Belajar dari Pengalaman, Mantan Kuli Ini Sukses Bisnis Jual Beli Ikan

Dirilis

23 Juli 2019

Penulis

Tim Penulis Daya Tumbuh Usaha

Pengusaha

Utang Kamaludin

Jenis Usaha

Jual Beli Ikan

Biaya hidup yang terus meningkat memaksa Utang Kamaludin mencari cara untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia pun meminta izin mengundurkan diri kepada bos tempat ia mengabdi selama 11 tahun sebagai kuli jual beli ikan di Pasar Pondok Gede, untuk kemudian mencoba bisnis sendiri pada tahun 2015. “Kalau masuk baik-baik, keluar juga harus baik-baik,” katanya.

Merasa berpengalaman dalam bisnis jual beli ikan, Utang memutuskan memulai bisnis di bidang yang sama. Dengan modal awal Rp100 juta ditambah pinjaman ke salah satu bank sebesar Rp300 juta, ia membeli 3 kios masing-masing berukuran 2x2 meter persegi, tak jauh dari kios milik mantan bosnya. Satu kios seharga Rp200 juta berada di bagian depan Pasar Pondok Gede, sedangkan 2 kios lainnya masing-masing seharga Rp100 juta berada di bagian belakang. “Saya dulu pernah sewa tempat untuk usaha pangkas rambut untuk keponakan saya, tapi baru berjalan beberapa bulan tempat tersebut sudah dipakai sama pemiliknya. Makanya saya trauma, tidak mau sewa atau kontrak tempat lagi. Ada rejekinya, langsung beli aja kalau untuk bisnis,” terangnya.

Kesepakatan dengan pemasok itu penting
Pria kelahiran Tasikmalaya ini mengakui ketika masih bekerja sebagai kuli, ia tidak terlalu memikirkan gaji. Menurutnya, ilmu mengenai bisnis perikanan sangat menarik termasuk bagaimana menjaga hubungan baik dengan pemasok dan pelanggan. Bahkan, saat ini yang datang ke tempat usahanya rata-rata adalah pemasok dan pelanggan yang dulu juga bekerja sama dengan mantan bosnya. “Saya sudah kenal para supplier ikan lele dan ikan mas sejak tahun 2010, sudah punya nomor kontaknya. Ketika ada peluang, ya sudah saya hubungi mereka untuk jadi supplier saya,” ujarnya. Selain itu, pria 35 tahun ini juga memiliki 2 pemasok ikan nila.

Dalam sehari, ia bisa menyuplai 1 ton untuk semua jenis ikan baik tawar ataupun lele. Wah, banyak yah! Pemesanan tersebut tentu saja tidak dilakukan sembarang. Utang biasanya membandingkan dengan penjualan sebelumnya untuk memprediksi jenis ikan yang dipesan. Jenis ikan yang laku dipesan lebih banyak, sementara yang kurang laku dipesan lebih sedikit.

Menurut Utang, kesepakatan dengan pemasok sangat penting untuk menentukan hak dan kewajiban biaya yang ditanggung. “Kalau ikan mati sudah berada di kolam saya, maka ikan mati akan ditanggung oleh saya. Tetapi, kalau ikan mati pada saat pengiriman, itu disebut biaya mati dan menjadi tanggung jawab supplier. Maka supplier akan kasih harga mati, karena harga ikan mati berbeda dengan harga ikan yang masih segar,” katanya.

Dalam menjalankan bisnisnya, Utang fokus berjualan ikan air tawar seperti ikan mas, gurame, mujair, gabus, dan belut. Paling banyak laku adalah ikan gabus dengan harga jual Rp80-90 ribu. Dikarenakan sudah kenal cukup lama, pemasok percaya dan memberikan keringanan pembayaran. Misalnya, pemasok mengirimkan 1 bon ikan senilai Rp10 juta, pembayaran bisa dilakukan nanti saat order selanjutnya. “Beberapa pemasok malah tidak mau dibayar setiap hari, biasanya 5-6 hari sekali. Saya ikut maunya pemasok saja,” katanya.

Menjadikan pelanggan sebagai raja
Meski enggan menyebutkan omzet yang didapat, Utang menjelaskan, ia memiliki kisaran nominal untung yang berbeda-beda untuk setiap target pasarnya. Kalau orang beli untuk jual lagi biasanya beli grosir, baik untuk dijual lagi di wilayah lain atau di Pasar Pondok Gede juga. Kalau orang beli untuk konsumsi sendiri biasanya beli kiloan saja. “Ambil untungnya beda-beda, sesuai pelanggannya. Untuk pelanggan grosir, saya ambil untung dua sampai tiga ribu rupiah per kg, sedangkan untuk pelanggan konsumsi sekitar lima ribu rupiah. Khusus lele, minimal seribu lima ratus rupiah ambil untungnya,” jelasnya. Keuntungan tersebut tentu meningkat di momen hari besar seperti Lebaran, Natal, dan Tahun baru, seiring dengan peningkatan penjualan.

Dalam menghadapi kenaikan harga ikan, Utang punya cara tersendiri menyiasatinya, yaitu menekan harga jual dengan melakukan subsidi silang. “Ketika harga ikan naik, harga kiriman ikan bisa sama dengan harga jual ikan ke pelanggan. Makanya saya subsidi silang. Untuk beberapa pelanggan saya naikkan harga jual, itupun tergantung pelanggannya dan harganya tidak terlalu beda jauh,” ungkapnya. Menurutnya, menjaga pelanggan tidak kalah penting dibandingkan dengan menjaga keuntungan. Pria ini pun rela ambil untung sedikit agar pelanggan tetap mau datang lagi.

Selain itu, pelayanan yang ramah dan sopan juga sangat penting. “Ke pelanggan harus ramah, sopan. Harus tahu cara berkomunikasi dengan yang muda, yang tua, ibu-ibu rumah tangga, atau sesama pedagang. Harus bisa memenuhi semua kebutuhan mereka, pelanggan kan raja,” imbuhnya. Utang menambahkan, untuk menjaga kepercayaan pelanggan kunci utamanya adalah memenuhi kebutuhan mereka. Kalau pelanggan butuh dalam jumlah banyak, biasanya ia menyiapkan terlebih dulu. Jika tidak ada stok, ia akan mencarikan ke beberapa supplier.

Utang juga berusaha menangani komplain dengan baik. “Pernah ada kejadian kepala ikan yang dipesan ada yang pecah, pelanggan komplain, saya langsung ganti biar saling percaya,” pungkas pria yang tinggal di Jakarta sejak tahun 1998 ini.

Tak segan memecat saudara sendiri
Saat ini, Utang dibantu oleh 5 orang karyawan yang bekerja dengan sistem shift, yaitu jam 12 malam sampai jam 9 pagi, dan jam 4 pagi sampai jam 2 siang. Dalam memilih karyawan, ia mengaku cukup selektif. Kriteria utamanya adalah yang tidak malas. “Rata-rata karyawan saya sudah dikenal, saudara dan keponakan,” jelasnya. Meski demikian, memiliki karyawan yang juga merupakan bagian dari anggota keluarga bukan tanpa kendala. “Ada karyawan yang tidak bisa diatur, waktu itu keponakan saya. Datang semaunya, disuruh datang jam 12 siang, eh, datangnya jam 2. Kalau dibilangin malah galakan dia, mentang-mentang saudara. Karena sudah berkali-kali, ya, akhirnya saya pecat,” katanya. Meski diakui terlibat pekerjaan dengan saudara lebih rentan konflik, namun tidak menjadikannya antipati. “Orang lain atau saudara boleh, yang penting mau bekerja. Tidak malas,” tegasnya.

Keuntungan usaha diinvestasikan
Dengan untung usaha yang semakin besar, Utang ingin punya cabang lagi untuk usaha penjualan ikannya. Selain itu, ia sudah berinvestasi membangun rumah kontrakan untuk menambah penghasilan di masa depan. Dua kios yang saat ini dimiliki di bagian belakang Pasar Pondok Gede sempat disewakan kepada orang lain, namun karena lokasinya kurang strategis penyewa juga tidak bertahan lama. “Tidak ada rencana dijual, investasi saja. Siapa tahu nanti pasar akan direnovasi, jadi kedua kios saya bisa laku disewa lagi.”

Penilaian :

5.0

4 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS