Terus Bergerak di Masa Pandemi

Dirilis

05 April 2021

Penulis

Tim Penulis Daya

Narasumber

Widi Dwi Asiarini, S.T., M.KM

Pekerjaan

Dosen dan Ahli Gizi

“Saya punya beban tersendiri sebagai dosen yang mengajar tentang kesehatan. Sebagai ahli gizi, saya harus memastikan keluarga saya memiliki status gizi baik. Kemudian sebagai seorang pendidik, saya harus memastikan anak saya terdidik.” ujar Widi Dwi Asiarini yang saat ini menjadi dosen tetap di Universitas MH. Thamrin, Jakarta. Beliau memiliki segudang pengalaman di bidang kesehatan sampai akhirnya menjatuhkan pilihan sebagai akademisi.

Widi menamatkan pendidikan D3 Gizi di kota kelahirannya, Semarang. Setelah lulus, beliau menjalankan praktik kerja selama 3.5 tahun di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Balikpapan sebagai ahli gizi. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan S1 mengantarnya pindah ke Jakarta dan meneruskan pendidikan di Universitas SAHID jurusan teknologi pangan. Demi mencukupi kebutuhan perkuliahan, Widi kuliah sambil bekerja di RS. Medistra, Jakarta. Meskipun beliau harus membagi waktu antara pendidikan dengan bekerja, semuanya ia lakukan dengan sepenuh hati dan terus mengupayakan yang terbaik.

Pasca menyelesaikan pendidikan sarjana, Widi memilih menjadi asisten dosen di Akademi Gizi (sekarang Universitas) MH. Thamrin pada tahun 1998, dan lanjut menjadi dosen di prodi D-3 Gizi. Setelah beberapa tahun kemudian, beliau mengambil pendidikan S2 bidang Gizi Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia. Meskipun kembali berkuliah di usia yang tidak lagi muda, beliau tak patah semangat dan berhasil menyelesaikan pendidikan dengan baik.

 

Mendidik dengan Hati

Widi menceritakan pengalamannya mengajar di masa pandemi. COVID-19 mengubah semua tatanan hidup masyarakat, termasuk kegiatan akademis yang harus dilaksanakan total daring. Ini menjadi kesulitan baginya ketika harus menjelaskan sesuatu dengan praktik. Bagi beliau, mahasiswa harus terbiasa melihat langsung takaran makanan dan melakukan asesmen pasien yang mana hal ini tidak bisa dilakukan selama pembelajaran daring. Widi sadar bahwa ia tidak mungkin terus-menerus berpangku tangan. Hal tersebut membuat ibu satu anak ini memutar otak untuk tetap memberikan materi dan memastikan mahasiswa memahami dengan baik. Tentu pada awalnya ia mengalami kesulitan beradaptasi dengan berbagai teknologi yang selama ini tidak pernah tersentuh. Tak jarang ia merasa jenuh, tegang leher, nyeri di bagian telinga, dan nyeri punggung jika harus marathon mengajar. Namun, ia terus belajar beradaptasi dengan keadaan dan ‘berdamai’ dengan COVID-19.

 

Merindukan Mahasiswa dan Masyarakat

Kecintaannya pada masyarakat dipupuk sejak mengabdikan diri di Balikpapan, Kalimantan. Sebelum COVID-19 melanda, kampus tempat beliau mengajar rutin mengadakan kuliah kerja nyata (KKN) ke daerah-daerah tertentu yang mengalami keterbatasan layanan kesehatan. Kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat dan mendorong penerapan pola hidup sehat masyarakat secara berkelanjutan. Selama KKN mahasiswa turun langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi kepada kader posyandu dan posbindu yang menjadi garda terdepan kesehatan masyarakat. Namun di masa pandemi, kegiatan ini terpaksa dihentikan demi mencegah penularan virus corona.

“Sejujurnya saya khawatir dengan karakter mahasiswa yang ‘tidak tersentuh’ di masa pembelajaran. Ketika pembelajaran langsung, ada kontak hati melalui setiap percakapan langsung maupun ekspresi wajah yang diterima dengan jelas. Namun saat ini, melalui daring seolah ada pesan yang terserap layar dan tidak sampai ke hati mahasiswa.” ujar Widi. Namun ia merasa di masa seperti ini mahasiswa semakin kreatif dan cerdas secara teknologi. Hal ini menjadi keunggulan generasi ‘corona’ untuk semakin mengembangkan diri di masa mendatang.

 

Kerjasama Pemerintah dan Masyarakat

Sebagai seorang akademisi, beliau mengapresiasi langkah pemerintah yang cepat tanggap beradaptasi dengan situasi pandemi. Small progress is still progress. Widi mengamati setiap kebijakan pemerintah secara khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang saat menjadi pengampu seluruh jenjang pendidikan di Indonesia, demi mengupayakan layanan edukasi yang optimal bagi seluruh pelajar. Bagi Widi, seluruh elemen pendidikan harus bersatu padu demi kualitas pelajar tetap baik meskipun belajar dari rumah.

Widi menanggapi kebijakan Kemendikbud terkait izin pembelajaran langsung dengan senang hati. Sebelum terjun ke dunia kerja, mahasiswa harus dibiasakan kerja praktik langsung. Beliau gemar membaca dan membandingkan sistem pendidikan Indonesia dengan negara lain seperti Korea dan Jerman. Menurut beliau, negara maju menerapkan pola pendidikan yang menitikberatkan pada praktik kerja dibandingkan dengan teori. Oleh sebab itu beliau berusaha semaksimal mungkin untuk menerapkan praktik kerja bagi mahasiswanya.

“Seperti yang pemerintah sampaikan, sudah saatnya berdamai dengan COVID-19. Kita tidak mungkin terus membatasi diri sedangkan hidup harus terus berjalan. Namun tetap yang terpenting adalah pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat. Semakin kita mengenal siapa ‘musuh’ kita, semakin paham bagaimana menghadapi musuh tersebut. Saya yakin jika kita disiplin menjalankan protokol kesehatan, mudah-mudahan terhindar dari virus corona.” demikian pesan beliau untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Anda dapat bertanya seputar kesehatan, yang tepercaya dan langsung dari ahlinya di fitur Tanya Ahli. Salam sehat.
 

Penilaian :

5.0

1 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS