Ketika portofolio merah membara, berita dipenuhi kata-kata 'anjlok' dan 'trading halt', timbul pertanyaan apa yang harus dilakukan? Ada perasaan takut, sedih dan panik. Lebih baik jual semua atau diam dan menunggu?.
Guncangan Ekonomi Awal 2026
Bayangan memulai tahun 2026 dengan penuh optimisme. IHSG baru saja mencetak All Time High (ATH) di level 9.134,7 pada 20 Januari 2026. Namun hanya dalam hitungan minggu, badai tiba-tiba datang dari dua penjuru sekaligus, satu dari gedung kaca Wall Street dan satu lagi dari padang pasir Timur Tengah.
27 Januari 2026, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan pernyataan resmi pembekuan sementara seluruh penyesuaian indeks saham Indonesia, termasuk Foreign Inclusion Factor (FIF) dan penambahan saham baru ke indeks MSCI Investable Market. Alasan utamanya kekhawatiran serius terhadap transparansi kepemilikan saham, free float yang rendah, dan aksesibilitas pasar yang dianggap belum memenuhi standar investasi global. Keesokan harinya, IHSG dibuka ambruk 6,8% ke level 8.369, memaksa Bursa Efek Indonesia mengaktifkan trading halt dua kali dalam sehari. IHSG kehilangan 9,87% dari level ATH-nya dalam dua hari aktif bursa.
Belum selesai pasar mencerna guncangan MSCI, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas. Iran membalas dengan serangkaian serangan rudal ke pangkalan AS di kawasan Timur Tengah sekaligus secara resmi menutup Selat Hormuz, jalur laut yang mengalirkan hampir 20% pasokan minyak global.
Dari beberapa kejadian dan peristiwa di atas, dunia ekonomi dan keuangan sedikit banyak terkena dampaknya, antara lain:
- Harga minyak dunia dari sebelumnya: USD 71/barel menjadi: USD 100/barel (+29%).
- Harga emas sempat menyentuh level tertinggi baru USD 5.300/troy ons atau all time high.
- IHSG per 30 Maret 2026 turun ke 6980 atau koreksi -29% dari titik tertingginya di 9170.
Tidak hanya MSCI, Goldman Sachs, UBS, dan Nomura juga menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi sell atau hold. Moody's turut menurunkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat Baa2 investment grade masih dipertahankan. Pada saat itu rupiah tertekan ke kisaran Rp16.800 per dolar AS.
Apakah Investasi di Pasar Modal Masih Menjanjikan?
Sejarah pasar modal Indonesia mencatat satu pola yang tak pernah berubah: setiap krisis besar selalu diikuti oleh pemulihan. Tidak ada satu pun episode kejatuhan IHSG yang berakhir permanen. Memahami pola ini adalah fondasi terpenting bagi setiap investor.

Data historis membuktikan bahwa pasar selalu pulih. Tetapi pengetahuan saja tidak cukup, yang membedakan investor di masa krisis adalah mindset dan kedisiplinan dalam bertindak.
Berikut ini 6 pilar prinsip mindset di saat krisis yang bisa membantu:
1. Krisis adalah siklus bukan akhir.
Harga saham bisa jatuh karena sentimen, tetapi nilai fundamental perusahaan yang kuat tidak ikut jatuh. Investor diminta untuk tidak panik, apabila horizon investasi jangka panjang (5–10 tahun).
2. Fokus pada value perusahaan bukan pada harga saham saat ini.
Harga saham bisa jatuh karena sentimen, tetapi nilai fundamental perusahaan yang kuat tidak ikut jatuh. Lakukan analisis dan evaluasi saham berdasarkan ROE, DER, laba bersih, dan free cash flow.
3. Saat krisis adalah saatnya harga diskon pada perusahaan dengan fundamental baik.
Ingat wisdom dari investor senior Warren Buffet, “Be fearful when others are greedy, be greedy when others are fearful”. Beberapa perusahaan dengan fundamental bagus, memiliki harga yang terkoreksi. Saat pasar jatuh menjadi momen akumulasi.
4. Investasi dengan diversifikasi antar sektor dan aset.
Crash 2008: sektor pertanian −77%, pertambangan −76%, sementara konsumsi hanya −36%. Tidak semua sektor jatuh sama. Sebar portofolio ke minimal 3–4 sektor berbeda. Kombinasikan saham, obligasi, dan instrumen pasar uang.
5. Cash is King (saat krisis).
Likuiditas adalah senjata terkuat investor di masa krisis. Tanpa cash, Anda tidak bisa memanfaatkan harga murah. Selalu sisihkan 10–20% portofolio dalam bentuk deposito atau reksa dana pasar uang sebagai dana cadangan untuk mengambil kesempatan membeli saham di harga yang sedang terkoreksi.
6. Lakukan investasi rutin secara bulanan (metode DCA).
Dollar/Rupiah Cost Averaging terbukti mengurangi risiko masuk di harga puncak dan meratakan harga beli rata-rata. Tetapkan jadwal investasi rutin (misal: tanggal 25 tiap bulan) tanpa memandang kondisi pasar saat itu.
Jika Portofolio Minus, Apa yang Harus Dilakukan?
Tanyakan tiga hal ini untuk tiap emiten di portofolio:
- Apakah perusahaan ini memiliki fundamental yang kuat, laba konsisten, utang terkendali dan cash flow positif?
- Apakah penurunan harga disebabkan oleh kondisi pasar secara umum atau masalah spesifik pada perusahaan itu sendiri?
- Berapa horizon investasinya, jangka pendek (< 1 tahun) atau jangka panjang (> 5 tahun)?
Berikut adalah beberapa kategori jenis aset atau saham yang bisa disesuaikan dengan kondisi krisis saat ini:
1. Bluechip (BBCA, BBRI, TLKM, ASII).
Fundamental solid, laba stabil, dividen rutin. Bisa di-hold dan tetap akumulasi. Alasannya saham ini selalu pulih. Krisis 2020: BBCA turun lalu kembali ATH. Jual hanya jika ada perubahan fundamental.
2. Saham Consumer Goods (ICBP, INDF, UNVR).
Kondisi saat ini penurunan kurang lebih 30%. Saham-saham ini bisa di-hold dengan alasan permintaan barang konsumsi tidak berhenti di masa krisis. Defensif dan stabil. Pertahankan posisi.
3. Saham cyclical atau komoditas (batu bara, nikel, sawit).
Kondisi saat ini cukup volatile terhadap harga komoditas global sehingga perlu evaluasi ketat. Cek apakah penurunan karena siklus harga komoditas atau fundamental.
4. Saham spekulatif dan gorengan.
Saham gorengan memiliki pergerakan harga yang volatile namun biasanya tidak disertai dengan kinerja perusahaan yang stabil ataupun manajemen stabil. Ketika pasar sedang trend menurun tidak jarang harga saham gorengan ikutan turun sangat dalam dan tidak ada yang tahu kapan kembali ke harga semula.
5. Reksadana saham dan reksadana indeks.
Reksadana adalah produk investasi dengan portofolio sehingga isinya otomatis terdiversifikasi. Rekomendasinya tetap hold dan lakukan DCA (menabung rutin setiap bulan). IHSG selalu pulih dalam 12–17 bulan pasca krisis. Tambah unit secara rutin. Ini strategi paling aman bagi investor non-aktif.
6. Obligasi dan Sukuk Negara.
Saat terjadi krisis, biasanya obligasi suatu negara ikut terkoreksi sehingga yeildnya meningkat. Rekomendasinya bisa hold. Saat krisis 2008, yield obligasi pemerintah mencapai 11,75% p.a. untuk tenor 10 tahun. Ini peluang imbal hasil tinggi dengan risiko minimal.
Krisis bukan undangan untuk berhenti berinvestasi dan mereka yang bertahan dan tetap berinvestasi secara disiplin selalu keluar sebagai pemenang dalam jangka panjang. Satu hal yang terbukti oleh data di dalam setiap krisis adalah pasar modal Indonesia selalu menemukan jalannya untuk pulih.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda