Namun, kesuksesan ini sering membawa jebakan baru: kebocoran halus. Hal ini terjadi karena uang pribadi dan uang usaha masih "berpelukan mesra" dalam satu rekening atau dompet. Memasuki tahun ketiga, profesionalisme keuangan bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak untuk scaling up.

Mari kita bedah cara mengurai "benang kusut" keuangan agar bisnis Anda tidak hanya terlihat ramai, tapi benar-benar sehat secara struktur.

Baca juga: Tips Mengelola Keuangan Usaha Untuk Pemula

 

Mengapa Setelah 2 Tahun Baru Terasa Sulit?

Di awal usaha, mencampur uang adalah bagian dari survival mode. Anda menggunakan tabungan pribadi untuk bahan baku, lalu memakai hasil jualan untuk bayar listrik rumah.

Namun, saat volume transaksi meningkat setelah tahun kedua, tanpa pemisahan yang jelas Anda akan terjebak dalam "Laba Semu". Anda merasa untung besar karena saldo bank terlihat banyak, padahal di dalamnya terdapat kewajiban pajak, gaji karyawan, hingga utang supplier yang belum jatuh tempo.

Berikut adalah panduan mendalam untuk memisahkan harta pribadi dan aset perusahaan:

 

1. Menetapkan Gaji untuk Diri Sendiri (Owner’s Salary)

Kesalahan paling umum adalah memperlakukan kas perusahaan sebagai ATM pribadi. Mengambil uang kapan saja untuk cicilan rumah atau liburan akan mengaburkan biaya operasional (OpEx) yang sebenarnya.

  • Pentingnya Gaji Tetap: Jika bisnis belum mampu membayar gaji Anda secara profesional, itu pertanda bisnis tersebut belum benar-benar sehat.
  • Contoh Praktis: Tetapkan gaji tetap, misal Rp15 juta/bulan. Transfer dari rekening bisnis ke pribadi pada tanggal yang sama setiap bulan.
  • Catatan: Jika ada profit lebih di akhir tahun, ambil sebagai Dividen, bukan tambahan gaji yang tidak terencana.


 

2. Menggunakan Rekening Bank Terpisah (Mutlak!)

Mencampur belanja bahan baku dengan belanja rumah tangga dalam satu rekening adalah "bom waktu" akuntansi. Idealnya, miliki minimal tiga jenis rekening:

  • Rekening Operasional Bisnis: Untuk pemasukan dan pengeluaran vendor.
  • Rekening Cadangan/Pajak: Untuk pengembangan bisnis dan kewajiban pajak.
  • Rekening Pribadi: Tempat mendaratnya gaji Anda.

Tips: Saat makan siang dengan klien, gunakan kartu dari Rekening Operasional. Saat makan malam dengan keluarga, gunakan Rekening Pribadi. Jangan pernah tertukar!

 

3. Disiplin Pencatatan Digital (Stop Manual!)

Di tahun ketiga, jangan lagi mengandalkan ingatan atau buku tulis. Gunakan software akuntansi atau aplikasi pencatatan keuangan agar Anda bisa melihat laporan Laba Rugi (Profit & Loss) secara real-time.

  • Contoh Praktis: Gunakan aplikasi seperti Jurnal, Kledo, atau Google Sheets terstruktur.
  • Aksi: Langsung foto nota parkir atau bensin, masukkan ke kategori "Biaya Transportasi Usaha". Jangan menunggu akhir bulan.


 

4. Bedakan Aset Pribadi dan Aset Usaha

Menggunakan kendaraan pribadi untuk operasional tanpa perhitungan akan mengaburkan nilai depresiasi aset.

  • Langkah Strategis: Hitung biaya penyusutan. Jika mobil pribadi digunakan 70% untuk usaha, bisnis harus "menyewa" atau membayar biaya servis secara proporsional.
  • Status Kepemilikan: Jika membeli laptop baru, tentukan pemiliknya. Jika milik perusahaan, catat sebagai aset tetap bisnis. Ini penting jika suatu saat bisnis dijual atau mengalami risiko hukum.

Baca Juga: Cara Membuat Pembukuan Keuangan Usaha Kecil Sederhana dan Mudah

 

5. Membuat Anggaran (Budgeting) Tahunan

Pengusaha sukses tidak hanya bereaksi terhadap pengeluaran, tetapi merencanakannya. Tentukan plafon maksimal untuk biaya pemasaran, gaji, dan utilitas dalam setahun.

  • Contoh Praktis: Alokasikan 10% profit bulanan ke Dana Darurat Bisnis. Cadangan ini akan menjaga bisnis tetap stabil saat terjadi krisis tanpa harus menguras tabungan pribadi Anda.


 

6. Audit Rutin dan Konsultasi Profesional

Jangan merasa harus melakukan semuanya sendiri. Pertimbangkan jasa akuntan paruh waktu atau auditor untuk menemukan "kebocoran" halus yang tidak Anda sadari.

  • Evaluasi Bulanan: Setiap tanggal 5, bandingkan mutasi bank dengan catatan aplikasi. Cari tahu asalnya meski hanya selisih Rp50.000. Kedisiplinan pada angka kecil akan menyelamatkan angka besar.


 

Bisnis Adalah Entitas, Bukan Sekadar Hobi

Memisahkan uang pribadi dan usaha adalah langkah mental terbesar untuk bertransformasi dari seorang "pedagang" menjadi "pebisnis". Dengan cara yang profesional, Anda memberi ruang bagi bisnis untuk tumbuh organik tanpa terbebani gaya hidup pribadi.

Ingat, bisnis yang sehat adalah bisnis yang bisa berjalan tanpa harus terus-menerus "disuapi" dari kantong pribadi pemiliknya.

Apabila Anda ingin mengetahui tips lainnya tentang topik ini silakan mengunjungi Daya.id dan segera daftarkan diri Anda. Apabila Anda masih bingung untuk bagaimana cara memulai usaha dan ingin berdiskusi lebih banyak lagi mengenai usaha dapat berdiskusi dengan ahli usaha di fitur Tanya Ahli.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Artikel Ahli
4.9
Memulai Usaha

Pasangan Milenial, Sudah Siapkan Dana Pendidikan? Ini Dia Tipsnya

03 Oktober 2022

4.9
Memulai Usaha

Perbedaan Saham dan Obligasi Beserta Contoh-Contohnya

25 Agustus 2021

4.9
Memulai Usaha

Perbedaan Fintech dengan Bank Digital yang Perlu Anda Tahu

17 November 2022

4.8
Memulai Usaha

Bisnis Tidak Untung? Perbaiki Kesalahan Ini

17 Maret 2023

Berikan Pendapat Anda

5 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS