Informasi Artikel

Dirilis

15 Januari 2026

Penulis Artikel

Linda lee, CFTe, CSA


Tag

Point of View atau POV adalah istilah yang belakangan ini sering digunakan di media sosial. Secara sederhana, POV berarti sudut pandang. Namun dalam praktiknya, POV bukan sekadar cara melihat sesuatu, melainkan cara memahami konteks, menilai situasi, dan mengambil keputusan. Setiap POV menjadi “input” bagi pola pikir seseorang. Dari input inilah lahir output berupa tindakan dan reaksi. Itulah sebabnya, perbedaan sudut pandang sering kali menghasilkan reaksi yang sangat berbeda terhadap situasi yang sama.

Dalam dunia investasi, POV memiliki peran yang sangat krusial. Seorang investor sejatinya tidak hanya membeli aset, tetapi juga membawa cara pandang, kesabaran, dan ekspektasi waktu ke dalam aset tersebut. Investor memahami bahwa hasil investasi tidak datang secara instan. Fokus utamanya adalah pertumbuhan nilai dalam jangka panjang, bukan sekadar keuntungan cepat.

Investor yang matang sadar bahwa risiko adalah bagian tak terpisahkan dari investasi. Oleh karena itu, pemilihan aset dilakukan dengan mempertimbangkan banyak aspek, mulai dari fundamental, tren yang sedang berlangsung, hingga kondisi ekonomi secara umum. Bagi investor properti, ada satu faktor tambahan yang sangat menentukan: lokasi. Lokasi menentukan potensi pertumbuhan nilai aset di masa depan sekaligus peluang mendapatkan penghasilan dari sewa. Namun, di balik potensi tersebut, selalu ada risiko, salah satunya adalah unit sewa yang kosong.

 

Ketika Realita Menguji POV Investor

Tahun 2020 menjadi ujian nyata bagi banyak investor. Saat pandemi Covid-19 mulai merebak, Jakarta menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling besar. Pemerintah memberlakukan pembatasan mobilitas, bahkan melarang perjalanan antar kota. Banyak orang bergegas meninggalkan ibu kota dan kembali ke kampung halaman.

Bagi investor properti, khususnya yang menyewakan unit apartemen, situasi ini menjadi pukulan telak. Penyewa check out secara massal, meninggalkan unit-unit apartemen yang kosong. Dalam waktu singkat, tingkat hunian anjlok drastis. Selama periode 2020 hingga 2022, tidak sedikit investor properti yang mengalami tingkat sewa mendekati 0%. Unit tetap ada, tetapi tidak menghasilkan pemasukan. Biaya bulanan seperti iuran pengelolaan dan pemeliharaan tetap harus dibayar.

Di waktu yang hampir bersamaan, pasar saham juga mengalami tekanan besar. Harga saham jatuh secara serentak. Bahkan saham-saham blue chip dengan fundamental kuat pun tak luput dari koreksi tajam. Fenomena Auto Reject Bawah (ARB) menjadi pemandangan sehari-hari. Harga saham turun hingga batas maksimal dalam satu hari perdagangan. Portofolio investor memerah, nilai aset turun jauh di bawah harga beli, dan menjual saham saat itu berarti mengunci kerugian.

 

Dividen: Penopang di Tengah Volatilitas

Namun, di tengah kejatuhan harga saham, ada satu hal yang menjadi penghibur bagi sebagian investor saham, yaitu dividen. Dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada para pemegang saham. Meski harga saham turun, perusahaan dengan fundamental kuat tetap mampu mencetak laba dan membagikan dividen.

Bagi investor, dividen menjadi sumber pendapatan yang menenangkan. Saat portofolio terlihat merah, dividen memberikan arus kas yang nyata. Ini menunjukkan bahwa nilai sebuah saham tidak hanya tercermin dari pergerakan harganya, tetapi juga dari kinerja bisnis di baliknya.

 

Properti vs Saham: Risiko dan Keunggulan yang Berbeda

Investasi properti dan saham memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Properti menawarkan pendapatan pasif dari sewa, namun risikonya adalah kekosongan unit dan biaya operasional yang harus terus ditanggung. Selain itu, modal awal untuk memiliki properti relatif besar.

Saham, di sisi lain, lebih mudah diakses. Modal awal lebih terjangkau dan likuiditasnya tinggi. Saham dapat diperjualbelikan dengan cepat kapan pun dibutuhkan. Namun, fluktuasi harga menjadi risiko utama. Ketika harga turun jauh dari harga beli dan investor terpaksa menjual, kerugian tidak bisa dihindari. Selain itu, tidak semua perusahaan membagikan dividen, dan tidak semua perusahaan memiliki fundamental yang sehat. Dalam kasus ekstrem, saham bahkan bisa delisting, yang berarti kerugian mutlak bagi investor.

 

Kunci Bertahan: Fundamental dan Sudut Pandang

Harga saham memang selalu naik dan turun. Namun selama perusahaan memiliki fundamental yang kuat, penurunan harga tidak menghilangkan nilai bisnisnya. Dividen tetap mengalir. Begitu pula dengan properti. Properti di lokasi strategis tetaplah aset. Meski sempat tidak menghasilkan pendapatan selama pandemi, aset tersebut tidak lenyap.

Jika dianalogikan, uang sewa properti serupa dengan dividen saham. Keduanya adalah bentuk penghasilan dari aset, hanya mekanismenya yang berbeda. Tingkat hunian properti bergantung pada lokasi dan kebutuhan pasar, sementara dividen saham bergantung pada kinerja perusahaan.

Pada akhirnya, pemilihan aset kembali pada profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor. Tidak ada investasi yang paling benar untuk semua orang. Investasi terbaik adalah yang paling sesuai dan nyaman dengan diri sendiri. Kesabaran, pemahaman risiko, dan POV investor adalah kunci utama dalam membangun dan melipatgandakan aset dari waktu ke waktu.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait masalah atau informasi keuangan lainnya, segera log in ke daya.id dan gunakan fitur Tanya Ahli untuk mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Pastikan Anda sudah mendaftar di daya.id untuk mendapatkan informasi dan tips bermanfaat lainnya secara gratis.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

5.0

1 Penilaian

Artikel Terkait

Kumpulan informasi dan tips dari Daya terkait dengan topik yang sama

5.0
Tips Investasi untuk Karyawan Berpenghasilan UMR
Investasi

Tips Investasi untuk Karyawan Berpenghasilan UMR

25 Juli 2026

5.0
Hadapi Dampak Kenaikan Harga BBM: Strategi Keuangan Pribadi, Usaha, dan Investasi
Investasi

Hadapi Dampak Kenaikan Harga BBM: Strategi Keuangan Pribadi, Usaha, dan Investasi

18 Juni 2026

5.0
IHSG Melemah: Panic Selling atau Momentum Akumulasi?
Artikel Ahli
Investasi

IHSG Melemah: Panic Selling atau Momentum Akumulasi?

13 Juni 2026

Premium sparkles
5.0
Indonesia Belum Krisis Ekonomi! Tips Antisipasi Keuangan Pribadi
Artikel Ahli
Investasi

Indonesia Belum Krisis Ekonomi! Tips Antisipasi Keuangan Pribadi

28 April 2026

Berikan Pendapat Anda