Dari Limbah, Jadi Berkah

Dirilis

19 November 2018

Penulis

Tim Penulis Daya Tumbuh Usaha

Pengusaha

Desmiati

Jenis Usaha

Usaha Pembuatan Kotak Kayu

Berkat limbah, Desmiati telah berhasil menjadi pengusaha kecil yang sukses. Tujuh tahun yang lalu bersama dengan suaminya Listianto, yang merupakan mandor bongkar muat di sebuah pabrik kertas, ia melihat tumpukan kotak kayu bekas maupun kepingan palet bekas packing kertas tidak terpakai. Saat itu yang terlintas di benaknya, "Daripada tertumpuk terus, makan tempat, mubazir, saya bawa saja ke rumah, mungkin bisa dimanfaatkan.” Menurutnya, pasti ada yang bisa dilakukan dengan kotak bekas tersebut.

Bermodalkan Keterampilan dan Alat Sederhana
Bermodalkan keterampilan seadanya, kotak kayu bekas berhasil dimanfaatkan menjadi lempengan palet yang dijadikan kotak penyimpan telur maupun gula merah. Saat ini keuntungan yang bisa dirasakan Desmiati dan suaminya bisa mencapai Rp 20-30 juta per tahun. Belum banyak memang, namun dengan memanfaatkan barang bekas tersebut, dirasakan sangat menguntungkan dan prospektif akan terus berkembang.

Hampir tiap hari Desmiati dan suami memanfaatkan kotak kayu bekas tersebut. Awalnya dengan menggunakan gergaji tangan, mereka memotong-motong kayu lempengan yang diperoleh dari pabrik. Mereka berbagi peran, Listianto memotong kayu lempengan menjadi kayu kecil-kecil, sedangkan Desmiati yang menyatukan lempengan-lempengan tersebut menjadi sebuah kotak yang kemudian bisa dimanfaatkan sebagai penyimpan telur maupun gula merah. Biasanya Listianto mengerjakan tugasnya diwaktu siang atau sore hari setelah mengerjakan pekerjaan utamanya sebagai seorang mandor bongkar muat. Sementara Desmiati melanjutkan pekerjaan suaminya pagi sampai siang hari. Usaha ini dikerjakan hampir setiap hari, setiap pagi sampai siang. Kotak telur dan gula merah yang sudah jadi kemudian dikumpulkan dan disimpan di samping rumah, untuk kemudian nanti akan diambil oleh perusahaan telur yang telah bekerjasama dengan Desmiati.

Dengan tingginya permintaan konsumen, serta untuk membantu pengerjaan, Listianto membuat mesin pemotong kayu. Walaupun mesin ini merupakan gear sederhana, tetapi memiliki peran besar dalam kecepatan pemotongan kayu. Dari hanya 600-700 kotak dihasilkan setiap bulannya dengan bantuan mesin tersebut meningkat menjadi 100 kotak per hari

Selalu Bersyukur
Dari usaha tersebut ternyata pasar tidaklah menjadi masalah, berapapun kotak yang dihasilkan Desmiati dan Listianto sudah pasti ada yang mengambilnya, yaitu perusahaan-perusahaan penghasil telur dan gula merah yang membutuhkan kotak sebagai penyimpannya. Dengan semakin majunya usaha ini, kebutuhan akan bahan baku yang berupa kotak bekas sebagai limbah inipun semakin meningkat. Untuk menjaga keberlanjutan usahanya Desmiati dan suaminya telah membuat kontrak dengan perusahaan kertas penghasil limbah tersebut untuk menjamin adanya bahan baku. Biasanya kontrak tersebut senilai Rp 8 juta dan berlaku selama satu tahun, sehingga dalam setahun Desmiati bebas mengambil bahan baku kapanpun ia membutuhkannya. Nilai kontrak tersebut tidak termasuk harga bahan baku yang telah ditetapkan oleh mandor perusahaan tersebut. 

Setiap bulan, mereka mendapatkan sekitar 400-500 keping palet. Tadinya limbah kayu itu ia dapatkan cuma-cuma, namun seharus membeli walaupun memang dengan harga yang juga relatif murah yaitu Rp 5.000/keping palet. Dari 1 keping palet tersebut bisa dihasilkan 6-7 kotak telur, yang kemudian dijual dengan harga Rp 3.500/kotaknya. 

Berbeda dengan sistem pembelian bahan baku yang menggunakan kontrak, untuk penjualan kotak palet yang sudah jadi dan siap dipasarkan, Desmiati dan suami tidak memiliki kontrak khusus dengan pembeli produk mereka. Desmiati dan suami membuat kotak berapa banyak pun pasti akan diambil. Begitu pula dengan periode pengambilannya, kapanpun perusahaan membutuhkan kotak tersebut selalu tersedia. Dalam memasarkan produk kotak kayu ini Desmiati tidak menggunakan promosi khusus agar produk terjual. Selain itu, dalam penjualan kotak ini mereka tidak menerima pembeli yang ingin melakukan pembayaran diawal. Hal ini dikarenakan Desmiati tidak ingin terikat dengan konsumennya. Jadi sistem yang dijalankan sifatnya memang tidak seperti yang biasa dilakukan oleh penjual lainnya dimana pembeli bisa memesan produk yang diinginkan. Desmiati merasa bahwa ia tidak perlu khawatir terkait ketersediaan bahan baku dan distribusi hasil kotak telur dan gula merahnya. 

Dengan usahanya yang semakin berkembang, ternyata masih menyisakan cita-cita akhir yang belum tercapai. Desmiati juga ingin mengembangkan usaha lain yaitu membuka toko manisan dan memelihara hewan ternak. Kesuksesan yang dirasakan saat ini belumlah lengkap apabila mereka belum menunaikan ibadah haji. Keinginan menunaikan ibadah haji bagi mereka adalah sebagai perwujudan rasa syukur atas limpahan rezeki yang sudah diberikan Sang Pencipta pada mereka. 

Kesuksesan yang didapat pada saat ini juga tidak terlepas dari disiplin, upaya kerja keras, doa, dan menjalani hidup seadanya tidak berhura-hura. “Apa yang sudah didapat harus selalu disyukuri, bisa disimpan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sesuai porsinya.”, ujar Listianto.
 

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS