Milenial Sukses di Sektor Pertanian Hortikultura

Dirilis

27 Maret 2020

Penulis

AKF, Daya Tumbuh Usaha

Pengusaha

Sandi Octa Susila

Jenis Usaha

Mitra Tani Parahyangan

Petani Milenial Ini Raih Omzet Hingga Rp800 juta per Bulan

Di usianya yang relatif muda, baru menginjak 27 tahun, Sandi Octa Susila telah mengelola sekitar 120 hektar tanah, dan omzet yang diperoleh pun tidak tanggung-tanggung. Selama sebulan pria yang akrab disapa Kang Sandi ini bisa mengumpulkan Rp500 juta hingga Rp800 juta. Menggiurkan bukan? Penasaran bagaimana petani milenial ini meraih sukses?
 

 

Mulai Wirausaha Pertanian Sejak Kuliah

Kisah Kang Sandi menjadi petani milenial dimulai pada akhir 2014, ketika ia akan menginjak semester 5 di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia galau akan profesi masa depannya. Saat itu ia memiliki tiga pilihan, menjadi profesional, cendekiawan, atau wirausaha. Banyaknya kerabat yang memilih menjadi profesional dan cendekiawan, membuat Kang Sandi bertanya-tanya, mengapa sangat sedikit yang mengambil jalur wirausaha.

 

Tapi didukung rasa penasaran tinggi, lulusan S1 IPB Agronomi dan Holtikultura serta S2 Master Manajemen Agribisnis (MMB) IPB ini, akhirnya memantapkan diri untuk menjadi wirausahawan, walau ayahnya mengarahkan untuk menjadi dosen.

 

Apa ya yang membuat Kang Sandi penasaran, lalu memilih berwirausaha di sektor pertanian? Berikut ini di antaranya.

1. Petani tidak bisa memasarkan hasil produksi

Kang Sandi melakukan penelitian skripsi S1 tentang padi Japonica di sebuah desa. Karena penelitian tersebut ia menjadi lebih dekat dengan para petani. Setelah penelitiannya selesai, para petani berpesan kepadanya untuk tidak meninggalkan petani, meski skripsinya sudah selesai. Hal inilah yang menggerakkan hati Kang Sandi untuk memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk membantu para petani. “Yang saya lihat, permasalahan petani adalah mereka bisa memproduksi namun belum tentu bisa memasarkan. Inilah kelemahan yang perlu saya isi,” katanya.

2. Potensi pasar yang besar

Berdasarkan data mengenai potensi pasar yang pernah ia baca, Kang Sandi menemukan bahwa bidang perdagangan, hotel, dan restoran memiliki laju perkembangan kedua tertinggi setelah komunikasi dan logistik. “Makanya saya mulai memutuskan bisnis di bidang pertanian, produknya produk pertanian, pasarnya harus modern market, bukan tradisional market,” Katanya.

3. Produk-produk petani tidak dimaksimalkan

Ketika liburan kuliah, Kang Sandi kembali ke kampung halamannya di Desa Tegallega Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur, dan berkunjung ke kebun milik sang ayah dan lahan milik petani yang berdekatan. Ia menjumpai banyak hasil panen yang diletakkan begitu saja di tanah, menunggu tengkulak atau pembeli datang.

 

Jualan Online Produk Pertanian

Kang Sandi memulai usahanya menjadi petani milenial dengan mengambil foto produk panen dari para petani rekanannya. Foto itu kemudian diunggah di salah satu media daring yang merupakan sebuah business to business e-commerce yang dapat dilihat seluruh negara, tidak saja di Indonesia.

“Pada awalnya saya share foto-foto produk mereka tanpa ijin ke petani, tanpa bilang ke mereka bahwa produk mereka dijamin terjual. Karena saya mau melakukan apa yang bisa saya lakukan. Saya tidak mau memberikan hope kepada orang-orang sehingga saya hanya beli per harian saja.”

Tidak hanya mengunggah foto, Kang Sandi juga menambahkan product knowledge di setiap fotonya. “Saya jelaskan bahwa tomat ini dihasilkan di Kabupaten Cianjur, Desa Tegallega, Kecamatan Warungkondang, dengan ketinggian sekian, hasilnya sekian, saya rinci semua infonya,” jelas anak ke 3 dari 6 bersaudara ini.

Sejak produknya diunggah, ada beberapa peminat yang menghubung Kang Sandi untuk bertanya namun belum “jodoh”.

Hingga bulan ke-4, salah satu waralaba cepat saji skala internasional menghubungi dan menawarkan Kang Sandi untuk memasok cabang mereka yang berada di Sukabumi. Kebetulan cabang tersebut dekat dengan lokasi perkebunan milik ayahnya di Cianjur.

Meski sempat timbul keraguan, namun tekad dan konsistensi untuk tetap berani mencoba membuat Kang Sandi menyanggupi. “Kami kemudian deal, saya akan menyuplai 6 jenis hasil tani untuk kebutuhan bahan baku restoran cepat saji tersebut,” katanya.

Setelah deal, pria kelahiran Cianjur ini mulai menemui petani untuk survei harga. “Saya tanya, berapa harga wortel. Kata petani biasanya dijual Rp2.000. Kemudian saya bilang, saya akan beli Rp5.000 tapi kualitasnya harus disesuaikan dengan yang saya mau. Alhamdulillah petani menyanggupi dan mereka percaya kepada saya,” katanya.

Melalui kerjasama tersebut, di umur 22 tahun, Kang Sandi memperoleh omzet sebesar Rp3,5 juta - Rp5 juta dengan profit Rp350 ribu – Rp500 ribu per dua minggu. Omzet sebesar itu membuat jiwa muda Kang Sandi merasa tertantang dan ingin memperbesar lagi usaha yang dijalankan.

 

Pernah Tertipu Karena Merasa Jumawa

Pada Februari 2015, Kang Sandi dihubungi oleh seseorang untuk mengirimkan hasil tani ke daerah Jonggol, salah satu kecamatan di Bogor. “Minta dikirimkan beras 6 ton, minyak lebih dari 100 galon, per galonnya itu 18 liter. Dijanjikan pembayaran dalam 14 hari sebesar Rp190 juta,” jelasnya. Kang Sandi menyanggupi, dengan modal Rp130 juta yang dipinjam dari ayahnya. Kang Sandi yakin omzet Rp60 juta sudah di depan mata.

Namun keyakinan Kang Sandi rupanya tidak bertahan lama. 14 hari setelah pengiriman produk hasil, si pemesan mulai tidak bisa dihubungi. Ketika disambangi ke kantornya di sebuah ruko, ruko tersebut sudah kosong. Melalui pemilik ruko di sebelahnya, Kang Sandi mengetahui bahwa ia bukanlah orang pertama yang mencari datang dan mencari kejelasan pembayaran. “Saya tertipu,” sesalnya.


Kang Sandi berusaha menenangkan diri, meski diakui dirinya sempat kapok dan tidak sanggup menerima kenyataan uang modal yang sedemikian besar raib, padahal uang tersebut hasil penjualan mobil yang dipinjamkan oleh ayahnya demi mendukung usaha Sandi. “Saya bilang ke ibu, saya tertipu. Tapi insya Allah uang ayah akan saya ganti bagaimanapun caranya. Ini adalah tanggung jawab saya,” katanya.

Kang Sandi mengakui, kesalahannya saat menyanggupi penawaran tersebut adalah, ia merasa jumawa, lebih unggul dari yang lain karena latar belakang pendidikannya. Ia yakin bisa melakukan apapun padahal tidak dibarengi pengalaman yang mumpuni.

 

Bangkit, Cari Peluang dari Jaringan dan Kenalan

Setelah kejadian itu, Kang Sandi sempat menutup diri karena depresi. Saat itu, peran ayah, ibu, dan istri menjadi support system yang sangat berjasa untuk membuat Kang Sandi bangkit. “Pada suatu ketika ayah saya berkata bahwa Allah itu tidak akan memberikan suatu masalah di luar dari kapasitas umatnya. Beliau menasehati saya harus bangun, perjalanan saya masih panjang. Perkataan ayahnya itulah yang membuat Kang Sandi menyadari bahwa harus segera bangkit, ada kerjasama dengan waralaba cepat saji sebelumnya yang masih harus diurus. Selain itu, saya tidak ingin orang-orang yang tidak suka dengan saya menertawakan keterpurukan saya,” tuturnya.

Saat itulah suami dari perempuan keturunan Bugis bernama Ratu Hardiyanti Supriyadi Putri ini mulai bangkit dari keterpurukan, mencari peluang dengan memanfaatkan networking dan kenalannya di IPB International Convention Center (IICC), yang kemudian deal menjadi supplier bahan baku makanan di hotel tersebut. “Jam 2 pagi saya kirim kaylan, pakcoy dan produk pertanian lainnya. Jika petani tidak bisa memenuhi pesanan, saya bahkan turun ke pasar tradisional untuk menutupi kekurangannya,” katanya.

Akhir tahun 2015 IPB mengadakan PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional), Kang Sandi dihubungi oleh rektor IPB dan manajemen IICC untuk menyuplai bahan baku konsumsi untuk 15.000 mahasiswa selama empat hari. “Saya tanya ke executive chef IPB, kira-kira berapa modal yang diperlukan. Katanya sekitar Rp130 juta. Saya langsung merasa diingatkan lagi dengan kejadian tertipu sebelumnya, dan sempat trauma akan tertipu lagi. Namun saya yakin, IPB dengan brand besarnya tidak akan demikian,” ungkap pria kelahiran 13 Oktober 1992 ini. Modal Rp130 juta tersebut juga Kang Sandi dapatkan dari sang ayah yang lagi-lagi menjual mobilnya. Sehingga total modal yang dipinjam sebesar Rp260 juta.

Selama 4 hari acara PIMNAS tersebut, Kang Sandi dibantu istrinya dan seorang karyawan harian menyuplai semua kebutuhan bahan baku dengan bekerja hampir 24 jam. Kerja keras tersebut membuahkan hasil yang manis, omzet yang dihasilkan dari acara PIMNAS mencapai Rp300 juta.

Kang Sandi mulai membayarkan hutang-hutang, termasuk kepada ayahnya sebagai pengembalian modal yang pernah dipinjam, sementara sisanya diputar kembali sebagai modal. “Nothing that impossible, Saya teringat nasihat ayah bahwa Allah tidak ada memberikan masalah melebihi kemampuan umatNya. Ketika berhasil bangkit dan menyelesaikan masalah, saat itulah derajat kita dinaikkan,” kenangnya.
 

Dipercaya Pemerintah Daerah dan Pusat

Dalam perjalanannya, usaha Kang Sandi semakin berkembang dan petani pun semakin memberi kepercayaan karena ia membeli hasil tani dengan harga yang lebih tinggi. Selain itu ia juga mendapat kepercayaan dari stakeholder termasuk pemerintah dan akademisi yang semua proyeknya melibatkan petani. Kang Sandi juga mulai menjadi pembicara seminar untuk sharing. “Awalnya saya hanya mengkoordinasikan 10 petani, kemudian bertambah menjadi 20 petani, saat ini bahkan sudah mencapai 385 petani dengan 141 produk yang dikelola,” katanya.

Awal bekerjasama dengan para petani, waktu Kang Sandi habis untuk memilah produk hasil tani. Yang bagus dijual yang kondisinya kurang bagus dibuang. Belum lagi harus bolak-balik jemput hasil tani dengan mobil pick up sewaan. Kang Sandi kemudian berinisiatif mengumpulkan mitra petani, untuk menjelaskan standar kualitas hasil tani yang ia inginkan, yang sudah disesuaikan dengan harga belinya. Dengan demikian prosesnya menjadi lebih praktis. Hasil tani yang diterima sudah bersih dan tidak perlu bolak balik jemput karena petani datang sendiri.

Kredibilitas dan integritas yang selalu ditonjolkan Kang Sandi membuatnya mendapat kepercayaan dari Bupati Cianjur melalui Kepala Dinas Pertanian, untuk menjadi Direktur Pengelola sekaligus Ketua Koperasi Sub Terminal Agribisnis Cianjur. Tidak hanya itu, Kang Sandi juga didapuk sebagai salah satu dari 21 Duta Petani Milenial Indonesia oleh Menteri Pertanian RI.

Selain itu, ia juga mengelola 4 perusahaan miliknya yaitu :

  1. Perusahaan Mitra Tani Parahyangan yang orientasi profit,
  2. Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) yang berfokus pada kegiatan magang, penelitian, liburan, kunjungan dari kota atau narasumber kegiatan yang terkait dengan usahanya di sektor pertanian,
  3. Kelompok Tani Mitra Tani Parahyangan, tempat bernaung 385 petani binaannya, dan
  4. PT. Bumi Parahyangan Investama, perusahaan khusus investor yang tertarik dengan usahanya.


Perusahaan Mitra Tani Parahyangan sendiri saat ini sudah menyuplai hasil tani ke 25 hotel di Cianjur, Bogor dan sekitarnya. Antara lain Restoran Roofpark di Cimacan, Pesona Alam Resort Hotel, Royal Safari Garden Hotel, Grand Dhiara Hotel, dan Zuri Resort Hotel. Pria yang menikah tahun 2017 ini juga menjelaskan 95% market leadernya berada ada di Kota Bogor yaitu hotel-hotel yang berjajar dari Tugu Kujang sampai Tol Yasmin.

 

Kembangkan Bisnis ke Wisata Pertanian

Selain di bidang bisnis, Kang Sandi menyadari adanya perubahan gaya hidup masyarakat dalam menggunakan uangnya, khususnya milenial. “Yang dulunya bangga beli HP, bangga beli iWatch, bangga beli baju, sekarang bangga beli pengalaman. Orang datang jauh-jauh demi leisure economy.” Agrowisata dianggap Kang Sandi sebagai jawaban dari perubahan tersebut. Menjelang panen, ia akan menawarkan pengalaman agri seperti panen bersama bagi siapa saja yang berminat.

Untuk mengembangkan bisnisnya, Kang Sandi terus menambah variasi produk tidak saja sayuran, namun juga sembako, buah, dan daging melalui kemitraan dengan petani di berbagai daerah yang menjadi pusat produksinya. Hingga sekarang sudah mengelola sekitar 1.000 jenis produk. Dibantu 50 orang karyawan, Kang Sandi juga sudah menerapkan penggunaan aplikasi untuk otomatisasi alur masuk hingga keluar sayur mayur tersebut.

Ke depannya, duta petani milenial yang sempat tampil di acara Kick Andy pertengahan 2019 lalu ini, berencana membuat sistem Smart Farming berbasis robotic internet of think, dengan menggunakan teknologi dari sensor yang dikendalikan dari 1 unit komputer. Dan untuk mewujudkannya, Kang Sandi telah melakukan penjajakan dengan Korea Selatan pada 2019 lalu dan menunggu kedatangan tim dari Korea Selatan pada Februari 2020, untuk tahap kajian. Kerjasama tersebut merupakan 70% sharing dari Korea Selatan berupa

dari teknologi, sedangkan 30% sharing dari Indonesia berupa materialnya yang diwakili oleh Mitra Tani Parahyangan.

Selain itu, saat ini di Sub Terminal Agribisnis Cianjur sedang dibangun lokasi Outlet One Stop Shopping (OOSS) yang nantinya akan menjadi tempat menjual produk hasil tani dari petani yang diberdayakan.

Kang Sandi masih ingin mengembangkan lagi usahanya sambil tetap memberdayakan petani dengan menjajaki usaha katering, membuka jalur ekspor ke Timur Tengah dan menambah 10 mitra hotel lagi di tahun 2020.

 

Optimis Petani Milenial akan Bertambah

Menurut Kang Sandi, masih kurangnya generasi penerus petani menjadi tantangan yang perlu diprioritaskan. “Saya masih khawatir dengan regenerasi di sektor pertanian, yang menjadi petani rata-rata berusia 70 tahun ke atas dan pendidikannya masih di bawah SMP. Padahal peluang bidang pertanian saat ini sangat besar. Contohnya, tamu dari Timur Tengah yang datang jauh-jauh kemari hanya ingin mendapatkan daun singkong,” ujarnya.

Meski begitu, Kang Sandi optimis Indonesia bisa mengubah tantangan itu menjadi peluang yang lebih besar, ditambah lagi dengan adanya bonus demografi yang bisa dimanfaatkan untuk mengenal sektor pertanian untuk menghasilkan petani-petani muda lainnya.

 

Penilaian :

4.5

2 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS