Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “warteg”?
Pasti terbayang ya, warung makan sederhana dengan beragam lauk rumahan yang murah dan mengenyangkan. Saat ini, banyak orang yang membuka bisnis warteg karena peminatnya banyak dari karyawan, pelajar, hingga pekerja konstruksi di kota besar.
Anang, salah satu yang kini menjalankan bisnis warteg namun bukan warteg pada umumnya, misnya adalah mengubah konsep warteg konvensional naik kelas menjadi lebih modern agar setiap orang yang datang dapat menikmati makanan dengan lebih nyaman, termasuk kalangan masyarakat kelas menengah-atas.
Tumbuh Besar dengan Bisnis Warteg Milik Keluarga
Sejak kecil, pria yang akrab disapa Mas Anang ini memang akrab dengan bisnis warteg karena keluarganya menekuni bisnis ini di Tegal, tanah kelahirannya. Selepas SMP, ia ikut keluarga membantu usaha warteg daerah Jakarta. Tumbuh bersama bisnis warteg milik keluarga membuat Anang tidak hanya paham proses menjalankan bisnis tetapi juga sampai proses memasak lauk pauknya. Hal ini pula yang mendorongnya ingin meneruskan bisnis warisan keluarga saat dewasa nanti.
Kata orang, kita boleh berencana namun Tuhanlah yang menentukan. Si kecil Anang yang bercita-cita meneruskan bisnis warteg, di tahun 1996 ia justru bekerja di toko ATK (alat tulis kantor) milik saudaranya masih di wilayah Jakarta. 2 tahun kemudian, di 1998 Anang merintis bisnis ATK miliknya sendiri dan memiliki 8 karyawan. Namun, pebisnis ATK ini rupanya tidak bisa melepaskan cita-cita lamanya. Di tahun 2000-an, Anang meninggalkan bisnis ATK tersebut dan memilih menekuni bisnis warteg dengan modal Rp60 juta di Greenville – Jakarta.
Sukses mengembangkan bisnis warteg yang telah menjadi passionnya, Anang mulai mencoba menjalani juga bisnis yang lain seperti warung kopi di sekitar Kampus Binus Jakarta dan menjual ayam bakar. Namun, bisnis sampingan tersebut akhirnya gulung tikar karena tidak berjalan sesuai harapan.

Bisnis Warteg Modern, Konsep Warteg yang “Naik Kelas”
Pada tahun 2014 Anang kembali mendirikan warteg yang bernama Putra Bahari di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Warteg tersebut berjalan cukup sukses karena pemilihan lokasi yang tepat. Namun, ia merasa belum puas karena hanya kalangan tertentu yang mengunjungi wartegnya yaitu kelas menengah bawah. Makanya ia terpikir kalau saja wartegnya bisa dikunjungi dari berbagai kalangan, bahkan sampai kalangan kelas atas pasti akan lebih cuan. Karena itu, di tahun 2018 Anang menyulap warteg miliknya menjadi warteg yang lebih modern dan “naik kelas”.
“Saya ingin warteg saya dikunjungi juga oleh kalangan menengah atas seperti PNS, pejabat, kalangan kantoran dan sebagainya. Maka pada 2018 Warteg Putra Bahari saya ubah menjadi lebih modern, bersih dan higienis dengan lampu yang terang,” ujar Anang.
Konsep ini ternyata diterima masyarakat, dalam waktu singkat di bawah naungan Putra Bahari Group, Warteg Putra Bahari memiliki 400 cabang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Yang terbaru, Anang juga mendirikan brand Warteg Prima Bahari pada Mei 2025 yang juga berkonsep modern sesuai pangsa pasarnya. Baru tiga bulan berjalan, outletnya sudah mencapai 23 cabang. “Saya launching Warteg Prima Bahari dengan desain model baru, untuk saya tawarkan dengan konsep kemitraan. Rata-rata outlet Warteg Prima Bahari tersebar di Jabodetabek,” jelasnya.
Bagi yang berminat menjadi mitra bisnisnya, Warteg Prima Bahari menawarkan investasi mulai Rp160 juta untuk franchise fee. “Kalau total dengan luas 4 meter panjang 10 meter kurang lebih total Rp200 jutaan investasinya, sudah termasuk sewa kios,” terang Anang.
Omzet rata-rata mitra bisnis Warteg Prima Bahari 2-3 juta seharinya. Kalau dihitung estimasinya, mitra bisnis Warteg Putra Bahari bisa mencapai BEP dalam kurun waktu sekitar 2 tahun, menurut Anang hal itu sangat sehat untuk sebuah usaha. Dari pusat hanya mengambil management fee 3% dari net profit dan mewajibkan beli beras dari pusat.
“Dari pusat yang wajib dibeli hanya beras. Kalau lauk pauk dan saur mayur mitra bisnis Warteg Bahari bisa membeli sendiri di pasar terdekat. Untuk awal, mitra bisnis bisa mempekerjakan 3-4 karyawan. Kalau omzet tinggi bisa nambah karyawan,” ujar bapak satu anak ini.
Anang juga menambahkan, salah satu kunci keberhasilan mitra bisnis adalah mencari lokasi strategis yang sudah ada marketnya misalnya sudah ada tempat kos-kosan, sudah ada pabrik atau tempat kerja, ada rumah sakit dan perkantoran. Selain itu, pihaknya juga memberikan pelatihan untuk SDM yang terlibat. “Kita sudah ada traning SDM, jadi sudah ada standar cara memasak, sehingga kualitas rasa sama di berbagai cabang. Kami memiliki sekitar 40-50 menu sehingga punya banyak pilihan bagi pengunjung yang datang. Orang tidak jenuh karena banyak pilihan, apalagi harga juga terjangkau,” ujar Anang.
Anang merupakan typikal pengusaha yang otodidak yang mampu belajar dari mana pun. “Saya belajar secara otodidak, belajar dan melihat tren perkembangan warteg di Indonesia. Saya bergabung di Himpunan Warteg Indonesia. Saya melihat banyak teman yang berhasil, bagaimana mereka bisa sukses, mengapa saya tidak bisa seperti mereka. Itu menjadi penunjang semangat saya,” tegasnya.

Warteg Salah Satu Bisnis yang Semakin Berkembang Bahkan Di Masa Pandemi
Menurutnya, warteg bukan makanan musiman, sehingga investor banyak yang minat. Jadi mitra bisnis tidak perlu khawatir karena bisnis warteg berjalan sepanjang masa dan terbukti tahan krisis. “Terbukti, di masa pandemi banyak usaha-usaha kuliner gulung tikar, saya malah membuka 100 cabang. Karena orang butuh imun, makanya warteg terus buka. Kesempatan bisa diambil di masa sulit,”ungkap pria yang sempat sekolah di SMPN Tugu Turi, Tegal ini.
Strategi utamanya yaitu menyesuaikan kebijakan dengan kondisi pandemi saat itu, seperti aturan jaga jarak, dan memprioritaskan makanan yang dibungkus bawa pulang. Anang juga memanfaatkan digital marketing melalui Facebook, TikTok, Instagram, dan juga website.
Semakin bertambahnya cabang dan jumlah karyawan bukan berarti bisnis warteg modern milik Anan ini bebas hambatan, diantaranya :
1. Lokasi yang marketnya berkurang
Misalnya pabrik atau kantor pindah atau pengurangan karyawan. Kalau pabrik atau kantor pindah, otomatis karyawannya juga pergi dari lokasi tersebut ke tempat yang baru sehingga pelanggannya berkurang. Kalau terjadi hal seperti ini, biasanya yang dilakukan adalah pindah lokasi juga ke tempat yang pasarnya lebih potensial.
2. Faktor SDM : kendala mengelola karyawan
Misalnya turn over karyawan. Makanya, supaya karyawan betah, Anang mencoba memberikan fasilitas, kenyamanan dan uang tip. Komunikasi juga harus dijaga agar tidak terasa kaku dan tercipta suasana kekeluargaan.
Dalam berbisnis Anang senantiasa memegang prinsip percaya diri dan jujur yang menurutnya menjadi modal penunjang keberhasilan bisnisnya. Ia juga berbagi tips untuk yang berencana memulai bisnis, yaitu take action. Anang mengakui, tekad dan niat yang kuat saja tidak cukup, harus berani take action. Misalnya take action untuk mengumpulkan modal baik dari tabungan ataupun pinjaman. Namun, Anang menyarankan untuk menghindari meminjam modal untuk memulai bisnis. Kalau bisnis sudah jalan dan perlu pengembangan, pinjaman modal tidak masalah karena sudah bisa dihitung berapa omzet yang didapat dan berapa banyak cicilan yang bisa dibayarkan.
Selain itu, perlu juga perencanaan sederhana namun matang sebelum memutuskan menjalankan bisnis. “Misalnya saya harus punya modal dahulu untuk bisnis warteg, kemudian mencari lokasi yang strategis termasuk biaya sewa. Setelah itu baru dihitung apakah biaya sewanya terjangkau dengan asumsi omzet warteg. Kalau tidak, cari lahan yang tidak membebani biaya sewa,” ungkap pria kelahiran Tegal, 1984 ini.
Kedepannya pria pehobi jalan-jalan ini menargetkan Warteg Prima Bahari membuka 100 cabang mitra bisnis baru. Ia juga berencana membuat warteg semi resto yang konsumennya dari kalangan atas.
Anang adalah salah satu pebisnis yang sukses membangun bisnis dengan sistem kemitraan. Tertarik mengikuti jejaknya? Konsultasikan dengan pakar franchise di Daya.id agar usaha yang Anda jalankan semakin matang dan sukses.
Baca kisah sukses pengusaha inspiratif lainnya di Daya.id. Yuk daftar dan kunjungi Daya.id sekarang juga!
Berikan Pendapat Anda