Bangkit dari Kegagalan dan Sukses Bisnis Kecantikan

Dirilis

31 Desember 2018

Penulis

Tim Penulis Daya Tumbuh Usaha

Pengusaha

Lady Malino

Jenis Usaha

Bangkit dari Kegagalan dan Sukses Usaha Bisnis Kecantikan

Banyak orang yang berani membuka bisnis berawal dari hobi. Lady Malino adalah salah satunya. Kegemarannya menghabiskan waktu perawatan di spa kecantikan, membuat wanita 27 tahun ini tertarik untuk membuka sendiri gerai perawatan tubuh dan kecantikan, bersama saudara dan teman yang memiliki kegemaran serupa. 

Namun, yang paling Lady ingat adalah nasihat dari sang ayah yang ingin melihat anaknya menjadi pengusaha. Ayahnya seringkali menasihati ia dan ketiga saudara perempuannya, untuk tidak melulu 'menyumbang uang' ke salon perawatan namun berani untuk mencoba membuka bisnis salon sendiri. Itulah yang akhirnya membuat Lady bertekad menjajal usaha ini.


Modal Nekat

Wanita yang masih bekerja sebagai pembawa berita untuk stasuin TV swasta ini, mulai terjun di dunia usaha apa pada bulan April 2014, setelah di tahun 2013 sempat mengunjungi pameran franchise. "Setelahnya, dengan modal nekat saya dan Ike Suharjo -teman rekan kerja sesama pembawa berita di salah satu stasiun swasta kala itu- menggadaikan mobil pribadi kami ke bank. Dengan modal tersebut, kami membuka usaha spa dengan nama salah satu franchise yang kami pilih tersebut."

Kala itu, persiapan membutuhkan dana awal sekitar Rp500 juta, termasuk biaya sewa tempat, renovasi, dan biaya franchise sebesar Rp175 juta. Terbilang cukup besar, karena sempat ada kendala renovasi akibat kecurangan dari pihak vendor yang membuat mereka harus menyewa kontraktor lain dengan biaya yang lebih mahal. Namun ini jadi pembelajaran, sekaligus tantangan bagi mereka untuk memulai usaha dengan biaya operasional yang minim. "Kami harus benar-benar memperhitungkan pengeluaran yang benar-benar perlu dan memotong yang tidak," tuturnya.  

Setelah persiapan selama 6 bulan, dengan menjalankan konsep dari franchise dengan segala peraturannya, spa beroperasi pada April 2014.

Pada awal operasional, pemasukan dari spa milik Lady & Ika termasuk cabang franchise dengan pendapatan yang cukup tinggi, langsung menembus angka Rp18-20 juta per bulan. Namun masalah mulai muncul, karena saat itu karyawan hanya berjumlah 4 orang saja (2 pria dan 2 wanita) sedangkan banyak tamu yang harus dilayani. Inilah yang menjadi tantangan terberat dirasakan Lady, yaitu mengelola SDM. Dalam sebulan saja, karyawan bisa keluar masuk beberapa kali hingga mereka harus terus kerepotan mencari pengganti dengan cepat. 

Masalah terjadi karena karyawan keberatan mengikuti aturan pendapatan yang ditetapkan oleh sistem franchise pusat, yaitu tidak ada gaji pokok. Pemasukan karyawan sepenuhnya mengandalkan komisi dan bonus. Akhirnya kami membuat peraturan sendiri, dengan standar gaji tetap serta komisi. Akhirnya, spa bisa mendapatkan 5 karyawan tetap. Namun konsekuensi memberikan gaji yang cukup besar bagi mereka, akhirnya berimbas pada omzet spa yang harus defisit akibat menombok gaji pegawai. 


Belajar dari Kegagalan Berwaralaba

Tahun pertama diakui Lady, usahanya berjalan cukup 'terseok' dengan selalu mengalami kerugian dan tanpa pendampingan serta jalan keluar yang memuaskan dari pihak franchisor. Akhirnya pada Juni 2015 mereka memutuskan berhenti berkerjasama dengan franchise dan membuat sendiri spa dengan konsep baru. Menurut mereka, 1 tahun pengalaman mengelola usaha spa berbasis franchise sudah cukup menjadi bekal dan lebih siap membuka usaha spa sendiri. 

Pada Desember 2015, di lokasi yang sama mereka membuka spa baru yang diberi nama "Diarra Queen Spa". Kala itu, mereka beroperasi dengan SDM yang minim. 1 admin, 2 terapis wanita dan 1 terapis pria. Untuk menyiasati saat pelanggan banyak, mereka menghubungi terapis paruh waktu yang terpercaya dan pengalaman untuk diajak bekerjasama. 

Mengutamakan pelayanan yang baik dan promosi dari mulut ke mulut membuat Diarra Spa semakin berkembang. Lady dan Ika juga memanfaatkan koneksi mereka dengan mengundang rekan sesama presenter, blogger, artis, hingga pejabat untuk mencoba perawatan Diarra dan mengunggahnya ke sosial media mereka. Selain itu, mereka tidak berhenti berinovasi dengan promo menarik yang ditawarkan kepada para pelanggan setia. 

Juni 2018, Diarra Queen Spa melakukan relokasi yang tidak terlalu jauh dari lokasi sebelumnya. Hanya, mereka mencari peluang tempat yang lebih nyaman dan ramai prospek pelanggan. Spa yang mulai berkembang ini akhirnya membuat beberapa pihak tertarik bekerjasama menambah pelayanan di luar spa dengan sistem bagi hasil. 

Jika Diarra dari awal sepenuhnya fokus pada perawatan spa seperti pijat, lulur dan creambath, maka kini berkembang dengan adanya perawatan pewarnaan rambut, facial, slimming, pencerahan kulit, waxing, menicure-pedicure, eyelash extension, serta pijat hamil. 

Salah satu vendor rekanan mereka yang tadinya merupakan partner bagi hasil, Laily, kini akhirnya menjadi partner resmi dalam mengembangkan Diarra dan mengembangkan perawatan baru. Ke depannya mereka berencana menambah layanan lain mengikuti tren kecantikan yang ada, seperti perm hair, sulam alis dan sulam bibir. 

Mengubah Manajemen Keuangan Usaha

Jika diakui Lady selama 2 tahun pertama berjalan, manajemen keuangan sulit terkontrol baik karena pembelanjaan yang diserahkan sepenuhnya pada karyawan membuat biaya operasional membengkak. Akhirnya, Ike Suharjo memutuskan untuk berhenti dari kantor, agar bisa fokus pada pemasaran dan pengembangan perawatan baru. Laily sebagai partner baru, dipercaya fokus pada alur keuangan yang diposkan setiap bulannya. Sedangkan Lady sendiri yang sampai saat ini masih aktif bekerja sebagai karyawan di CCN Indonesia TV, bertugas mengontrol pengembangan promosi di media sosial. Kini diakui Lady, operasional berjalan jauh lebih baik. 

Saat ini fokus dan tantangan Diarra Queen Spa adalah mempertahankan kualitas dengan harga yang cukup ekonomis, sambil mengembangkan layanan ke arah lebih baik mengikuti tren perawatan kecantikan. Kini jumlah karyawan tetap sudah sebanyak 8 orang. Ke depannya mereka akan terus memotivasi para karyawan untuk mengembangkan keahlian, melek tren kecantikan terbaru, dan mengikuti sertifikasi terapis. 

Diarra Queen Spa juga telah memiliki satu cabang di kota Lampung. Satu pelanggan setia mereka yang tertarik membuka spa dengan menggunakan nama Diarra. Lady dan kawan-kawan membekali dengan persiapan dan konsep spa, sambil tetap memberikan pendampingan dan sharing jika ada masalah seputar menjalankan usaha spa yang dihadapi. Jika ditanya impian ke depannya, Lady dan kawan-kawan berharap dapat membuat produk kecantikan seperti lulur, sabun, sampo, dan produk salon lainnya dengan nama sendiri, Diarra. 
 

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS