Bertumbuh dalam Keluarga

Dirilis

04 Mei 2021

Penulis

Tim Penulis Daya

Narasumber

Efriyani Djuwita, M.Si., Psikolog

Pekerjaan

Dosen & Psikolog anak

“Keluarga menjadi kelompok terkecil yang menjadi tumpuan masing-masing individu di masa pandemi COVID-19”- Efriyani Djuwita.

Menjalankan peran sebagai seorang dosen, istri, ibu, dan psikolog anak membuat Efriyani harus membagi waktu dengan ketat agar setiap aktivitasnya berjalan seimbang. Baginya, menjalankan berbagai peran dalam satu tempat dan satu waktu adalah hal yang sulit pada awalnya. Sebelum pembelajaran jarak jauh ia bisa membatasi dirinya dengan jam kerja, namun saat ini semua seperti dicampur menjadi satu dan tentu menimbulkan beban kerja yang tidak biasa. Belum lagi harus berjuang menghadapi kecemasan perihal COVID-19 yang sampai saat ini angka kasus positif masih tinggi.

 

Taman Pengembangan Anak Makara UI

Saat ini Efriyani mendapatkan tanggung jawab sebagai kepala sekolah Taman Pengembangan Anak Makara UI (TPA Makara UI). Dikutip dari laman psikologi.ui.ac.id, TPA Makara UI adalah model taman penitipan anak yang sesuai dengan kaidah ilmu kesehatan dan psikologi untuk anak usia 1-4 tahun. TPA Makara UI memiliki program yang dikembangkan oleh tim dari Fakultas Psikologi guna meningkatkan perkembangan anak usia dini. Program tersebut tidak hanya disusun untuk anak namun melibatkan orang tua dan menekankan proses belajar yang ceria, terampil, bersahabat, dan mengoptimalkan potensi diri anak.

Namun di masa pandemi, TPA Makara yang berada di lingkungan Fakultas Psikologi UI terpaksa menghentikan layanan day care (penitipan anak selama orang tua bekerja) sesuai kebijakan kampus. Selain itu, beberapa orang tua memilih untuk berhenti menlanjutkan layanan pengembangan anak di TPA Makara karena merasa mampu mendampingi anak selama bekerja dari rumah. Setelah menimbang berbagai aspek, TPA Makara tetap melakukan layanan online bagi para murid yang masih ingin melanjutkan pembelajaran.

TPA Makara mengadakan kelas belajar online untuk anak-anak dan orangtua. Anak-anak belajar didampingi oleh orangtua selama belajar dari rumah menggunakan media online meeting. Bagi Efriyani, tatap muka tetap penting bagi anak-anak. Anak-anak tetap membutuhkan komunikasi dengan teman-teman untuk mencegah kejenuhan selama beraktivitas di rumah saja. TPA Makara UI memiliki staf pengajar dengan banyak ide kreatif untuk tetap menarik perhatian orangtua dan anak selama pembejalajaran daring.

 

Kesehatan Mental Anak di Masa Pandemi

Menurut Efriyani, masalah yang banyak dialami anak di masa pandemi adalah durasi penggunaan gawai atau screen time yang tinggi selama pandemi. Oleh sebab itu, penggunaan gawai pada anak harus terus diawasi oleh orangtua selama kegiatan pembelajaran maupun untuk waktu luang. Bagi Efriyani yang terpenting adalah penggunaan gawai tidak menyita komunikasi anak dengan orangtua. Justru di masa pandemi saat ini, menjadi peluang besar untuk menjalin keakraban antara orangtua dan anak.

“Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada anak yang justru semakin stres dengan kondisi di rumah. Ada anak yang ribut terus dengan adik atau kakak, maupun konflik dengan orangtua. Ada anak didik/mahasiswa saya yang seperti itu. Jika sudah seperti ini, sebaiknya ada upaya rekonsiliasi karena sesungguhnya keluarga adalah kelompok terkecil dan terdekat bagi seorang anak.” ujar Efriyani.
Beliau juga memperhatikan masalah sosial yang dialami oleh kelompok anak remaja yang seharusnya membutuhkan lingkungan untuk bersosialosasi. Pada umumnya, remaja ingin menjadi bagian dari pertemanan yang sesuai dengan dirinya. Namun keadaan pandemi membuat anak remaja pun tertahan di rumah saja, sehingga secara khsus remaja memungkinkan mereka merasa sendirian. Hal ini berisiko menyebabkan gangguan kesehatan mental sampai stress pada remaja. Sebagai orang tua juga harus mengawasi kebutuhan mental anak. Tentu memerlukan peran besar orangtua untuk menjaga kesehatan mental anak.

 

Menyayangi Diri Sendiri

Pandemi mengubah seluruh tatanan hidup masyarakat. Tidak dapat dihindari bahwa berbagai beban kerja yang seperti ‘dicampur aduk’ selama di rumah saja, membuat banyak orang mengalami gangguan kesehatan mental di saat ini. Sebagai psikolog, ia menyarankan seluruh masyarakat untuk melakukan memanagement stress dan menyeimbangkan antara pekerjaan dengan kebutuhan untuk diri sendiri.

 “Manajemen waktu itu sangat penting. Kita harus bisa mengatur waktu untuk bekerja, berkomunikasi dengan keluarga, bahkan waktu untuk diri sendiri juga perlu. Selain itu, di masa physical distancing ini bukan berarti social distancing lho ya. Kita harus tetap terhubung dengan orang-orang yang kita sayangi. Mendengar dan didengar itu sangat perlu untuk menjaga kesehatan mental kita.”  demikian pesan Efriyani Djuwita untuk bisa survive secara mental di masa pandemi.

Anda dapat bertanya seputar kesehatan, yang tepercaya dan langsung dari ahlinya di fitur Tanya Ahli. Salam sehat.

Penilaian :

5.0

2 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS