Informasi Artikel

Penulis Artikel

Thomas Aquino Herly Marwanto

2026 diproyeksikan menjadi tahun emas bagi industri kuliner Indonesia. Laporan Mordor Intelligence menunjukkan sektor foodservice nasional tumbuh dengan laju dua digit, menjadikan Indonesia salah satu pasar kuliner terbesar dan tercepat di Asia Tenggara. Nilai pasar bisnis kuliner Indonesia diperkirakan mencapai USD 62,4 miliar pada 2025 dan melonjak hingga USD 115 miliar pada 2030, dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 13%. Artinya, pada 2026 saja nilai pasar diproyeksikan berada di kisaran USD 70–72 miliar.

Tren positif ini tentu menggoda. Bagi pelaku usaha kuliner dan ritel makanan, data tersebut sering dijadikan dasar untuk ekspansi usaha, mulai dari membuka cabang baru hingga menambah unit bisnis. Apalagi jika omzet tahunan sudah menembus Rp 1 miliar, keinginan untuk scale up terasa semakin realistis.

Namun, di balik peluang besar tersebut, ada satu aspek krusial yang sering diabaikan: kesehatan arus kas.

Baca juga : Pengertian Debt to Equity Ratio dan Rumus Perhitungannya.

 

Ekspansi Bukan Soal Omzet, Tapi Arus Kas

Banyak bisnis terlihat menguntungkan di laporan laba rugi, tetapi justru tumbang saat berekspansi. Penyebab utamanya bukan karena produknya tidak laku, melainkan arus kas yang tidak siap menanggung beban tambahan.

Ekspansi membutuhkan uang tunai dalam jumlah besar, dan sering kali dana itu keluar lebih dulu, sementara pemasukan dari cabang baru datang belakangan. Jika arus kas usaha utama terganggu, maka risiko gagal bayar, telat gaji, hingga operasional terganggu bisa terjadi.

 

Mengapa Arus Kas Sangat Penting?

Arus kas (cash flow) adalah aliran uang masuk dan keluar dari bisnis Anda. Secara sederhana, arus kas terbagi menjadi:

  • Kas Masuk: penjualan, pelunasan piutang, pendapatan lain.
  • Kas Keluar: biaya operasional, gaji karyawan, sewa, pembelian bahan baku, cicilan utang.

Masalah muncul ketika kas keluar lebih cepat dan lebih besar daripada kas masuk. Dalam kondisi seperti ini, bisnis bisa terlihat untung di atas kertas, tetapi kehabisan uang tunai untuk menjalankan operasional harian.

Untuk ekspansi, arus kas harus dianalisis dari tiga sisi utama:

  1. Cash Flow Operasional – apakah bisnis inti benar-benar menghasilkan kas positif?
  2. Cash Flow Investasi – berapa besar dana yang dibutuhkan untuk cabang baru?
  3. Cash Flow Pendanaan – apakah ekspansi perlu dibiayai utang, dan seberapa besar risikonya?


 

Kriteria Arus Kas Aman Sebelum Ekspansi Usaha

Agar ekspansi tidak menjadi bumerang, berikut beberapa indikator arus kas yang ideal sebelum Anda membuka cabang atau unit usaha baru.

 

1. Arus Kas Operasional Positif dan Stabil

Minimal dalam 12 bulan terakhir, arus kas operasional harus konsisten positif. Artinya, bisnis Anda menghasilkan uang tunai yang cukup dari kegiatan utama, bukan hanya dari utang atau penjualan aset.

Jika arus kas operasional masih naik turun, ekspansi sebaiknya ditunda hingga aliran kas benar-benar stabil.

 

2. Saldo Kas yang Memadai

Setelah dikurangi seluruh kewajiban rutin (gaji, sewa, utang), bisnis harus memiliki dana cukup untuk:

  • Biaya pembukaan cabang (sewa, renovasi, peralatan, stok awal)
  • Modal kerja cabang baru minimal 3–6 bulan
  • Dana darurat untuk usaha existing minimal 3–6 bulan biaya operasional

Tanpa buffer kas ini, risiko gangguan operasional sangat tinggi.

 

3. Tidak Bergantung pada Utang Jangka Pendek

Ekspansi yang sepenuhnya bergantung pada utang besar meningkatkan risiko keuangan. Pastikan Debt to Equity Ratio (DER) < 1, yang berarti modal sendiri lebih besar daripada utang.

DER di atas 1 menandakan struktur keuangan tidak sehat dan bisnis terlalu bergantung pada pinjaman.
Utang besar berisiko karena:

  • Beban bunga dan cicilan menggerus arus kas
  • Risiko gagal bayar jika penjualan meleset
  • Fleksibilitas bisnis menurun saat ada peluang atau kondisi darurat


 

4. Rasio Likuiditas Aman

Current Ratio idealnya > 1,5 sebelum ekspansi.

Rasio ini menunjukkan kemampuan bisnis membayar kewajiban jangka pendek. Jika current ratio hanya 1, aset lancar Anda pas-pasan untuk menutup utang lancar. Sementara rasio di atas 1,5 memberi ruang aman saat biaya ekspansi mulai berjalan, tetapi pendapatan cabang baru belum masuk.

Bagi UMKM, rasio 1,5–2 dianggap batas konservatif dan sehat.

 

5. Margin Laba Bersih Stabil

Margin laba adalah “bantalan” untuk menanggung risiko. Jika margin terlalu tipis, sedikit saja kenaikan harga bahan baku atau sewa bisa langsung menggerus laba.

Margin yang stabil menunjukkan:
•    Bisnis punya ruang untuk menanggung biaya tambahan
•    Arus kas dari usaha utama cukup kuat
•    Risiko cash crunch lebih terkendali
Jika margin menurun drastis, fokuslah memperbaiki profitabilitas sebelum ekspansi.

6. Proyeksi ROI Cabang Baru Jelas
ROI (Return on Investment) menunjukkan seberapa cepat modal kembali. Untuk bisnis kuliner, ROI ideal adalah 12–24 bulan.
ROI < 2 tahun dianggap lebih aman karena:
•    Risiko perubahan tren lebih kecil
•    Arus kas pulih lebih cepat
•    Memberi fleksibilitas untuk ekspansi berikutnya
Jika ROI diperkirakan lebih dari 3 tahun, risikonya jauh lebih tinggi, mengingat tren kuliner cepat berubah dan margin cenderung fluktuatif.

Baca juga : Ketidakpastian Ekonomi, Ini Tips Pantau Laporan Arus Kas Usaha Anda

Tahun 2026 memang menjanjikan peluang besar bagi industri kuliner Indonesia. Namun, ekspansi yang sehat tidak ditentukan oleh tren pasar semata, melainkan oleh kesiapan arus kas bisnis Anda. Omzet besar tanpa arus kas yang kuat justru bisa menjadi jebakan.

Sebelum membuka cabang baru, pastikan arus kas operasional stabil, likuiditas aman, utang terkendali, margin sehat, dan ROI realistis. Dengan perencanaan matang dan disiplin keuangan, ekspansi bukan hanya menjadi langkah berani, tetapi juga keputusan bisnis yang berkelanjutan dan menguntungkan. 

Anda bisa mulai cek kesehatan usaha Anda menggunakan Radar Bisnis. Apa itu Radar Bisnis? Silakan baca di Cara Memeriksa Kesehatan Bisnis, Rekomendasi untuk UMKM.

Apabila Anda masih butuh saran lebih lanjut, silakan daftar daya.id dan manfaatkan fitur Tanya Ahli.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

4.0

1 Penilaian

Artikel Terkait

5.0
Meningkatkan Usaha

Bagaimana Cara Mengajukan Restrukturisasi Kredit?

03 Februari 2023

Artikel Ahli
5.0
Meningkatkan Usaha

Cara Mudah Hitung Target Penjualan

19 Januari 2018

5.0
Meningkatkan Usaha

Cara Hitung Pesangon Karyawan, Panduan Praktis untuk Pengusaha

09 September 2025

5.0
Meningkatkan Usaha

Butuh Tambahan Modal Usaha, Lebih Baik Pakai Tabungan Pribadi atau Pinjaman ke Bank?

26 Mei 2022

Berikan Pendapat Anda

2 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS