Ubah Pola Pikir, Penerima Bansos Kini Punya Usaha Beromset Ratusan Ribu Per Hari

Dirilis

04 Maret 2024

Penulis

Deasi Tresna Asih, S.E., M.M. (Dosen Prodi Kewirausahaan Universitas Sali Al-Aitaam)

Pengusaha

Tina

Jenis Usaha

Pengusaha

Tina adalah seorang ibu rumah tangga penerima Bantuan Sosial (Bansos) dari Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI). Tapi itu dulu. Bermodal sebagian uang bansos yang ia sisihkan, ia memulai usaha. Kini Tina adalah seorang pelaku usaha dengan omset hingga ratusan ribu per hari. Bagaimana kisahnya?

Ini adalah kisah Tina yang dialami langsung oleh penulis. Penulis, selain bekerja sebagai tenaga pengajar, juga berprofesi sebagai Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) di Kemensos RI. Penulis adalah pendampingi Tina dalam mendapatkan bantuan permodalan pengembangan usaha dari pemerintah.

 

Tinggal di Kampung Kumuh Rawan Banjir

Tina tinggal di sebuah gang kecil di perkampungan kumuh di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Saat musim hujan tiba, setiap rumah di perkampungan ini akan tergenang oleh banjir, tidak terkeculi rumah Tina. Sampai satu titik, ia mulai mengubah pola pikir, ia tidak boleh pasrah. Karena jika rumahnya terus-menerus tergenang banjir, maka lambat laun rumah itu akan menjadi lembab, rapuh, bahkan runtuh. “Lalu dimana keluarga saya akan tinggal?” pikir Tina. 

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, ia memberanikan diri untuk mengambil langkah memulai usaha. Ia berharap bisa memperbaiki kehidupan keluarganya kelak. Idenya langsung mengarah kepada satu makanan ringan yang cukup popular di daerahnya, bacil atau bakso cilok. Ya, menurut Tina, usaha jual bacil adalah usaha yang menguntungkan. Karena usaha ini tidak memerlukan modal yang relatif besar, resepnya juga sederhana, dan mudah dikerjakan. 

Tapi, dari mana modalnya?

Saat itu Tina adalah seorang ibu rumah tangga penerima bansos dari Kemensos RI. Dengan bijak, ia berhasil menyisihkan sebagian uang bansos, lalu memanfaatkannya untuk mengawali usaha.

 

Mulai dari Dua Kilogram Bacil

Pada awalnya Tina hanya mampu membuat dua kilogram adonan bakso, tanpa standar rasa, ukuran, bahkan jumlah. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Tina mulai menyesuaikan standar bacil buatannya. Bahkan karena rasa yang enak serta harga yang sangat terjangkau, jumlah penjualannya juga semakin meningkat

Bulan berlalu dan tahun pun berganti, usaha bacil ini mengalami peningkatan pesat, Tina pun mulai mempunyai tempat berdagang yang tetap di beberapa titik. Salah satu tempat berdagang dengan omset tertinggi yaitu di daerah sekitar kampus di kecamatan tempat ia tinggal. Dengan omset yang besar saat itu, Tina bisa membangun rumah layak huni untuk keluarganya. Luarbiasa!

Karena kondisi sosial ekonomi sudah mulai meningkat, Tina juga memutuskan untuk graduasi mandiri dari bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH). Graduasi mandiri adalah berakhirnya proses pemberian bantuan sosial PKH atas kesadaran sendiri, karena peserta sadar sudah tidak memenuhi syarat-syarat sebagai penerima bantuan. 

Walau telah graduasi mandiri, Tina tetap berhubungan baik dengan TKS dari Kemensos RI. Alhasil ia mendapat pendampingan agar bisa mendapat bantuan permodalan usaha dari pemerintah. Karena TKS beranggapan bacil buatan Tina perlu dikembangkan menjadi lebih besar dan mempunya inovasi yang lebih beragam.

Ternyata gayung bersambut. Kemensos RI meluncurkan program Pahlawan Ekonomi Nusantara (PENA), sebuah program yang terutama mendorong para mantan penerima bantuan sosial untuk lebih mengembangkan usaha. Dari dua kelompok PENA, yaitu PENA Mandiri dan PENA Berdikari, Tina mendapatkan bantuan PENA Mandiri. 

Baca Juga: Tips Mendapatkan Pinjaman Modal Usaha untuk Usaha Rumahan

Tina sangat terbuka terhadap program bantuan tersebut, karena selain diberikan secara cuma-cuma, pemerintah pun selalu melakukan monitoring dan evaluasi usaha. 

 

Bukti Nyata Upaya Hidup yang Lebih Baik

Usaha bacil Tina semakin berkembang. Kini ia memliki berbagai variasi produk seperti cilok daging dan bakso ikan, ia memiliki lebih dari 2 gerobak untuk berjualan, omsetnya juga semakin meningkat, dengan penghasilan rata-rata per hari hingga ratusan ribu rupiah. 

Tina juga beradaptasi dengan teknologi digital. Apalagi menurut Tina, teknologi digital mempermudah para pelanggan untuk melakukan pembayaran secara cashless. Dampaknya pelanggannya semakin bertambah, terutama dari kalangan mahasiswa, staf akademik dan pengajar di kampus di kecamatan tempat ia tinggal. Para civitas akademik pun merasa nyaman dengan sistem pembayaran tersebut. 

Tina adalah bukti nyata, bahwa dengan ketekunan, tekad, dan niat dibarengi dengan doa yang tidak pernah putus, membuat upaya untuk memiliki hidup yang lebih baik, bisa terwujud.

Baca Juga: Tips Kelola Uang untuk Usaha Rumahan

Ayo, Anda juga bisa! Terus berusaha dan jangan takut gagal. Jika perlu, Anda bisa belajar langsung dengan Tina. 

Selalu yakin bahwa Tuhan akan memberikan jalan kepada siapapun manusia yang mau mengubah hidupnya menjadi lebih baik, karena nasib manusia hanya dapat diubah oleh manusia itu sendiri, dan nasib bukanlah takdir. 

Semoga kisah Tina bermanfaat untuk kita semua. Jika Anda butuh saran lebih lanjut, silakan berkonsultasi di Tanya Ahli, gratis. Daftarkan juga diri Anda untuk akses penuh di Daya.id. 

Jadi, kapan Anda akan memulai usaha?

(Penulis: Deasi Tresna Asih, S.E., M.M., Dosen Prodi Kewirausahaan Universitas Sali Al-Aitaam, Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) Kementerian Sosial Republik Indonesia)

Penilaian :

4.8

6 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS