Informasi Artikel

Penulis Artikel

Muhammad Fadil Ramadhan

Di dapur setiap rumah tangga, minyak goreng merupakan bahan pokok yang hampir selalu digunakan. Namun, setelah dipakai berulang kali, sisa minyak atau yang kita kenal sebagai minyak jelantah kerap diperlakukan sebagai limbah sepele. Banyak orang masih membuangnya langsung ke wastafel, saluran air, atau bahkan ke tanah. Padahal, kebiasaan ini menyimpan ancaman serius bagi lingkungan.

Baca Juga: Bahaya Pemanasan Global di Sekitar Kita

Pada skala domestik, potensi limbah minyak jelantah di Indonesia tergolong sangat besar. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) memperkirakan jumlahnya mencapai 3 juta kiloliter per tahun. Sayangnya, se-bagian besar limbah ini belum terkelola dengan baik dan berakhir mencemari air serta tanah di sekitar kita.

Baca Juga: Apa itu Jejak Karbon?

 

Dampak Minyak Jelantah pada Saluran Air

Minyak jelantah tidak dapat larut dalam air. Ketika dibuang ke wastafel, minyak akan mengalir di dalam pipa dan perlahan mendingin. Seiring waktu, minyak tersebut mengeras dan membentuk lapisan lemak yang menempel di dinding pipa. Lapisan ini kemudian bercampur dengan sisa makanan dan kotoran lain, hingga akhirnya menyebabkan penyumbatan saluran drainase, baik di lingkungan rumah tangga maupun perkotaan.

Dampaknya tidak berhenti di situ. Penyumbatan saluran air dapat memicu banjir lokal dan meningkatkan biaya perawatan infrastruktur. Jika minyak jelantah lolos hingga ke badan air seperti sungai atau danau, masa-lahnya menjadi lebih serius.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), minyak jelantah yang mencapai perairan akan membentuk lapisan tipis di permukaan air. Lapisan ini menghambat masuknya sinar matahari dan oksigen, sehingga menimbulkan berbagai dampak lanjutan, antara lain:

 

•    Menurunkan kualitas air

Proses penguraian minyak oleh mikroorganisme akan menghabiskan oksigen terlarut. Hal ini mening-katkan nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD), dua indikator utama pencemaran air.

 

•    Merusak ekosistem perairan

Kekurangan oksigen dan sinar matahari menyebabkan ikan, tumbuhan air, serta mikroorganisme mati. Dalam jangka panjang, keseimbangan ekosistem perairan pun terganggu.

 

Dampak Minyak Jelantah pada Tanah

Pembuangan minyak jelantah ke tanah juga membawa konsekuensi serius. Minyak memiliki sifat yang dapat menyumbat pori-pori tanah, sehingga tanah menjadi keras dan sulit menyerap air. Kondisi ini secara ber-tahap menurunkan kualitas dan kesuburan tanah.

Selain itu, minyak yang meresap ke dalam tanah dapat membunuh mikroorganisme baik yang berperan pent-ing dalam siklus nutrisi dan penguraian bahan organik. Hilangnya mikroorganisme ini membuat tanah ke-hilangan kemampuan alaminya untuk memperbaiki diri. Akibatnya, pertumbuhan tanaman di sekitar area pembuangan menjadi terhambat, tidak sehat, bahkan mati. Dalam jangka panjang, tanah yang terkontaminasi minyak jelantah berpotensi berubah menjadi lahan tandus dan tidak produktif.

 

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Melihat besarnya dampak yang ditimbulkan, pengelolaan minyak jelantah secara bijak bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kabar baiknya, setiap orang bisa berkontribusi melalui langkah-langkah sederhana beri-kut:

  • Jangan membuang minyak jelantah ke saluran air atau tanah.
  • Kumpulkan minyak jelantah dalam wadah tertutup, seperti botol plastik bekas.
  • Salurkan ke pihak yang tepat, seperti bank sampah, komunitas pengelola jelantah, atau perus-ahaan yang mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, misalnya biodiesel atau sabun.

Perubahan kecil di dapur dapat membawa dampak besar bagi lingkungan. Dengan membiasakan diri mengumpulkan dan menyalurkan minyak jelantah ke pengelola yang tepat, kita turut menjaga kebersihan air, kesuburan tanah, dan kelestarian ekosistem.

Yuk, mulai dari dapur kita sendiri. Kelola minyak jelantah dengan bijak sebagai langkah sederhana menuju bumi yang lebih bersih dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Jika Anda butuh saran lebih lanjut, silakan kunjungi Tanya Ahli. Daftarkan diri Anda untuk akses gratis di Daya.id.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

4.8
Hidup Berkelanjutan

5 tips berhasil berkebun di pot untuk pemula

12 Januari 2023

4.8
Hidup Berkelanjutan

Tips Menghemat Listrik di Rumah

11 Januari 2023

5.0
Hidup Berkelanjutan

5 Cara Kurangi Efek Gas Rumah Kaca

09 Agustus 2021

5.0
Hidup Berkelanjutan

Tips Menerapkan Praktik Bisnis Ramah Lingkungan: Mulai dari Hal Sederhana

01 November 2025

Berikan Pendapat Anda

2 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS