Warung khas Jawa Timur Ini Tetap Eksis di Tengah Gempuran Kuliner Kekinian, Apa Rahasianya?

Dirilis

05 April 2019

Penulis

Tim Penulis Daya Tumbuh Usaha

Pengusaha

Zuhanita

Jenis Usaha

Warung Jawa Timur

Setelah berkarier di dunia perbankan selama 9 tahun, Zuhanita memutuskan untuk mengundurkan diri dan meneruskan bisnis rumah makan Warung Jawa Timur milik orang tuanya. Meski sempat menghadapi masa peralihan dan adaptasi yang cukup berat, Zuhanita membuktikan di tengah gempuran menu makanan kekinian, menu tradisional Jawa Timur-an tetap punya penggemar tersendiri.

“WJT (Warung Jawa Timur) sih sebenarnya usahanya orang tua saya sejak tahun 1989. Setelah ibu meninggal, ayah mulai sakit-sakitan, dan saya sebagai anak tunggal merasa ikut bertanggungjawab terhadap WJT. Makanya saya memutuskan resign pada tahun 2017,” jelas wanita kelahiran 1985 ini.

Melewati Masa Peralihan yang Berat 
Diakui Zuhanita, melanjutkan bisnis orang tuanya bukanlah hal yang mudah. Terlebih saat itu secara pribadi ia harus beradaptasi dari wanita karier menjadi pengusaha. Belum lagi ada kewajiban-kewajiban yang masih harus dibayar. Namun, ia belajar dengan cepat untuk menyesuaikan diri, termasuk merelakan perhiasannya untuk membayar kewajiban, termasuk ke rentenir. “Waktu ibu sakit, baru ketahuan kok ada yang datang ke rumah untuk nagih, ternyata renternir.  Ibu bilang awalnya karena kasihan ingin menolong, toh ibu merasa bisa membayar. Ibu memang kadang terlalu baik, polos. Beliau tidak paham mekanisme renternir itu seperti apa sehingga terjebak hutang sampai Rp200 juta,” ungkap ibu 2 orang putri ini.

Merombak Sistem Keuangan: Dari Utang Menjadi Tunai
Strategi pertama yang Zuhanita lakukan untuk membuat WJT bertahan adalah dengan merombak sistem pengelolaan keuangannya. Jika sebelumnya bahan baku diambil dulu baru dibayar bulan depan, kini Zuhanita mengganti metodenya. Ia tidak ingin menimbun bahan baku seperti beras, maka ia membeli sesuai perhitungan kebutuhannya dengan tunai tanpa utang. Zuhanita juga menghitung keseluruhan biaya bulanannya untuk kemudian dihitung kembali berapa biaya hariannya sebagai nominal dana yang harus ia simpan. “Misalnya biaya selama sebulan sebesar Rp300 ribu rupiah, berarti biaya per harinya adalah Rp10 ribu rupiah.  Berarti saya harus menyimpan Rp10 ribu per hari biar bisa memenuhi kebutuhan biaya bulan depan. Itu juga jadi target, jadi penjualan per hari harus lebih banyak dari Rp10 ribu,” katanya. 

Merombak Sistem Pemasaran: Promosi di Media Sosial dan Diversifikasi Produk
Pemasaran juga menjadi aspek yang Zuhanita rombak setelah masa peralihan WJT ke tangannya. Jika sebelumnya pelanggan setianya berasal dari Pulo Gadung dan sekitarnya, dan pemasaran dilakukan secara tradisional, kini Zuhanita memanfaatkan jaringan pertemanannya di sosial media pribadi maupun di kantor tempat ia bekerja sebelumnya. 

WJT sendiri baru memiliki akun Instagram resminya pada tahun 2018 dengan nama @wjt.id. Meski demikian, Zuhanita tetap percaya pada “keajaiban” promosi dari mulut ke mulut. Hal ini dikarenakan produk yang ditawarkan adalah makanan, maka testimoni pelanggan tetap menjadi promosi yang paling kuat. Makanya saran dan masukan dari pelanggan selalu direspon dengan baik demi menjaga image WJT di para penikmatnya.

Kini selain menu khas Jawa Timur dan garang awesome alias garang asem khas Jawa Tengah sebagai “guest star”, WJT juga menerima pesanan nasi uduk, nasi kuning, dan nasi tumpeng. Meski mengaku seringkali kewalahan, namun Zuhanita bersyukur WJT bisa bertahan ditengah persaingan dengan kuliner kekinian dengan omzet sekitar Rp5 juta rupiah per hari. 

