Dirilis

19 September 2022

Penulis

Mirna Risnasuci

Apakah Anda pernah mendengar tentang empty sella syndrome? Baru-baru ini banyak sekali beredar berita tentang selebriti Indonesia, Ruben Onsu yang menderita empty sella syndrome. Atau mungkin salah satu kerabat Anda ada yang mengalaminya? Yuk, simak ulasannya melalui tulisan ini.

 

Apa itu Empty Sella Syndrome (ESS)?

Empty sella syndrome (ESS) merupakan gangguan pada sella tursika, struktur tulang di dasar otak yang mengelilingi dan melindungi kelenjar pituitari. ESS biasanya sering ditemukan saat melakukan tes pencitraan radiologis untuk gangguan hipofisis. Pada ESS, sella tursika terisi dengan sebagian cairan serebrospinal dan kelenjar hipofisis yang sangat kecil yang terletak di dasar sella atau terisi penuh oleh cairan serebrospinal tanpa kelenjar hipofisis yang terlihat. Kebanyakan individu yang mengalami ESS tidak mengalami gejala, tetapi akan menimbulkan kekhawatiran akan kekurangan hormon.

ESS dikategorikan menjadi 2 tipe, yaitu.

  1. ESS Primer. Dikatakan sebagai gangguan primer karena penyebabnya tidak diketahui (idiopatik).  Tipe ini biasanya lebih sering terjadi pada wanita yang mengalami kelebihan berat badan (obesitas) dan memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi). ESS primer juga dikaitkan dengan adanya penumpukan cairan di otak.
  2. ESS Sekunder. Dikatakan gangguan sekunder karena kondisi atau kelainannya didasari oleh tumor hipofisis yang diobati, trauma kepala, kondisi hipertensi intrakranial idiopatik dimana peningkatan tekanan intrakranial menyebabkan kondisi ESS, cedera, terapi radiasi, perubahan genetic atau pembedahan.


 

Penyebab, Tanda dan Gejala Empty sella syndrome (ESS)

Saat ini, pakar kesehatan belum dapat mengetahui apa penyebab dari ESS primer. Sedangkan ESS sekunder, seperti yang dijelaskan di atas, dapat disebabkan oleh cedera, terapi radiasi, dan tindakan pembedahan. 

 

Apa Saja yang Menjadi Tanda dan Gejala dari Empty sella syndrome (ESS)? 

Gejala ESS bervariasi dari satu individu ke individu lainnya dan tergantung pada penyebabnya. Dalam banyak kassu yang terjadi, terutama individu dengan ESS primer, seringkali tidak bergejala. ESS ditemukan secara tidak sengaja pada saat individu melakukan evaluasi melalui pemeriksaan CT atau MRI.

Gejala umum yang mungkin dikaitkan dengan ESS adalah sakit kepala kronis. Namun belum diketahui apakah sakit kepala tersebut berkembang karena ESS atau hanya kebetulan merupakan temuan. Banyak juga ditemukan individu dengan sindrom ESS yang mengalami hipertensi, yang dengan sendirinya menyebabkan sakit kepala.

Baca Juga: Mengenal apa itu delirium beserta penyebab dan pengobatan


Ada juga individu dengan ESS mengalami peningkatan tekanan di dalam tengkorak (tekanan intrakranial jinak), kebocoran cairan serebrospinal dari hidung (rinorhea serebrospinal), pembengkakan diskus optikus karena peningkatan tekanan tengkorak (papiledema), dan kelainan mempengaruhi penglihatan seperti hilangnya kejernihan penglihatan (visual acuity), namun kasus-kasus dengan gejala tersebut jarang terjadi.

Individu dengan kasus ESS sekunder biasanya mengalami gejala seperti kelainan yang mempengaruhi penglihatan, penurunan fungsi hipofisis karena penyebab ESS yang mereka alami (seperti tumor atau trauma hipofisis yang diobati) menyebabkan masalah kesehatan terkait lainnya. 

Gejala-gejala ESS sekunder lainnya meliputi.

  • Masalah ereksi (pada pria)
  • Menstruasi yang tidak teratur (pada wanita)
  • Libido rendah
  • Kelelahan
  • Energi rendah


Baca Juga: Apa itu sindrom metabolik?


 

Pengobatan dan Perawatan Empty sella syndrome (ESS)

Diagnosis ESS dibuat berdasarkan beberapa identifikasi dari gejala karakteristik, riwayat pasien secara rinci, evaluasi klinis pasien secara menyeluruh dan teknik pencitraan khusus seperti pemindaian tomografi terkomputerisasi (CT-scan) dan pencitraan resonansi magnetik (MRI). 

  • Penggunaan CT-scan. Tes ini dilakukan dengan menggunakan sinar-X dan komputer untuk membuat gambar tubuh.
  • Penggunaan MRI. Tes ini menciptakan tampilan 2-D dari organ atau struktur internal tubuh Anda, terutama otak atau sum-sum tulang belakang.


Bagi individu dengan gejala ESS primer, pengobatan yang dilakukan adalah obat-obatan dengan resep yang diberikan untuk mengobati kadar hormone yang tidak normal. Namun tidak ada pengobatan yang dilakukan jika fungsi hipofisisnya normal.

Bagi individu dengan ESS sekunder, pengobatan yang dilakukan melibatkan penggantian hormone yang hilang. Selain itu, dalam beberapa kasus dilakukan pembedahan untuk memperbaiki sella, untuk mencegah CSF bocor ke hidung dan sinus.

 

Apakah Empty sella syndrome (ESS) berbahaya?

Perlu digarisbawahi, ESS bukanlah suatu penyakit yang mengancam jiwa. Seringkali, dan khususnya individu dengan ESS primer, gangguan ini tidak menyebabkan masalah kesehatan dan tidak mempengaruhi harapan hidup. Jika Anda merasa mengalami gejala yang disebutkan, hubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Anda punya pertanyaan lain atau ingin lebih banyak mengetahui informasi lain seputar hidup sehat atau pertanyaan seputar penyakit lainnya, segera login ke daya.id dan dapatkan langsung informasinya. Anda juga dapat menggunakan fitur Tanya Ahli untuk berkonsultasi dengan ahli kami dan mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda mendaftar daya.id dan dapatkan informasi bermanfaat lainnya mengenai kesehatan secara gratis!

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

5.0

3 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

dr. Sanny Yanisyah Cutfriana

Dokter Umum

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS