Anda bercita-cita punya bisnis sendiri tapi belum tahu harus mulai dari mana? Liana Oktavia membuktikan bahwa perjalanan bisnis bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Bagi content creator yang satu ini, semuanya berawal dari hal yang ia tekuni sehari-hari: konten di TikTok.
Berawal dari endorse, Liana memutar uangnya ke berbagai kemitraan satu per satu, dari minuman, nasi goreng, sampai martabak. Tidak semuanya berhasil. Tapi dari tiap kemitraan, ia memungut pelajaran yang kelak membawanya ke langkah besar: mengakuisisi sebuah perusahaan suppliers, yang tahun ini tumbuh hingga 400% secara bisnis.
Bagaimana perjalanan seorang content creator bisa berujung jadi pemilik perusahaan supplier? Ikuti kisah inspiratifnya berikut ini, yuk!
Mulai dari TikTok, Modal Pertama Datang dari Endorsedari Endorse
Perjalanan bisnis Liana dimulai pada tahun 2020, saat ia memutuskan terjun penuh sebagai content creator. Platform yang ia geluti adalah TikTok. Dari konten yang ia produksi, tawaran endorse mulai berdatangan dan dari sanalah modal pertamanya pelan-pelan terkumpul.
Liana tidak membiarkan uang itu mengendap begitu saja. Ia ingin memutarnya jadi sesuatu yang produktif. "Saya nabung dari hasil endorse, lalu saya putar buat beli kemitraan," kenang Liana. Pilihannya jatuh pada model kemitraan sebuah langkah yang akan mengajarkannya banyak hal soal realita berbisnis.
Kemitraan Minuman Pertama: Pelajaran Soal Merchant Fee
Awal 2021, Liana mengambil kemitraan pertamanya: sebuah brand minuman dengan menu sederhana, kopi tarik dan teh tarik. Di proposal, modal yang tertera Rp 20 juta. Namun kenyataannya angka yang dibutuhkan sampai Rp40 juta.
Kemitraan ini menjadi yang paling lama bertahan di antara semua yang pernah Liana ambil, yakni sekitar 3 tahun. Dari sini pula ia mendapat satu pelajaran finansial yang berharga: betapa tingginya merchant fee dari platform online food.
"Kalau bisnis saya cuma traffic dari online, tidak akan survive, tidak cukup buat bayar operasional," ujar Liana. Ia akhirnya keluar dari kemitraan ini melalui skema takeover.
Nasi Goreng Depan Kantor: Ramai Belum Tentu Terlihat Terlihat

Tak berhenti di minuman, Liana melanjutkan ke kemitraan kedua: nasi goreng. Strateginya terdengar cerdas ia membuka gerai tepat di depan kantornya sendiri, dengan asumsi tidak perlu membayar sewa sehingga biaya operasional jadi lebih rendah.
Namun asumsi itu tidak terbukti. Kemitraan ini hanya bertahan hampir satu tahun. "Awalnya saya kira operasional jadi lebih rendah karena tidak bayar sewa. Tapi ternyata kalau tidak ada traffic, tidak bayar sewa juga tidak membuat bisnis survive," aku Liana. Ada satu faktor lokasi yang ia sadari kemudian: gerainya berada di jalur cepat. Walaupun banyak orang lalu-lalang, gerai itu tidak begitu terlihat karena orang melintas dengan kecepatan tinggi. Ramai, tapi tidak terlihat dan itu membuat perbedaan besar.
Autopilot Martabak: Kehilangan Tanpa Kendali
Kemitraan ketiga Liana berbentuk autopilot, dengan produk martabak. Dalam model ini, ia menanam modal sementara operasional dijalankan pihak lain. Kemitraan ini berjalan hampir 2 tahun.
Lalu terjadilah peristiwa yang mengajarkan Liana soal pentingnya kontrol: brand tersebut tiba-tiba hilang. Dan Liana tidak bisa berbuat banyak. "Brand-nya hilang tiba-tiba, dan saya jadi tidak punya akses ke sistem POS-nya," ujarnya. Tanpa akses ke sistem, ia tidak memegang data maupun kendali atas bisnisnya sendiri.
Tiga Kemitraan, Satu Pelajaran soal SDM
Dari tiga kemitraan yang ia jalani, Liana belajar banyak hal salah satu yang paling membekas adalah soal mengelola sumber daya manusia. Menurutnya, ada tantangan khas yang dihadapi pebisnis di Indonesia: Turnover karyawan yang cepat. Pergantian karyawan yang tinggi menjadi salah satu tantangan operasional nyata yang harus dihadapi dalam menjalankan bisnis dengan tim di lapangan.
Meski dari tiga kemitraan tersebut tidak semuanya mulus, Liana tidak berhenti. Uang yang diputar dari satu kemitraan ia gunakan untuk mengambil kemitraan berikutnya. Satu jadi dua, dua jadi tiga semua sambil terus memproduksi konten dan menabung dari hasil yang ada.
Akuisisi Credotti: Dari Mitra Menjadi Pemilik Pemilik

Tabungan dari perjalanan panjang itu akhirnya membawa Liana ke langkah yang berbeda. Pada tahun 2024, ia mengakuisisi sebuah perusahaan supplier bahan baku gelato bernama Credotti.
Jika sebelumnya ia selalu berperan sebagai mitra yang mengambil sistem orang lain, kali ini posisinya berubah menjadi pemilik. Dan hasilnya terlihat: tahun ini, secara bisnis, Credotti tumbuh hingga 400%.
Pesan untuk Calon Pengusaha Calon Pengusaha
Dari seluruh perjalanannya, Liana punya satu pesan yang ingin ia tinggalkan untuk siapa pun yang sedang merintis usaha.
"Bisnis itu maraton, bukan sprint. Yang menang bukan yang paling cepat tapi yang paling konsisten, paling tahan banting, dan paling berani untuk terus melangkah." tutup Liana.
Dari kisah inspiratif Liana Oktavia, tentu ada banyak pelajaran yang bisa dipetik. Mulai dari memahami struktur biaya sebelum masuk kemitraan, pentingnya lokasi yang benar-benar terlihat, hingga perlunya memegang kendali dan akses atas bisnis sendiri.
Punya rencana memulai usaha atau mengambil kemitraan? Konsultasikan dulu dengan ahlinya di fitur Tanya Ahli supaya langkah Anda lebih terukur. Baca kisah sukses pengusaha inspiratif lainnya di Daya.id. Yuk daftar dan kunjungi Daya.id sekarang juga!
Berikan Pendapat Anda