Merombak Sistem Operasional: Menerima Pembayaran Non Tunai dan Menjaga Ambience
WJT juga menerima pembayaran cashless atau non tunai, lho. Ya, sebagai pemilik usaha yang melek teknologi, Zuhanita menjalankan strategi pemasaran bukan hanya promosi melalui internet tetapi juga dengan bekerja sama dengan provider salah satu sistem pembayaran cashless. Selain membantunya agar tidak direpotkan dengan uang kembalian, juga membuat pelanggan tertarik karena provider tersebut juga memberikan potongan harga untuk pelanggan. “Sales cashlessnya datang ke WJT menjelaskan mekanismenya dan menawarkan untuk saya pakai. Ya saya mau dong. Saya jadi tidak repot mengurus uang receh untuk kembalian, pembeli dapat diskon. Sama-sama happy, kan?” ujarnya.

Ditanya mengenai rencana buka cabang, mantan banker ini mengaku belum ada rencana. Sebelumnya WJT memang sempat buka cabang di kantin salah satu dealer kendaraan bermotor asal Jepang yang juga berlokasi di sekitar Pulo Gadung. Namun setelah buka beberapa lama, ternyata hasil penjualan tidak seperti yang diharapkan. Karyawan disana justru datang ke WJT pusat. “Iya, mereka datangnya malah ke WJT pusat. Katanya ambience di WJT pusat lebih terasa karena saya tidak hanya menjual makanan dan melayani pelanggan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan mereka, menyapa atau sekedar tanya kabar. Saya contohkan juga agar karyawan juga melakukan hal yang sama kalau menyambut pelanggan, tapi mungkin karena waktu itu yang menghandle kantin orang baru, jadi interaksi semacam itu tidak ada,” jelas Zuhanita. Makanya saat ini ia memilih untuk fokus dulu ke WJT, biar semakin kuat sebelum memiliki rencana membuka cabang baru. 

Karyawan Merupakan Bagian dari Keluarga
WJT buka dari jam 6.00 sampai 17.00 mengikuti jadwal pekerja pabrik, bahkan tutup lebih cepat jika sudah habis. Kini Zuhanita dibantu 3 orang karyawan yang membantu operasional WJT, salah satu karyawannya adalah asisten masak yang sudah ikut di WJT sejak dirintis 30 tahun yang lalu. Wah, loyal sekali ya! 

Menurut Zuhanita, karyawan tidak hanya bagian dari WJT tetapi juga bagian dari keluarga. Zuhanita tidak ragu membantu karyawannya yang sedang kesulitan. Misalnya, jika karyawan sedang butuh uang, harus didukung sesegera mungkin. Pinjaman selalu dicatat, pembayarannya bisa dengan dicicil memotong gaji bulanan yang penting saat butuh mereka merasa terbantu. 

Peduli kepada keluarga karyawan juga menjadi hal biasa yang dilakukan Zuhanita. “Kalau ada yang sakit, datangi ke rumahnya, antar ke dokter. Menjelang lebaran, saya juga antar karyawan mudik sampai ke rumahnya sekalian silaturahmi. Jika warung mau buka setelah lebaran, saya jemput lagi. Jika karyawan merasa dibantu, mereka akan lebih loyal,” papar istri dari Raden Urip Setiawan ini. 

Selain itu, Zuhanita tidak pernah membiarkan karyawan berdiam diri. Selalu ada pekerjaan untuk dilakukan sehingga mereka tidak bosan atau bengong, namun ia tetap turun tangan untuk membantu. “Saya memang bosnya, tapi saya tidak memposisikan diri di atas mereka. Kalau saya ikut turun tangan, bisa dikerjakan bersama jadi lebih cepat. Saya dan karyawan juga bisa sambil mengobrol. Dengan begitu karyawan terbuka, sehingga saya bisa lebih dekat dengan mereka. Mereka juga nyaman kerjanya,” lanjutnya.

Zuhanita menyadari, ke depannya masih banyak hal yang perlu ia capai. Terlebih WJT bukan hanya bisnis yang selama ini sudah menjadi penopang hidup keluarga sejak ia masih sangat kecil, tetapi juga menjadi saksi perjuangan dan kisah hidup mereka sampai mampu membeli lokasi tempat usaha dan kini memiliki aset seperti tambak dan beberapa properti di Lamongan. 

Belum lama ini Zuhanita memperbarui cat dinding WJT dan konsep gerobakannya agar pelanggan merasakan suasana baru yang lebih nyaman. Zuhanita juga mulai membuat foto produk WJT agar lebih proper untuk dipromosikan di Instagram. 

Wah, di tangan Zuhanita, WJT seperti memiliki nyawa baru ya...

 

Penilaian :

5.0

3 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS