Informasi Artikel

Penulis Artikel

Thomas Aquino Herly Marwanto

Menghadapi tahun 2026, lanskap perdagangan global mengalami transformasi besar. Perubahan ini membuka peluang sekaligus tantangan baru bagi pelaku ekspor Indonesia, khususnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Memasuki 2026, kinerja ekspor Indonesia dipengaruhi oleh tiga arus utama yang perlu dicermati sejak sekarang, yaitu:

  1. Pergeseran rantai pasok global melalui strategi China+1
  2. Meningkatnya permintaan produk berkelanjutan
  3. Digitalisasi perdagangan internasional

Lalu, bagaimana ketiga arus ini terjadi dan peluang apa saja yang bisa dimanfaatkan oleh UKM Indonesia?

 

1. Pergeseran Rantai Pasok Global (China+1 Strategy)

Strategi China+1 muncul sebagai respons perusahaan global terhadap tekanan tarif, risiko geopolitik, serta kenaikan biaya tenaga kerja di Tiongkok. Perusahaan multinasional kini tidak lagi bergantung pada satu negara produksi, melainkan mencari lokasi alternatif yang lebih aman dan kompetitif.

Pemerintah Indonesia aktif mempromosikan diri sebagai destinasi manufaktur alternatif. Berbagai laporan, termasuk dari McKinsey dan The Jakarta Post, menunjukkan bahwa Indonesia dan Vietnam menjadi negara utama penerima relokasi manufaktur di ASEAN, didukung oleh peningkatan Foreign Direct Investment (FDI).

Mengapa Indonesia Menarik?

  • Biaya tenaga kerja relatif kompetitif
  • Stabilitas politik dan ekonomi
  • Ketersediaan sumber daya alam
  • Akses pasar regional dan global

Peluang ekspor Indonesia terbuka lebar, terutama untuk:

  • Bahan baku (karet, kelapa, hasil laut)
  • Komponen industri (otomotif, elektronik)
  • Produk jadi (furniture, agrifood)

Diversifikasi rantai pasok global membuat permintaan terhadap pemasok Indonesia semakin meningkat, termasuk dari kalangan UKM yang mampu memenuhi standar kualitas dan ketepatan waktu.

Baca juga:  Strategi Menghadapi Gemburan Tarif Impor Amerika, Adaptasi Ekonomi Indonesia.

 

2. Lonjakan Permintaan Produk Berkelanjutan

Memasuki 2026, tren keberlanjutan bukan lagi nilai tambah, melainkan syarat masuk pasar global, terutama di Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang.
Regulasi semakin ketat:

  • Uni Eropa menerapkan EU Deforestation Regulation (EUDR)
  • AS & Jepang memperketat standar keamanan pangan dan keberlanjutan

Laporan DHL Global dan Ecoheaven mencatat meningkatnya permintaan terhadap:

  • Kemasan ramah lingkungan
  • Material biodegradable
  • Sistem ekonomi sirkular
  • Smart packaging berbasis QR code

Pasar kemasan hijau diproyeksikan tumbuh dari USD 324 miliar (2023) menjadi lebih dari USD 500 miliar pada 2030.

Peluang UKM Indonesia : 

  • Agrifood (kopi, rempah, seafood, produk olahan) dengan sertifikasi HACCP, Halal, dan traceability
  • Furniture & home decor dengan sertifikasi SVLK/FSC
  • Produk lifestyle ramah lingkungan (wellness, personal care, fashion berbahan alami)

Platform global seperti Amazon dan Alibaba kini memberi label khusus untuk produk eco-friendly dan sustainable. Studi McKinsey dan Statista juga menunjukkan bahwa lebih dari 60% konsumen global bersedia membayar lebih untuk produk ramah lingkungan.

Artinya, UKM yang tidak memenuhi standar keberlanjutan berisiko tersingkir dari pasar premium.

 

3. Digitalisasi Perdagangan Internasional

Digitalisasi menjadi pendorong utama perdagangan global. Laporan International Trade Administration menyebutkan bahwa pasar B2B e-commerce global akan mencapai USD 36 triliun pada 2026, dengan Asia-Pasifik menguasai sekitar 80% pangsa pasar.

Sementara itu, cross-border e-commerce diproyeksikan tumbuh dari USD 1,175 miliar (2025) menjadi USD 1,338 miliar (2026), didorong oleh platform seperti Amazon, Alibaba, dan TikTok Shop.

Kanal Digital yang Perlu Dimanfaatkan UKM:

  • B2B marketplace internasional: Alibaba, Tradewheel, Amazon Business
  • Cross-border e-commerce: Amazon, Shopee International, TikTok Shop Global
  • Hub logistik regional: Singapura sebagai pusat fulfillment Asia Tenggara dan Timur Tengah

Digitalisasi memungkinkan UKM menembus pasar internasional tanpa membuka kantor fisik di luar negeri, sehingga biaya operasional lebih rendah dan penetrasi pasar lebih cepat.

Namun, keberhasilan di kanal digital sangat bergantung pada:

  • Katalog digital profesional
  • Foto produk berkualitas tinggi
  • Spesifikasi dan harga yang transparan

Dalam transaksi lintas negara, katalog digital adalah “wajah” bisnis Anda. Semakin lengkap dan kredibel tampilannya, semakin besar peluang mendapatkan kepercayaan buyer.

Baca juga:  Marketing 6.0 Strategi Pemasaran Berkelanjutan Berbasis Teknologi

Peluang ekspor Indonesia di tahun 2026 sangat besar, tetapi hanya dapat dimanfaatkan oleh UKM yang siap beradaptasi. Fokus utama yang perlu dilakukan antara lain:

  • Menyiapkan produk sesuai standar internasional dan keberlanjutan
  • Melengkapi sertifikasi (HACCP, SVLK, Halal)
  • Membangun branding dengan kemasan ramah lingkungan
  • Memanfaatkan marketplace global dan katalog digital profesional
  • Mengoptimalkan logistik regional dan pembiayaan ekspor

Strategi terbaik adalah memilih 1–2 pasar prioritas, memulai dengan pilot shipment, dan bertumbuh secara bertahap. Dengan langkah ini, UKM Indonesia dapat bersaing di era China+1, tren produk hijau, dan perdagangan digital lintas negara di tahun 2026.

Apabila masih kurang jelas, yuk silakan manfaatkan fitur Tanya Ahli untuk dapat info lebih jauh, dan bila belum daftar, segera klik daftar ya.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

5.0
Mengembangkan Usaha

Simak 6 Cara Berbisnis yang Efektif di sini, Apa Saja?

25 November 2021

5.0
Mengembangkan Usaha

Saat Usaha Anda Bermasalah, Pilih Bertahan atau Menyerah?

14 Maret 2018

5.0
Mengembangkan Usaha

Pemberdayaan UMKM Melalui Inovasi Produk dan Layanan Keuangan Digital (Bagian 2)

29 Desember 2022

5.0
Mengembangkan Usaha

Cara Menjadi Agen Asuransi, dan Manfaatnya

13 Mei 2023

Berikan Pendapat Anda

100 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS