Informasi Artikel

Dirilis

22 Juli 2026

Penulis Artikel

Dian Savitri


Tag

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,6%, tetapi banyak keluarga merasa tabungan cepat habis dan masa depan makin mahal. Tagihan menumpuk, biaya sekolah anak makin mahal, cicilan jalan terus, belum lagi kebutuhan mendadak yang datang dengan tiba-tiba. Fenomena apa yang terjadi saat ini?

 

Pertumbuhan Ekonomi yang Tidak Terasa di Bagi Individu Masyarakat

Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61% (sumber BPS Indonesia). Pemerintah menargetkan 5,4% untuk keseluruhan tahun 2026. Di atas kertas, angka ini cukup baik dan menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan. Namun bagi banyak keluarga kelas menengah, pertumbuhan ini tidak terasa. Apa alasannya?

Pertama, pertumbuhan ekonomi lebih banyak terjadi di sektor yang tidak menyerap tenaga kerja berkualitas tinggi atau tidak mendorong kenaikan upah secara memadai seperti belanja pemerintah dan sektor pertambangan serta industri pengolahan yang semakin terotomatisasi. Kedua, upah riil kelas menengah justru turun rata-rata 1–2% per tahun sejak 2018 berdasarkan data Bank Dunia. Artinya, kenaikan gaji nominal tidak berhasil mengejar kenaikan biaya hidup.

Kejadian yang dialami banyak rumah tangga disebut oleh para ekonom merupakan middle income trap, dimana pendapatan naik pelan-pelan, tapi biaya hidup naik lebih cepat, sehingga standar hidup stagnan atau bahkan menurun. Seperti berlari di atas treadmill, berkeringat, lelah, tapi tetap di titik yang sama.

 

Pos pengeluaran yang terus menggerus

Keluarga kelas menengah umumnya mengalokasikan pengeluaran untuk lima kebutuhan utama, yaitu perumahan (cicilan KPR atau sewa), pendidikan, kesehatan, transportasi, dan pangan. Kelimanya mengalami kenaikan harga yang lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan riil.

Biaya sekolah yang berkualitas naik 8-15% setiap tahun. Premi asuransi kesehatan meningkat. Harga rumah di perkotaan semakin sulit dijangkau, bahkan untuk ukuran kelas menengah. Tarif transportasi naik seiring kenaikan BBM. Dan harga pangan mengalami inflasi secara historis rata-rata 10,58% dalam periode 1997–2025, jauh melampaui inflasi umum.

Ketika lima komponen ini naik bersamaan, ruang fiskal rumah tangga untuk menabung, rekreasi, investasi jangka panjang, dan pengembangan diri menyempit drastis. Banyak keluarga yang akhirnya mengorbankan kapasitas membangun masa depan demi mempertahankan kebutuhan hari ini.

Salah satu kolumnis Kompas menyatakan fenomena ini dengan “kelelahan ekonomi kelas menengah." Dimana kelas menengah masih bekerja, masih berpenghasilan, dan masih berkonsumsi. Namun di balik itu, banyak yang merasa tabungan cepat habis, cicilan semakin berat, dan masa depan semakin mahal.

Rasio cicilan utang terhadap pendapatan rumah tangga sudah di kisaran 11-30%. Ketergantungan pada utang menciptakan jebakan stabilitas jangka pendek, konsumsi tetap terjaga, tetapi fondasi keuangan semakin rapuh. Guncangan kecil seperti kenaikan suku bunga, kenaikan harga-harga bahan pokok, PHK, atau biaya medis yang tidak terduga cukup untuk mendorong rumah tangga kelas menengah turun ke kelompok rentan.

(Ilustrasi middle income trap)

 

Bagaimana Keluar dari Jebakan Ini?

Pertama, lakukan financial check up secara  tahunan. Hitung apakah pendapatan riil (setelah inflasi) benar-benar naik atau justru turun. Bandingkan penghasilan saat ini dengan penghasilan 3 tahun lalu. Cek juga apakah ada aset yang bertambah dan utang yang berkurang. Atau dengan kata lain kekayaan bersih kita bertambah, stagnan atau malah berkurang karena harus makan tabungan

Kedua, investasi diri pada peningkatan kapasitas penghasilan, seperti dengan mengikuti pelatihan, sertifikasi, keahlian baru, atau jaringan profesional yang bisa membuka peluang pendapatan lebih tinggi. Penghematan ada batasnya, karena harga kebutuhan pokok yang meningkat, sedangkan peluang untuk mendapatkan pertumbuhan pendapatan tidak. Sehingga, cari kesempatan dengan upgrade skill untuk bisa meningkatkan pendapatan.

Ketiga, mampu membedakan utang produktif dari konsumtif. KPR atau modal usaha adalah utang produktif yang berpotensi membangun aset. Namun perlu bijak dalam mengambil keputusan kredit. Kredit untuk usaha dan kepemilikan properti perlu dipastikan, inflasi kenaikan nilai usaha dan propertinya melebihi beban bunga dari kreditnya tersebut. Sedangkan hutang konsumtif seperti pay later dan pinjaman online tanpa agunan, sering menjebak seseorang untuk berperilaku impulsif dalam berbelanja karena mudah dan promo yang menggiurkan. Utang-utang konsumtif ini perlu dihindari atau digunakan dengan kontrol yang ketat agar tidak merugikan dan menggerus uang kita. 

Keempat, bangun aset yang tumbuh di atas inflasi, seperti contoh emas (rata-rata 10-15% per tahun dalam rupiah), reksa dana saham (10-18% secara historis), atau SBN ritel (kupon 6,3-6,6%). Tetapkan tujuan keuangan sebelum berinvestasi dan sesuaikan pemilihan instrumen investasi dengan profil risiko masing-masing. Investasi membutuhkan waktu bukan untuk mencari keuntungan besar dalam sesaat. 

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Tips Menabung Tanpa Harus Korbankan Kebutuhan Sehari-hari
Tabungan

Tips Menabung Tanpa Harus Korbankan Kebutuhan Sehari-hari

18 Mei 2026

5.0
Kontrol Pengeluaran Gaya Hidup: Cara Bijak Tidak Terjebak Doom Spending
Tabungan

Kontrol Pengeluaran Gaya Hidup: Cara Bijak Tidak Terjebak Doom Spending

14 Mei 2026

5.0
6 Tips Menabung untuk Liburan Sekolah Anak Tanpa Ganggu Keuangan
Tabungan

6 Tips Menabung untuk Liburan Sekolah Anak Tanpa Ganggu Keuangan

06 Mei 2026

5.0
Strategi Menabung Otomatis Setiap Bulan untuk Karyawan Kantoran
Tabungan

Strategi Menabung Otomatis Setiap Bulan untuk Karyawan Kantoran

22 April 2026

Berikan Pendapat Anda