Sukses Berbinis Mie Kepang Setelah Berkali Kali Gagal Usaha Kuliner

Dirilis

13 Agustus 2020

Penulis

Majalah Franchise Indonesia, Mitra Strategis Program Daya Sejak 2014

Pengusaha

Ardiharjanto

Jenis Usaha

Mie Kepang (Mie Keju Panggang)

Meski berkali kali gagal menggeluti usaha kuliner, Ardiharjanto tidak menyerah. Pengalamannya sebagai chef profesional membuat dia yakin bahwa dunia kuliner adalah passionnya, hingga dia berhasil mendirikan usaha Mie Kepang Jayakarta, dan pernah meraih omzet 2,5 miliar per tahun. Bagaimana kisah suksesnya?


Di awal usaha, semua yang di coba mengalami kegagalan
Pengalaman sebagai chef profesional di hotel dan kapal pesiar bintang lima di Amerika Serikat, benua Eropa maupun Afrika, membuat Ardiharjanto memiliki kemampuan dan keterampilan khusus dalam membuat masakan dan kuliner mumpuni. Ia juga pernah mengasah skill manajemen bisnis dengan mengikuti berbagai workshop bisnis.

Berbekal pengalaman tersebut, Ardiharjanto pun memberanikan diri mendirikan beberapa usaha. Sebut saja nasi uduk, bubur ayam, ketoprak, sop iga, ketupat sayur, hingga warung makan nasi campur. “Alhamdulillah, semuanya gagal,” katanya dengan nada suara yang pantang menyerah.   

Ardiharjanto menyadari, bahwa kegagalan adalah proses dalam pembelajaran dirinya untuk menempuh tangga keberhasilan. “Dan semua itu karena faktor ilmu bisnis yang belum saya kuasai. Mindset yang belum kita pahami, kemudian ilmu yang belum kita kuasai,” bebernya.  


Mie Kepang, mie dengan inovasi topping keju panggang menjadi pembeda
Kegagalan demi kegagalan yang pernah dialami tak membuatnya patah semangat. Pada 2018 Ardiharjanto kembali mendirikan usaha kuliner dengan nama Mie Kepang Jayakarta. Nama Mie Kepang merupakan kepanjangan dari Mie Keju Panggang yang merupakan salah satu menu andalannya.
 
Dengan modal Rp130 juta, kali ini ia berkolaborasi bersama rekan bisnis. “Idenya diawali dari usaha brand awal saya yaitu Mie Jayakarta yang kemudian di-rebranding menjadi Mie Kepang Jayakarta. Karena nama Mie Jayakarta merupakan nama umum yang sulit didaftarkan hak paten merknya di HAKI maka kami menggunakan tambahan nama Kepang tersebut,” tuturnya.  

Tidak ingin mengulangi kegagalan sebelumnya, Ardiharjanto memahami bahwa bisnis harus ada pembedanya dari produk lain. “Makanya saya berinovasi membuat mie bertoping keju yang dipanggang yang kemudian saya beri nama Mie Kepang atau kepanjangan dari Mie Keju Panggang. Yang akhirnya kami me-rebranding Mie Jayakarta menjadi Mie Kepang Jayakarta,” jelasnya.


Memiliki SDM generasi milenial menjadi kendala
Ardiharjanto menuturkan, di awal merintis Mie Kepang Jayakarta, dirinya tidak mengalami kendala yang sulit. Pasalnya, ia sudah mengalami kegagalan usaha berkali-kali, sehingga ini merupakan proses dari kegagalan-kegagalan dari usaha kuliner yang dijalani sebelumnya. “Justru baru belakangan setelah tim bertumbuh besar kendala-kendala itu timbul, khususnya dalam masalah membangun tim dan membuat sistem,” ungkapnya. Terlebih di era milenial saat ini, kebanyakan tenaga kerja produktif adalah generasi milenial, yang cenderung mudah bosan.

“Hal ini merupakan sebuah tantangan yang memang kita harus hadapi untuk memperkuat mental kita menjadi pengusaha yang handal. Sehingga kita tetap terus berusaha dan belajar dalam menghadapi setiap kendala yang kita hadapi,” jelasnya.  Menurutnya dengan berkolaborasi dan menekankan pentingnya tanggung jawab setiap orang, bisa membuatnya mampu menghadapi kendala tersebut.


Dukungan digitalisasi sistem & keluarga
Ardiharjanto menilai, saat ini berbagai elemen yang menunjang bisnisnya sudah berjalan baik. Mulai dari bagian finansial maupun penjualan. “Kami membuat bagian finance untuk mengontrol keuangan dan administrasi bisnis. Untuk penjualan dilakukan di oulet-outlet kami dan juga bekerja sama dengan platform food online seperti Go food maupun Grab food,” jelas Ardiharjanto.

Sedangkan sistem produksi dan penyimpanan, ia sudah membangun sistem central kitchen untuk mengontrol HPP maupun standar kualitas produk dan rasa. “Kami menggunakan freezer untuk bahan baku frozen, chiller untuk bahan baku fresh dan gudang untuk bahan baku kering. Yang semua bahan baku tersebut menggunakan sistem FIFO atau First In First Out,” terangnya.   

Selain itu, yang tak kalah penting dalam mendukung usahanya adalah faktor keluarga. “Keluarga, khususnya istri sebagai orang terdekat yang mendukung kita juga menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha,” ungkapnya.  


Kini, kinerja Mie Kepang Jayakarta berjalan mulus dengan memilik tiga gerai yang tersebar di Jl. Kusmanegara No 29 Yk, Jl. Affandi CTX No 06 Yk dan Jl. Godean Km 01 Yk. Omzet bisnisnya pun cukup menggiurkan, sekitar Rp250 juta perbulannya. “Dalam sebulan ada sekitar 700 pengunjung yang datang, dengan harga menu Rp22 ribu per mangkuk” kata Ardiharjanto. Modal awal yang dia keluarkan pun sudah balik di bulan ke-20.

Rencana mendatang, Ardiharjanto akan membuka 4 cabang di tahun 2020 dengan omset 4 miliar rupiah per tahunnya. “Jadi usaha ini dalam proses yang baik dan terus di organisasi team yang terus belajar dan bertumbuh,”tutupnya.

 

Penilaian :

4.9

7 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS