Kendati Stroke, Pensiunan Ini Berhasil Kirim Getuk Marem Jelajahi Indonesia

Dirilis

11 Pebruari 2019

Penulis

Tim Penulis Daya Tumbuh Usaha

Pengusaha

Hanggono

Jenis Usaha

Produksi Getuk Marem

Jaminan uang pensiun ternyata belum memberi Hanggono ketenangan akan masa depan, terlebih soal bagaimana menjamin perekonomian keluarga ketika tidak lagi bekerja. Oleh karena itu pada tahun 1986, Hanggono mengajak sang istri berdiskusi, bisnis apa yang cocok mereka tempuh agar tetap menyibukkan diri. "Waktu itu saya belum pensiun," cerita Hanggono.

Ide Bisnis dari Sang Ayah
Rupanya ide datang dari orang tua mereka. Ayah dari Hanggono, seorang pengusaha bengkel sepeda, begitu dekat dengan pengusaha getuk terkenal, yaitu getuk Trio. Sang ayah sering mendengar kesulitan-kesulitan dari pembuat getuk yang dulu serba pakai tangan, prosesnya bisa 3-4 jam hanya untuk membuat adonan. Sebagai pebengkel, ayah dari Hanggono menawarkan ide kepada pemilik Trio itu, untuk membuatkan alat pencetak adonan.

Dikarenakan kedekatannya itu, Hanggono memiliki ide dan memutuskan untuk berjualan getuk dari satu pasar ke pasar lain dengan menggunakan sepeda. Kata "marem" (bahasa Jawa: puas) menjadi merek di kemasan, dengan doa agar para penikmat getuk buatan mereka senantiasa puas menikmati produknya. 

Membagi waktu antara percobaan membuat getuk, pengabdian kepada negara, dan kebutuhan keluarga yang tidak pernah habis, ia jalani. Di pasar, ia menambah kenalan yang cukup membantu dalam membuka tempat penjualan yang baru, sebagai tempat titip kemasan getuk, atau sekadar tempat untuk memperkenalkan produk.

Empat Bulan Belum Sesuai Harapan
Namun cerita kehidupannya tidak selalu semanis adonan. Popularitas getuk di berbagai acara tidak selalu sejalan dengan kebutuhan pasar bisnisnya. Hanggono memproduksi hampir satu kuintal getuk setiap pekannya, tetapi yang terjual tidak setengahnya. Biaya terus naik dan rugi terus menghantui. Empat bulan penjualan belum membuahkan hasil baik. Di sini Hanggono dan istri mulai menimbang apakah jalan berbisnis merupakan pilihan tepat.

Kala itu mereka juga memiliki pinjaman modal, dengan harapan modal tersebut itu dapat membantu membangun bisnis getuk jauh melebihi para pesaing, dan bisa mengembalikan modalnya dalam waktu tidak terlalu lama. Hasil penjualan yang begitu tipis jadi tantangan dalam mengembalikan pinjaman modal tepat waktu. Sementara sang istri mulai menunjukkan isyarat bahwa mereka sudah waktunya berhenti.

Berbeda dengan sang istri, dengan sisa sumber daya yang ada, Hanggono mencari cara agar getuk lebih diterima dan penjualan bisa lebih baik. Ia menjajakan Getuk Marem ke pasar-pasar baru, bahkan yang belum pernah ia datangi. Kerabat yang datang dari luar kota pun ia titipi Getuk Marem secara gratis, sekadar upaya agar produknya dikenal oleh semakin banyak orang.

Memberi Merek dan Memperindah Kemasan
Hanggono memperindah kemasan menjadi kotak dus, serta penulisan merek yang menarik ternyata berhasil membawa Getuk Marem unggul, dibandingkan banyak produk pesaing di pasar, yang kala itu masih mengandalkan kemasan plastik. 

Hanggono begitu getol memperkenalkan Getuk Marem sebagai merek dagang, meskipun kala itu belum resmi, karena perlu didaftarkan pada dinas terkait. Akan tetapi, ia terus mencantumkan Getuk Marem di setiap dus produk yang dijualnya. Untuk memperindah lagi, warna kardus dibuat cerah, dan di samping tulisan merek ia cantumkan gambar siluet berbentuk stupa Candi Borobudur, sebagai penanda agar orang semakin mudah mengenali getuknya dari jarak jauh.
Akhirnya pasar mulai merespons pembaruan. Getuk Marem mulai dipasang di tempat-tempat yang lebih bagus, masuk ke toko-toko yang lebih terkenal. Peminatnya pun mulai meluas dan mulai dipertimbangkan sebagai produk oleh-oleh. Produksi pun perlahan-lahan stabil, melebihi 200 kardus setiap harinya. Getuk beranjak modern, berdiri sama tinggi dengan jenis penganan oleh-oleh lain seperti Bakpia Yogyakarta dan Lumpia Semarang. Hanggoro berharap Getuk Marem bisa bersaing dengan dua merek besar lainnya, yaitu Getuk Trio dan Getuk Itjo. 

Bereksperimen Agar Kualitas Meningkat
Walaupun memasang standar khusus kualitas dan metode pengemasan, Hanggono tidak segan-segan bereksperimen pada bahan dan metode pengolahan, agar tercipta kualitas yang lebih baik.

Hanggono pernah mencari ketela hingga ke Bogor dan Bandung di Jawa Barat, kemudian Jawa Timur, daerah Ponorogo, pernah juga ke Kendal, Pati. Ia menjelajahi banyak kampung dan ketemu banyak petani, agar tahu kualitas singkong seperti apa yang bisa menghasilkan rasa getuk paling enak. 
Tidak hanya itu, ia semakin giat mempelajari pasar, utamanya pangsa-pangsa khusus getuk di seputaran Jawa Tengah. Saat krisis moneter melanda perekonomian Indonesia, Hanggono berhasil membawa Getuk Marem terus melangkah. 

Masa-masa setelah itu ia gunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, membuka layanan distribusi baru hingga ke Semarang dan beberapa daerah di Jawa Timur, bahkan Sumatera. Cara pemasaran yang dipakai pun tetap sama, sistem titip oleh-oleh dan cerita dari telinga ke telinga. 

Beri Kenyamanan Kerja Pada Karyawan
Tidak banyak perusahaan yang mampu menjaga pegawainya untuk setia bekerja selama lebih dari 20 tahun. Getuk Marem berhasil membuktikan bahwa menjaga kesetiaan para pekerja bukan melulu soal bayaran atau gaji, tetapi lebih dari itu yaitu memberi “kenyamanan” kerja pada karyawan.

Pada masa-masa awal perjalanannya, tahun 1987, roda bisnis Getuk Marem dibantu 3 karyawan. Proses belajar di Getuk Marem seperti membangun sebuah keluarga baru. Tidak hanya itu, jam kerja dihargai, upah dipenuhi, dan begitu tanggung jawab selesai mereka bisa pulang ke rumah dan ketemu anak istri.

Di tahun 2015 perusahaan industri rumah tangga "Getuk Marem" sudah menjamin kehidupan 28 orang karyawannya. Semuanya berasal dari daerah Magelang dan sekitarnya.

Inovasi Tiada Henti
Meski perjalanannya telah mengilhami banyak orang, Hanggono belum berhenti merawat impian. "Saya kepingin ciptakan produk emping, atau ceriping begitulah, tapi dari citarasa getuk,” ucapnya.

Di balik kesuksesannya itu, pada tahun 2010 Hanggono terserang stroke. Demi meneruskan perjuangannya, kini ia lebih banyak bercerita dari ruang keluarga rumahnya, sembari menikmati bunyi-bunyi mesin giling getuk dari kamar produksi di sebelah.
 

Penilaian :

4.0

1 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS