Dirilis

09 Agustus 2022

Penulis

Dini Fitriani Nugraha

Saat ini, masyarakat Indonesia khususnya penduduk yang berusia produktif yaitu usia 15-64 tahun sudah mulai aware dengan masalah perubahan iklim dan lingkungan. Banyak dari mereka yang sudah mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan seperti mengurangi penggunaan plastik dengan bahan yang lebih ramah lingkungan, seperti membawa tas berbahan kain atau kertas saat berbelanja di supermarket atau pasar, membawa botol minum atau tumbler, menggunakan sedotan dari stainless steel atau kertas, dan tidak meminta peralatan makan saat memesan makanan secara online atau take-away.

Kebiasaan baru tersebut sangat baik untuk diterapkan dalam jangka panjang. Namun jika dilakukan secara berlebihan, sampai terobsesi ingin menerapkan gaya hidup ini dengan sempurna, maka dapat menimbulkan kecemasan. 

Seperti yang kita ketahui perfeksionisme dapat menyebabkan kecemasan, gangguan suasana hati (mood), dan masalah sosial. Selain itu, tren gaya hidup ini membutuhkan uang dan tenaga ekstra karena kita harus mengganti plastik yang murah meriah menjadi bahan ramah lingkungan yang harganya tidak semurah plastik. 

Jika kita tidak sanggup menjalani kebiasaan baru ini, maka akan kembali ke kebiasaan lama dan kekhawatiran terhadap isu global warming semakin meningkat. Kondisi tersebut dikenal dengan eco-anxiety atau kecemasan lingkungan, untuk lebih jelasnya yuk simak ulasan ini!

 

Apa Itu Eco-anxiety?


Jika Anda khawatir tentang dampak perubahan iklim, pemanasan global, atau peristiwa cuaca ekstrem tertentu secara terus-menerus dan dapat memegaruhi kehidupan sehari-hari seperti sulit tidur, mengalami serangan panik, dan tidak produktif karena kehilangan fokus, atau jika kepedulian Anda yang besar terhadap lingkungan diimbangi dengan rasa tidak berdaya sehingga timbul perasaan bersalah, maka Anda mungkin menderita eco-anxiety

Eco-anxiety juga dapat dikaitkan dengan satu atau lebih bencana ekologis spesifik yang terjadi di sekitar rumah seperti tsunami, tanah longsor, banjir, atau gunung meletus yang membuat orang terus merasa takut secara permanen akan bencana alam. Namun kondisi ini belum diakui secara medis dan hanya menjadi bagian dari anxiety.

Baca Juga:  Waspada, Teknologi Juga Tingkatkan Pemanasan Global! 

 

Penyebab dan Gejala Eco-anxiety

Eco-anxiety belum dianggap sebagai penyakit, tetapi kekhawatiran yang meningkat tentang darurat iklim yang kita alami dapat menyebabkan gangguan psikologis. The American Psychology Association (APA) menggambarkan kondisi ini sebagai  "ketakutan yang berasal dari mengamati dampak perubahan iklim dan kekhawatiran terkait masa depan akibat kondisi lingkungan yang kian memburuk". Dengan demikian, penyebab eco-anxiety adalah pemanasan global, suhu yang meningkat, penggunaan bahan bakar yang berlebihan, kelangkaan air, sampah yang menggunung, dan keadaan buruk yang berhubungan dengan lingkungan dan iklim. 

Adapun gejala eco-anxiety diantaranya kecemasan ringan, stres, gangguan tidur, gugup, dan dalam kasus yang lebih serius dapat menyebabkan depresi. Otak kita merespons ancaman yang dirasakan dengan melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol, yang dapat mengganggu tidur kita, membuat kita mudah tersinggung, membuat pikiran kita berpacu lebih cepat, dan memiliki segala macam efek lainnya. Jika kecemasan yang signifikan tetap ada lama setelah ancaman hilang, maka itu dapat disebut gangguan kecemasan. 

Baca Juga: Anxiety Disorder Lebih Bahaya dari Depresi, Benarkah? 

 

Tips Mengatasi Eco-anxiety


 

  • Meningkatkan kesadaran tentang masalah perubahan iklim dan isu lingkungan lainnya.
  • Berkomitmen untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan dengan mengurangi penggunaan plastik, rutin melakukan daur ulang, dan membuang pada tempatnya.
  • Lakukan kegiatan yang berkelanjutan, seperti membuat taman kota, menanam pohon, atau plogging (berlari dan memungut plastik yang berserakan).
  • Hindari hal-hal kecil yang juga dapat merugikan alam seperti membiarkan keran mengalir atau membuang permen karet ke tanah, karena hal yang menurut kita simple juga dapat berdampak pada lingkungan.
  • Segera konsultasi ke psikolog atau tenaga profesional jika kecemasan yang dirasakan terlalu berlebihan sampai mengganggu aktivitas.


Kecemasan adalah reaksi normal dan rasional terhadap hal-hal di sekitar kita yang dapat mengganggu kenyamanan atau keamanan kita. Lakukanlah secara bertahap agar tidak merasa keberatan dan menyerah di tengah jalan. Perubahan kecil dapat dimulai dari sendiri dan akan menularkan orang sekitar, coba dengan mengurangi penggunaan plastik, menggunakan air dan listrik secukupnya, membuang sampah pada tempatnya, dan rutin mendaur ulang. 

Apabila Anda memiliki kecemasan yang berlebihan atau pertanyaan lebih lanjut mengenai eco-anxiety, segera log in ke daya.id dan manfaatkan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

5.0

4 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

dr. Sanny Yanisyah Cutfriana

Dokter Umum

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS