Rizkianto, Pengusaha Sukses yang Bawa Bisnis Steak ke Pinggir Jalan

Dirilis

02 Desember 2020

Penulis

Majalah Franchise Indonesia, Mitra Strategis Program Daya Sejak 2014

Pengusaha

Rizkianto

Jenis Usaha

Pemilik Franchise Steak On The Street

Di kenal sebagai makanan mewah, steak biasanya dapat dinikmati di restoran tertentu dengan harga yang relatif mahal. Namun, Rizkianto sukses mendobrak stigma tersebut dan memperkenalkan bisnis steak dengan konsep “pinggir jalan”. Bagaimana ceritanya?

Mulai bisnis, gagal lalu bangkit lagi

Ide steak pinggir jalan tidak muncul begitu saja. Menjajaki bisnis sejak tahun 2012, Rizkianto membuka restoran dengan menu utama steak, ayam panggang dan ayam kremes disamping menu lainnya. Sayangnya, restoran ini kemudian tutup pada tahun 2015. Tak patah arang, ia pun mencoba menggeluti bisnis lain yang juga berujung kegagalan. Merasa nasib baik berbisni belum berpihak padanya, Rizkianto pun memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia wirausaha.

Selang tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2018, Rizkianto kangen untuk terjun kembali ke bisnis kuliner. Kali ini ia memulai bisnis snack tanpa nasi yang simple dan dapat dibawa kemana-mana dengan konsep cup-to-go. Berawal dari satu gerobak yang di buka di kota Solo, bulan selanjutnya bisnis Rizkianto berlanjut membuka gerobak ke-2. Namun kemudian Rizkianto memutuskan untuk mengubah konsep usahanya menjadi steak pinggir jalan dengan nama Steak On The Street. “Karena konsep ini belum ada, maka kami bisa dikatakan menjadi pelopor steak jalanan pertama di Indonesia,” jelasnya.

Keputusan tersebut ternyata mendapat sambutan pasar yang luar biasa. Dengan modal awal Rp15 juta yang sebagian besar merupakan pinjaman dari orang tuanya, Rizkianto kemudian membuka 2 booth. Dan memasuki tahun keduanya pada 2020 ini, Steak On The Street berkembang pesat menjadi 61 booth mitra bisnis yang tersebar di daerah-daerah di Indonesia dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah perbulannya.

Manfaatkan online marketing dan belajar dari pengalaman

Rizkianto mengaku, untuk persiapan awal ia hanya menyiapkan lokasi strategis dan pelatihan karyawan. Selebihnya ia memanfaatkan online marketing. “Selanjutnya marketing online yang jalan, karena bisnis kuliner di era sekarang sudah berbeda tidak seperti dahulu,” katanya. 

Untuk menjaga biaya produksi, Rizkianto memilah bahan terbaik dengan harga termurah dari beberapa supplier untuk bisa menghasilkan produk berkualitas, namun harga produk dan keuntungan tetap bisa dijaga. Beruntung bahan utama yang digunakan sangat mudah ditemukan sehingga ia tidak menemui banyak kendala, terlebih untuk pengolahannya sendiri Rizkianto sudah memiliki pengalaman dari bisnis sebelumnya.
 
Meski demikian, yang namanya proses bisnis tentu akan selalu ada rintangannya. Tak terkecuali bisnis baru Rizkianto ini, misalnya saja ketika awal usaha ia membuka gerobak 1 dan 2 ini di area kampus. “Karena semangat yang menggebu tanpa melihat tanggal, ternyata kami mulai buka saat jadwal perkuliahan libur semester genap. Akhirnya 2 bulan omzet datar karena mahasiswanya pulang liburan,” tuturnya. Menurut Rizkianto, masalah dalam bisnis tentu tidak sedikit, namun ia selalu mencari cara bagaimana mengatasinya. Ia percaya proses memang harus dijalani karena sukses tidak diraih secara instan.

Franchise solusi untuk ekspansi yang terkendala modal

Di awal menggeluti bisnis, Rizkianto tidak pernah terpikir untuk menjual konsep bisnisnya dengan sistem franchise. Namun, modal menjadi kendala baginya untuk ekspansi bisnis. Saat itulah ia memutuskan untuk mem-franchise-kan Street On The Street. “Awalnya belum terpikir franchise. Saya dan istri hanya berpikir bagaimana membuat menu unik dan konsep apa yang mau kita jual, simple dan berbeda. Tapi inovasi butuh modal, untuk berkembang lebih cepat butuh modal. Maka solusi untuk permodalan adalah jualan franchise,” ungkapnya. 

Kebetulan, kala itu bisnis franchise sedang berkembang pesat Indonesia. Ketika membuka media sosial, Rizkianto sering menemukan iklan-iklan kuliner menawarkan paket franchise. Dari situ muncul ide untuk jualan franchise juga. “Toh belum ada bisnis yang serupa dengan kita,” ungkapnya. Namun pilihan untuk menjual franchise ternyata tidaklah mudah. Banyak hal yang harus dibenahi, mulai dari membuat legalitas usaha yang berbadan hukum, melegalkan merek, sampai membuat SOP dan perjanjian bisnisnya. 

Bisnis steak jalanan yang berkembang pesat

Target pertama yang disasar untuk menawarkan franchise adalah teman-teman dan keluarga yang tinggal di kota yang sama. “Kita menawarkan dari grup-grup gratisan sampai iklan berbayar. Alhamdulillah berkembang baik. Di tahun pertama, Steak On The Street tembus 50 booth mitra di Indonesia. Kini di tahun kedua sudah ada 61 mitra tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, pulau Sumatera dan Kalimantan, juga Sulawesi”, ujar  Rizkianto. Ia juga mulai memperbaiki aspek-aspek pendukung, seperti tim produksi, tim office dan lain-lain agar bisa terus berkembang serta bertahan kedepannya. 

Steak On The Street mampu meraup omzet antara Rp60 juta sampai dengan Rp70 juta per bulannya. “Omzet bisnis ini bertingkat karena selain jualan di booth pusat, juga jualan franchise yang bahan baku utamanya yang wajib order ke pusat,” ungkapnya.  Dengan penjualan mencapai 100 produk per hari, Rizkianto menyebutkan mitra bisnisnya bisa balik modal dalam waktu sekitar 4 bulan

Rencana mendatang, Rizkianto sedang menyiapkan konsep baru, yaitu Steak On The Street Cafe dan konsep untuk booth mall yang rencananya akan dimulai tahun ini.  

Kiat sukses bisnis

Ditanya mengenai kiat sukses, pria lulusan broadcasting ini tidak sungkan berbagi. “Asal punya konsep usaha original, yg berbeda, unik dan simple jika ingin dipasarkan. Pastikan juga legalitas usaha dan legalitas merek diurus dahulu baru yang lainnya. Kemudian, pasarkan secara online, dan buat beberapa paket pilihan sesuai target konsumen, bangun tim untuk mempermudah pengelolaan usaha” paparnya. 

Selain itu, menyiapkan modal dan wajib update ilmu juga penting, menurut Rizkianto. Misalnya bagaimana memanfaatkan media sosial untuk pemasaran karena saat ini semua umur sudah pegang HP. Menjalin relasi juga sangat penting. “Iklan itu akan terkoneksi dengan calon pembeli, timbul tanya jawab. Seiring berproses banyak tawaran-tawaran masuk untuk presentasi produk, jadi semakin terkoneksi sama pengusaha lain,” katanya. 

Sisi administrasi juga perlu diperhatikan dan dibuat serapi mungkin. Dengan teknologi yang ada bisa juga menggunakan aplikasi online dengan fitur administrasi yang oke. Database pembeli pada aplikasi tersebut, bisa digunakan untuk meng-engagecustomer dengan promo dan konten-konten menarik. 

Selanjutnya, Rizkianto membuat produksinya terpusat. Namun hanya bahan baku utama yang wajib diambil ke pusat seperti saos steak, saos keju, tepung bumbu. Sementara untuk daging hanya untuk kota-kota tertentu, seperti di Jawa yang ada fasilitas kereta atau travel yang langsung sampai. Menurut Rizkianto, ini penting untuk memastikan kualitas produk sama di setiap boothnya.

Untuk menu, Rizkianto mengatur agar setidaknya ada update menu per 6 bulan. Nantinya menu-menu tersebut di evaluasi, yang direspon baik dipertahankan, yang kurang bagus di tarik. 


Rizkianto berprinsip, tidak ada gagal, yang ada hanya pengalaman yang mahal. Makanya meski bisnis yang pernah digeluti sebelumnya banyak mengalami kegagalan, namun ia tetap merasa senang karena bisa bertemu orang-orang baru, karena berbagi ilmu dan pengalamanlah yang mengantarnya menjadi pengusaha sukses seperti saat ini. “Untuk teman-teman yang ingin mencoba peruntungan di dunia usaha, ada beberapa hal yang perlu dimiliki. Antara lain, kuat modal, kuat ilmu. Jadi profesional di bidangmu dan bersungguh-sungguh karena kompetitor bisa ada sewaktu-waktu. Terakhir, coba bertahan jangan gonti-ganti bisnis melainkan inovasi dari bisnis yang sedang dijalani.” Tutupnya.

 

Penilaian :

4.8

6 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS