Dirilis

07 September 2022

Penulis

Dini Fitriani Nugraha

Selain mendatangi fasilitas kesehatan seperti Puskesmas atau rumah sakit, ada sebagian masyarakat yang mulai mendapatkan perawatan kesehatan dengan mendatangi tempat pengobatan alternatif seperti terapi lintah. Lintah merupakan hewan pengisap darah yang mirip dengan cacing pipih dan umum ditemukan di tempat lembab, rawa, sungai, kolam, ataupun air tawar. 

Terapi lintah sendiri dipercaya dapat mengobati kelainan sistem saraf, penyakit sendi (osteoarthritis), penyakit kardiovaskular, masalah gigi, infeksi, ataupun penyakit kulit. Namun di balik manfaat yang diberikan, Anda pernah bertanya-tanya terkait efek samping dari terapi ini, bukan? Yuk simak ulasan berikut untuk mendapatkan informasi seputar terapi lintah, khususnya efek samping yang diberikan.

 

Bagaimana Cara Kerja Terapi Lintah?

Sebelum mengetahui efek samping dari terapi lintah, ada baiknya untuk mengetahui lebih dulu terkait bagaimana terapi lintah bekerja. 

Seperti yang kita ketahui, lintah merupakan hewan pengisap darah. Lintah akan menusuk kulit seseorang dengan gigi mereka dan memasukkan antikoagulan (protein dan peptida) melalui air liur mereka yang bertujuan untuk mengencerkan darah dan mencegah pembekuan. Hal tersebut berfungsi untuk meningkatkan sirkulasi, memecah gumpalan darah, dan mencegah kematian jaringan. Kemudian, lintah akan dibiarkan mengambil darah selama 20 hingga 45 menit atau sekitar 15 ml per lintah. 

Jika telah selesai, lintah akan meninggalkan luka kecil berbentuk seperti huruf Y yang biasanya dapat sembuh tanpa meninggalkan bekas. Jika lintah akan dibunuh setelah pengobatan, hewan tersebut harus dibekukan dan ditempatkan dalam larutan alkohol 90% beberapa hari kemudian.

Karena terapi ini bekerja dengan cara mengisap darah, tentu ada beberapa kelompok yang tidak disarankan melakukan terapi lintah, seperti orang yang memiliki anemia, wanita hamil, anak di bawah usia 18 tahun, dan orang yang memiliki masalah dengan pembekuan darah atau arteri yang terganggu. 

 

Manfaat Terapi Lintah

Seperti yang telah disebutkan di atas, terapi lintah efektif untuk mengencerkan darah, mencegah pembekuan, memecah gumpalan darah, dan meningkatkan sirkulasi. Oleh karena itu, orang dengan penyakit kardiovaskular ada yang mencoba terapi lintah. 

Selain penyakit kardiovaskular, penderita diabetes juga melakukan terapi lintah, karena mereka cenderung memiliki darah yang lebih kental, sehingga zat hirudin dalam air liur lintah dapat mengencerkan darah, mencegahnya pembekuan, dan mengurangi risiko untuk diamputasi.

 

Efek Samping Terapi Lintah

Selain manfaat yang didapatkan, ternyata terapi lintah juga memiliki risiko efek samping. Berikut efek samping terapi lintah yang perlu Anda perhatikan.

 

1.    Infeksi bakteri

Sebelum melakukan terapi lintah, Anda perlu memastikan bahwa lintah yang digunakan merupakan lintah yang khusus digunakan untuk terapi agar terhindari dari infeksi bakteri.

Baca Juga: Infeksi, Inflamasi, dan Bahayanya Jika Dibiarkan Terlalu Lama

 

2.    Nyeri lokal saat perawatan


Saat lintah mulai menggigit, Anda akan merasakan nyeri sekitar 1-5 menit. Intensitas yang dirasakan pun berbeda tiap pasien, ada yang ringan sampai terasa seperti tersengat tawon. Hal ini bergantung pada sikap individu (semakin cemas, semakin sakit), ukuran rahang lintah, kekuatan gigitan, intensitas hisapan, serta volume atau komposisi air liur. Semakin banyak air liur lintah, maka semakin tidak terasa nyeri karena adanya efek bius alami. 
 

3.    Gatal lokal


Orang yang melakukan terapi lintah akan mengalami gatal lokal selama kurang lebih dua hari. Jika terasa gatal, Anda tidak boleh menggaruk gigitan lintah, terutama setelah penutupan luka awal karena dapat menunda penyembuhan luka. Anda dapat melakukan pendinginan lokal, menggunakan produk antipruritik komersia seperti salep Fenistil atau antihistamin oral.

Baca Juga:  5 Bahan Alami untuk Obat Gatal Kulit Gejala Ringan 

 

4.    Kehilangan darah

Untuk menghindari terjadinya kehilangan darah secara berlebih, saat terapi lintah tidak boleh menggunakan lebih dari 12 lintah dalam satu sesi perawatan. Selain itu, penting melakukan beberapa tes seperti tes antikoagulan untuk mendeteksi adanya kelainan perdarahan (darah sukar membeku dan lainnya).

 

5.    Gangguan penyembuhan luka dan alergi

Setelah lintah terlepas, umumnya akan terjadi peradangan atau pembengkakan selama 12-48 jam disertasi dengan rasa tegang lokal, panas, dan kemerahan. Selain itu, muncul bintik darah kecil (ekimosis) di sekitar gigitan lintah. Hal tersebut dapat disebabkan oleh penanganan yang tidak tepat seperti meremas kepala lintah dengan forsep, pengangkatan lintah secara paksa, dan menggaruk atau menggosok luka.

Meskipun terapi lintah memiliki banyak manfaat, seperti melancarkan sirkulasi darah, mencegah penggumpalan, dan lain sebagainya. Namun perlu diingat bahwa tidak semua orang dapat melakukan terapi ini seperti orang dengan anemia, anak di bawah 18 tahun, dan wanita hamil. 

Sebelum melakukan terapi lintah, sebaiknya melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter Anda untuk mempertimbangkan risiko efek samping yang mungkin akan Anda rasakan saat atau setelah terapi seperti munculnya peradangan, nyeri lokal, gatal-gatal, alergi, infeksi, ataupun kehilangan darah yang berlebihan. Selain itu, lakukanlah terapi di tempat yang terpercaya dan memiliki sertifikasi baik dalam perawatan lintah ataupun terapis yang melakukan.

Apabila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai efek samping terapi lintah atau masalah kesehatan lainnya. Segera log in ke daya.id dan manfaatkan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

5.0

3 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

dr. Zeth Boroh, Sp.KO

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS