Mahasiswa Ini Jadi Pionir Bisnis Laundry Kiloan dengan Penghargaan MURI

Dirilis

16 September 2020

Penulis

Majalah Franchise Indonesia, Mitra Strategis Program Daya Sejak 2014

Pengusaha

Agung Nugroho Susanto

Jenis Usaha

Simply Fresh Laundry

Sebagai mahasiswa perantau yang sering menggunakan jasa laundry, Agung Nugroho Susanto melihat potensi dan peluang usaha pada bisnis tersebut. Saat itu, ia masih duduk di bangku kuliah di Fakultas Hukum UGM Yogyakarta. 

Simply Fresh Laundry, nama usaha laundry yang didirikannya pada 28 Februari 2006. Berawal dari modal menggadaikan BPKB motor kesayangan, ia sukses menjadi pengusaha waralaba laundry kiloan. Kini, nama pria yang satu ini tak asing di industri franchise. Ia merupakan pengusaha yang pionir mewaralabakan laundry kiloan. 

Ide bisnis laundry kiloan ini muncul karena waktu itu masih banyak laundry yang dikerjakan secara konvensional di rumah. Lalu, ia berpikir, bagaimana jika bisnis laundry dikonsep dengan value tertentu agar lebih maksimal lagi. 

“Dengan konsep laundry di tempat yang representatif (sewa ruko), saya memberikan value berupa kelebihan yang belum dijalankan oleh kompetitor. Seperti boleh pilih sendiri dari 6 aroma pewangi sesuai selera, cuci kilat 4 jam jadi, dan lain-lain,” ujar pria yang akrab disapa Agus ini.

 

Belajar Bisnis Laundry Secara Otodidak, Modal dari Gadaikan BPKB dan Bantuan Orang Tua

Ia memulai usahanya dengan modal awal sekitar Rp40 juta untuk sewa tempat, serta Rp20 juta untuk membeli mesin cuci dan mesin pengering, setrika, meja, rak, dan peralatan perlengkapan. “Biaya produksi, yaitu biaya listrik, detergen, pewangi, dengan HPP sekitar 40% dari harga jual saat itu,” bebernya.

Karena masih mahasiswa, modal usaha Agus dibantu oleh orang tua. “Saya sempat juga gadaikan BPKB sepeda motor. Tenaga kerja akhirnya dapat pegawai ibu-ibu sekitar tempat kerja,” kenangnya. 

Untuk mendapatkan alat penunjang usaha, Agus banyak bertanya-tanya kepada yang sudah lebih dulu menjalankan usaha laundry. “Untuk diawal, bahan baku chemical masih beli jadi, tidak produksi sendiri. Lalu akhirnya ikuti pembelajaran kepada ahli chemical, dan akhirnya bisa membuat produksi bahan baku sendiri,” jelasnya. 

Tidak memiliki pengalaman berbisnis laundry, Agus pun belajar secara otodidak ke orang yang sudah berpengalaman dan melalui proses trial error. “Sebagai pemula di bisnis ini tentu saya mengalami proses trial error terlebih dahulu,” tandas pria yang punya hobi baca buku dan mengikuti pengajian ini. 

Agus sepertinya memang suka belajar sesuatu secara otodidak. Sebelumnya, Ia juga pernah berbisnis distro dan counter handphone, dan mengalami kegagalan karena masih belum ada pengalaman bisnis serta belum bisa mengatur cash flow

 

Belajar dari Kegagalan dan Keluhan Pelanggan

Dampak otodidak, banyak persoalan yang harus dihadapi Agus. Mulai dari komplain baju pelanggan rusak yang harus diganti rugi, mengatur manajemen karyawan, belajar proses laundry yang cepat, sampai dengan  jumlah mesin yang terbatas harus lembur hampir 24 jam untuk menggiling pakaian di mesin cuci. 

Saat itu, ia sempat berpikir untuk berpindah ke bisnis lain. Namun akhirnya ia memantapkan diri untuk tetap fokus berbisnis di bidang laundry. “Kendala yang saya alami yaitu kerugian usaha karena penentuan harga yang terlalu rendah, ditambah harus beberapa kali ganti rugi ke pelanggan yang pakaiannya rusak,” bebernya. 

Namun dari kendala tersebut ia justru bisa memetik banyak pelajaran. Salah satunya ia bisa mengedukasi dari para pelanggan terkait pakaian luntur, untuk diberikan info terlebih dahulu. “Karena yang terjadi ketika luntur kena pakaiannya pelanggan lain otomatis kita jadi harus ganti rugi. Kemudian seiring waktu, dibuat aturan bahwa pakaian luntur yang tidak diberitahu dan kena pakaiannya sendiri maka outlet tidak mengganti rugi,” jelas Sarjana Hukum ini. 


 

Melakukan Inovasi dengan Gaya Bisnis Distro

Untuk memasarkan bisnisnya, Agus menggunakan ilmunya sewaktu berbisnis distro pakaian anak muda sebelumnya. “Saya melakukan pemasaran dengan gaya bisnis distro, mulai dari tampilan outlet yang full branding, lalu adakan inovasi-inovasi yang belum dilakukan kompetitor, sebar brosur, sampai melakukan terobosan mendapat Rekor MURI sebagai  laundry  kiloan pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi ultraviolet,” terangnya.

Kemudian, ia juga mengikuti kompetisi kewirausahaan yang diselenggarakan oleh BUMN, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan sebagainya, yang akhirnya mendapat juara dan sering diliput media nasional baik televisi maupun media cetak nasional. “Yang kemudian juga dapat Rekor MURI sebagai WARALABA  Laundry Kiloan Pertama di Indonesia,” sambungnya.


 

Jalin Kedekatan dengan Pelanggan

Faktor lain yang mendukung keberhasilan bisnisnya, kata Agung, adalah menjalin relasi dan membangun kedekatan kepada pelanggan. Pendekatan tersebut dilakukan berupa kegiatan Customer Relationship Management secara berkesinambungan. “Pemasaran saat ini sangat terbantu dengan teknologi sehingga bisa beriklan di media sosial dan Google,” bebernya.  “Produksi kami juga sudah terpusat ada tempat produksi sendiri juga beserta gudang penyimpanannya,” tambahnya.

Saat ini, Simply Fresh Laundry terus berkembang dan sudah menginjak 14 tahun serta sudah memiliki pangsa pasar tersendiri, sehingga tidak harus banting-bantingan harga, sesuai segmen target yang dipilih.

Total outlet Simply Fresh Laundry pun kini sudah berjumlah 352 outlet yang tersebar di 100 kota di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua. 

Dengan harga jual berkisar dari 6.500 per kilogram sampai dengan 15.000 per kilogram tergantung kotanya, omset per outlet Simply Fresh Laundry variatif tergantung usia outlet dan lokasi. “Berkisar sampai dengan Rp18 juta – Rp45 juta per bulan per outlet,” kata Agus, seraya berkata, “Rata-rata balik modal usaha ini sekitar 1,5 tahun – 2,5 tahun,”
 
Agus mentargetkan usahanya untuk lebih fokus kepada sistem franchise full kelola oleh manajemen (full management) supaya standarisasi lebih terjaga yang berdampak pada kepuasan pelanggan.

Ia memberikan tips singkat, jika ingin bisnis laundry jangan hanya bergantung pada value harga yang murah, namun bangunlah value sesuai target segmen yang diincar dengan memberikan spesialisasi, misal fokus laundry karpet, spesialis cuci sepatu, spesialis bedcover, dan sebagainya. “Sehingga miliki pangsa pasar yang tidak head to head dengan yang sudah banyak pada umumnya,” tutupnya. 
 

Penilaian :

4.6

5 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS