Informasi Artikel

Penulis Artikel

Lucky Lombu

Isu Bahan Bakar Minyak (BMM) langka sebetulnya bukan hanya baru kali ini menghangat. Jika Anda ingat, kita pernah beberapa kali mendengar bahkan mengalami kelangkaan BBM, di mana sebagian orang rela mengantri panjang di pom bensin karena khawatir kendaraannya tidak bisa terisi akibat BBM langka.

Ya, bagaimanapun juga, kita sepertinya memang sudah sangat bergantung dengan BBM. Paling tidak dalam hal mobilitas. Berangkat ke kantor, pulang, jalan-jalan, ke acara pernikahan, dan sebagainya. Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan sebagai strategi antisipasi jika BBM langka benar-benar terjadi? Sudah coba pertimbangkan gaya hidup rendah karbon?

Baca Juga: Apa Itu Jejak Karbon? Yuk, Kenali dan Kurangi Bersama

 

Masalah: Mobilitas Kerja Sangat Bergantung pada BBM


Mengutip situs iesr.or.id, di Indonesia, sektor transportasi menjadi salah satu pengguna energi terbesar dan mengonsumsi sekitar 40% BBM nasional, sebagian besar berasal dari transportasi darat. 

Sektor ini juga menjadi penyumbang emisi karbon yang signifikan. Emisi dari transportasi di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 202 juta ton CO₂ pada 2024, dan jumlahnya terus meningkat seiring pertumbuhan kendaraan serta mobilitas masyarakat perkotaan. 

Ada lagi. Riset ekonomi energi menunjukkan bahwa konsumsi BBM kendaraan di kota besar sangat tinggi. Di Jakarta misalnya, mengutip ruangenergi.com, konsumsi BBM kendaraan dapat mencapai puluhan juta liter per hari dan menghasilkan sekitar 81,17 juta kilogram emisi CO₂ setiap hari dari kendaraan bermotor. 

Angka tersebut menggambarkan dua persoalan utama, yaitu ketergantungan tinggi pada BBM, dan kontribusi besar terhadap emisi karbon

Jika pola mobilitas ini tidak berubah, risiko kenaikan biaya transportasi maupun kelangkaan BBM akan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Ya, di satu sisi, kita berhadapan dengan isu lingkungan. Dan di sisi lain, kita menghadapi risiko gangguan mobilitas, aktivitas kerja yang terganggu, biaya distribusi yang naik, dan sebagainya, saat isu BBM langka menghangat. 

Karena itu, mengadopsi gaya hidup rendah karbon bukan lagi sekadar tren ramah lingkungan, melainkan strategi adaptif untuk menghadapi risiko BBM langka.


 

Solusi: Mengadopsi Gaya Hidup Rendah Karbon

Gaya hidup rendah karbon bukan berarti Anda harus langsung mengganti semua kebiasaan secara drastis. Justru strategi ini dapat dimulai dari perubahan kecil yang berdampak besar pada efisiensi energi dan biaya transportasi.

Berikut beberapa langkah praktis yang relevan untuk Anda pertimbangkan.


 

1. Mengoptimalkan Transportasi Umum

Menggunakan transportasi publik seperti MRT, KRL, atau bus dapat mengurangi konsumsi BBM per individu secara signifikan. Sistem transportasi massal dirancang untuk memindahkan banyak orang sekaligus sehingga penggunaan energi lebih efisien dibanding kendaraan pribadi.

Selain menghemat BBM, transportasi umum juga membantu menekan emisi karbon dari sektor transportasi yang terus meningkat setiap tahun.

2. Menerapkan Konsep Carpooling

Jika transportasi umum belum menjadi pilihan, Anda dapat berbagi kendaraan dengan rekan kerja. Carpooling atau berbagi kendaraan dapat mengurangi jumlah kendaraan di jalan sekaligus menekan konsumsi BBM per orang.

Bagi perusahaan, praktik ini juga dapat menjadi bagian dari program keberlanjutan (sustainability program) yang semakin banyak diterapkan di lingkungan kerja modern.

3. Memanfaatkan Sistem Kerja Hybrid

Pandemi telah memperkenalkan model kerja hybrid yang lebih fleksibel. Dengan bekerja dari rumah beberapa hari dalam seminggu, frekuensi perjalanan harian dapat berkurang secara signifikan. Jika Anda adalah pemilik usaha atau penentu kebijakan di perusahaan Anda, pertimbangkan opsi ini demi efisiensi dan efektivitas kerja karyawan.

Jika Anda butuh saran lebih lanjut terkait hal ini, Anda bisa berkonsultasi di Tanya Ahli. Daftarkan diri Anda untuk akses gratis di Daya.id.

Pengurangan perjalanan ini secara langsung menurunkan konsumsi BBM sekaligus emisi karbon dari aktivitas transportasi.


4. Beralih ke Kendaraan Lebih Efisien

Jika Anda masih mengandalkan kendaraan pribadi, memilih kendaraan dengan efisiensi energi lebih baik dapat menjadi solusi jangka menengah. Pemerintah bahkan menargetkan pengembangan kendaraan listrik hingga ratusan ribu unit pada 2030, yang diperkirakan dapat mengurangi konsumsi BBM hingga 7,5 juta barel dan menurunkan emisi CO₂ sekitar 2,7 juta ton. 

Langkah ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap BBM.

Baca Juga: Mobil Bensin vs Mobil Listrik: Mana yang Lebih Menguntungkan?

 

Gaya Hidup Rendah Karbon: Investasi Masa Depan

Pada akhirnya, gaya hidup rendah karbon bukan sekadar pilihan ekologis, melainkan strategi rasional menghadapi perubahan sistem energi global. Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 32% pada 2030 sebagai bagian dari komitmen iklim nasional. 

Bagi Anda sebagai karyawan kantoran, perubahan kecil seperti menggunakan transportasi publik, berbagi kendaraan, atau mengurangi perjalanan kerja dapat menjadi kontribusi nyata.

Lebih dari itu, langkah tersebut juga menjadi bentuk antisipasi cerdas terhadap kemungkinan kelangkaan BBM di masa depan. Dengan mobilitas yang lebih efisien dan rendah karbon, Anda tidak hanya membantu lingkungan, tetapi juga menjaga stabilitas aktivitas kerja dan pengeluaran pribadi.

 

Sumber:

Berbagai Sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

5.0
Hidup Berkelanjutan

Radiasi ada di Kehidupan Sehari-hari, Pahami Dampaknya!

14 Januari 2026

5.0
Hidup Berkelanjutan

Mikroplastik dan Bahayanya Terhadap Manusia

16 Agustus 2022

4.8
Hidup Berkelanjutan

Kenapa Sustainability Penting untuk Anda?

06 Mei 2023

4.8
Hidup Berkelanjutan

Ini Pentingnya Menjaga Kebersihan Alat Reproduksi untuk Anak Remaja Anda

30 Juni 2022

Berikan Pendapat Anda

0 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS