Dirilis

27 September 2021

Penulis

dr.Zeth Boroh, Sp.KO

Sebuah penelitian menunjukan bahwa orang dengan penyakit COVID-19 ringan, sedang dan berat, ternyata dapat menderita komplikasi jangka panjang (long covid), tidak hanya pada paru-paru, tapi juga menunjukkan adanya tanda-tanda penyakit jantung dan masalah pada organ ginjal. 

Akhir-akhir ini semakin banyak pasien yang terinfeksi COVID-19 dapat sembuh  sempurna tanpa komplikasi. Namun sebagian orang mengalami komplikasi jangka panjang COVID-19 setelah dinyatakan negatif. 

Beberapa pasien dengan komplikasi jangka panjang (long covid) menunjukan gejala selama lebih dari 4 minggu, bahkan berbulan-bulan setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19. Adapun gejala-gejala ringan yang dimaksud, antara lain kelelahan, sesak nafas, nyeri sendi, nyeri dada, batuk, bahkan demam. Ada beberapa gejala jangka panjang lainnya yang lebih berat, seperti kesulitan dalam berpikir, konsentrasi, depresi, nyeri otot, sakit kepala, dan jantung berdebar. 

Selanjutnya, ada juga beberapa komplikasi jangka panjang yang lebih serius, jarang ditemukan, tetapi telah dilaporkan pada beberapa pasien, seperti miokarditis (peradangan yang terjadi pada miokardium atau otot jantung), kelainan fungsi paru-paru, gagal ginjal akut, penurunan memori, kecemasan, rambut rontok, pembekuan darah dan perubahan suasana hati.

Baca Juga: OTG atau Gejala Ringan COVID-19? Ini Panduan Isolasi Mandiri di Rumah





Para peneliti yang melakukan riset setelah setahun lebih sejak pandemi berlangsung, menemukan banyak hal tentang komplikasi dan efek jangka panjang dari COVID-19. Ditemukan bahwa mereka yang memiliki faktor risiko (penyakit komorbid) seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan penyakit ginjal akan mendapatkan efek komplikasi jangka panjang dari COVID-19. 

Hubungan antara COVID-19 dan komplikasi jangka panjang ini belum diketahui secara pasti, namun beberapa ahli berpendapat hal ini dapat terjadi akibat peradangan dari virus atau mungkin kondisi kesehatan serta penyakit yang mendasarinya. 

COVID-19 secara langsung menimbulkan konsekuensi kesehatan karena peradangan yang disebabkan oleh virus itu sendiri, dimana peradangan ini merupakan respon tubuh terhadap infeksi melalui sistem kekebalan. 

Dari hasil penelitian ini, para ahli belum yakin siapa saja yang akan memiliki komplikasi dan gejala jangka panjang. Sehingga cara terbaik untuk menghindari komplikasi adalah dengan vaksinasi. Vaksin telah terbukti melindungi terjadinya infeksi ulang, mencegah penyakit COVID-19 yang parah dan melindungi orang yang mungkin terinfeksi sebelumnya agar terlindungi dari varian virus baru yang berpotensi lebih berbahaya. 

Pentingnya recovery (pemulihan) setelah terinfeksi virus COVID-19 sangat tergantung pada gejala awal, usia, penyakit komorbit yang kategorikan ke dalam 3 bagian, yaitu ringan, sedang, dan berat). Para ahli memperkirakan tingkat pemulihan COVID-19 secara keseluruhan adalah 97%-99,75%. 

Pada kasus gejala ringan dibutuhkan waktu sekitar 2 minggu bagi tubuh untuk proses pemulihan. Sedangkan pada kasus gejala sedang dibutuhkan waktu sekitar 4 minggu untuk proses pemulihan, sementara untuk kasus dengan gejala berat/kritis dibutuhkan waktu pemulihan selama 6 minggu. 

Data baru menunjukan bahwa proses pemulihan bervariasi dan bereda-beda untuk tiap orang. Kelelahan, sakit kepala, kesulitan bernafas, adalah gejala yang paling mungkin bertahan lama. 

1. Recovery COVID-19 Ringan 

Sebagian besar orang yang terkena COVID-19 dengan  gejala ringan akan mengalami proses pemulihan lebih cepat. Walaupun ringan, beberapa pasien akan merasa tidak enak badan, membutuhkan beristirahat di rumah (isolasi mandiri) dan dapat pulih sepenuhnya tanpa harus pergi ke Rumah Sakit atau ke fasilitas kesehatan. Menurut pedoman pemulihan yang dikeluarkan WHO, pada kasus ringan diperlukan beberapa penanganan, seperti pemberian beberapa macam multivitamin (Vitamin C, D, Zink), gizi yang simbang serta aktivitas fisik yang tepat (intensitas ringan-sedang) seperti berjalan sambil berjemur, berlari, naik turun tangga, bersepeda ataupun senam dengan durasi 30 menit sampai 1 jam. Diperlukan juga beberapa latihan kekuatan untuk mengembalikan kapasitas otot yang sempat berkurang selama terkena COVID-19 seperti latihan kalistenik, sit up, push up, dan plank dengan intensitas ringan dan ditingkatkan secara bertahap.
 

2. Recovery COVID-19 Sedang 

Pemulihan COVID-19 pada kasus gejala sedang membutuhkan proses pemulihan sampai 4 minggu. Biasanya pada kasus sedang terdapat kerusakan (fibrosis) pada paru-paru yang terjadi karena sistem imun tubuh yang mencoba untuk melawan infeksi virus COVID-19 yang terkadang menimbulkan reaksi yang berlebihan. Beberapa dari pasien dengan gejala sedang membutuhkan penanganan di Rumah Sakit dengan berbagai macam pengobatan dan terapi oksigen. Selain pemberian multivitamin dan gizi seimbang dibutuhkan juga beberapa obat-obatan oral maupun injeksi. Akibat kerusakan organ paru-paru dan kelemahan otot-otot pernapasan muncul penurunan kapasitas paru-paru sehingga banyak pasien yang setelah sembuh masih memperlihatkan gejala sisa seperti kelelahan berlebihan saat beraktivitas, mudah sesak nafas, dan lain-lain. Setelah sembuh, untuk mempercepat recovery, pasien boleh diberikan beberapa terapi latihan untuk meningkatkan kapasitas jantung paru, kapasitas otot & sendi, seperti latihan yang sama pada pasien gejala ringan yang diatas dengan dosis lebih tinggi.

3. Recovery COVID-19 Berat 

WHO memperkirakan 1 dari 20 orang yang terkena COVID-19 merupakan kasus dengan gejala berat. Biasanya pada kasus ini membutuhkan penanganan yang intensif atau penanganan di ICU yang membutuhkan ventilator. Diperkirakan bahwa pasien COVID-19 kasus berat membutuhkan hospitalisasi sekitar 6 minggu dan proses pemulihan setelah sembuh butuh waktu sekitar 12 bulan untuk kembali ke aktivitas normal. Menghabiskan berminggu-minggu di Rumah Sakit akan menyebabkan kehilangan massa otot, kehilangan kapasitas paru-paru, kelemahan otot-otot pernapasan dan kerusakan organ jantung sehingga dibutuhkan penanganan khusus pada pasien gejala berat. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah melatih pernapasan pasien dengan memberikan terapi latihan otot-otot pernapasan atau breathing exercise. Selanjutnya akan diberikan beberapa latihan ringan seperti latihan berjalan, latihan berdiri, latihan duduk dan beberapa terapi latihan untuk meningkatkan kembali kapasitas otot dan kapasitas jantung paru. Latihan yang diberikan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi fisik pasien. Recovery yang cepat juga memerlukan penangan gizi seimbang dengan tinggi protein. Pada beberapa kasus bahkan membutuhkan penanganan khusus psikologi.


Baca Juga: Cara Menjaga Imunitas Tubuh bagi Anda yang Sibuk





Metode-metode proses pemulihan berbeda di masing-masing negara dan percepatan proses pemulihan berbeda-beda pada beberapa kondisi individu. Secara keseluruhan, mempercepat pemulihan dapat dilakukan dengan pemberian gizi yang seimbang dengan tinggi protein, beberapa terapi latihan, dan terapi psikologi. 

Apabila ada hal yang ingin Anda konsultasikan mengenai kesehatan, manfaatkan fitur Tanya Ahli untuk berkonsultasi langsung dengan saya, dr.Zeth Boroh, Sp.KO., dokter Spesialis Kedokteran Olahraga. Dan untuk mendapatkan manfaat penuh dari website daya.id, Anda cukup mendaftar sebagai pengguna daya.id. Salam Olahraga!


 

Sumber:

Indonesia Sports Medicine Centre

Penilaian :

5.0

7 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

dr. Zeth Boroh, Sp.KO

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS