Belajar Otodidak, Alexander Theo Sukses Besarkan Bisnis Fried Chicken

Dirilis

06 Juli 2021

Penulis

Majalah Franchise Indonesia, Mitra Strategis Program Daya Sejak 2014

Pengusaha

Alexander Theo

Jenis Usaha

Pemilik Franchise Crispyku

Ide bisnis bisa datang dari mana saja, percaya tidak?

Alexander Theo sangat percaya. Pasalnya, pria yang akrab disapa Alex ini memulai bisnis dari ide yang datang ketika ia melihat tukang nasi uduk di Bekasi. Kok bisa? 

 

Ide Ayam Goreng Biasa Jadi 750 Outlet Ayam Goreng Krispi

Sebagai pemilik franchise dengan produk jagoan ayam goreng krispi, Alex mengaku awalnya justru hanya ingin membuat ayam goreng lokal biasa.

“Ada tukang nasi uduk yang ramai sekali di suatu ruko di Boulevard Harapan Indah, Bekasi. Nah, dari situ saya berpikir, kenapa saya hanya jadi penonton dan penikmat saja? Kenapa saya tidak ikut usaha di bidang ayam saja? Dan pada saat itu jujur belum berpikir ke fried chicken Amerika, tapi ayam goreng lokal saja,” kenang Alexander Theo.

Siapa sangka, ide ayam goreng lokal itu akhirnya melahirkan Crispyku, yang mulai dirintis pada tahun 2009 dan saat ini dikenal sebagai salah satu merek franchise dengan 750 outlet. Outlet itu tersebar di Jabodetabek dan beberapa kota di Indonesia, diantaranya Pontianak, Singkawang, Kediri, Pekalongan, Jogja, Sidoarjo, Bali, Tenggarong, dan Medan. 

Dengan harga produk yang ditawarkan antara Rp10 ribu sampai dengan Rp20 ribu per porsi, Crispyku mampu mampu menarik 300 sampai 400 pelanggan per bulannya. 

Menurut Alex, kinerja bisnis Crispyku saat ini bisa terbilang cukup bagus, karena sudah memiliki gudang dan kantor sendiri di komplek pergudangan. “Dalam 10 tahun ini kita terus berkembang dan terus mencapai target untuk menjadi nomor 1 di bidangnya sesuai dengan visi dan misi kita,” tegasnya.  

 

Belajar Otodidak dari Literatur dan Informasi di Internet



Tidak mudah membangun jaringan bisnis yang besar, apalagi bila yang dimasuki bisnis yang persaingannya super ketat seperti ayam. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan, pengalaman dan skill mumpuni. 

Alex mungkin tidak termasuk yang memiliki pengetahuan dan keterampilan bisnis, karena itu ia belajar secara otodidak. Berguru dari pengalaman orang lain, literatur dan berbagai informasi dari internet. Selain itu, ia sering melakukan eksperimen sebelum memulai bisnis untuk menemukan resep yang pas untuk dinikmati dan sesuai selera masyarakat Indonesia. 

“Sebenarnya masih banyak yang harus dipikirkan tapi itu berjalan mengalir saja. Termasuk melakukan perhitungan biaya produksi, menghitung modal atau HPP produknya, sales dan keuntungan yang diharapkan,” bebernya.  

Saat menentukan harga, Alex mempertimbangkan daya beli masyarakat, nilai wajar penjualan, juga membandingkan dengan produk kompetitor apakah produk yang ia jual kemahalan atau kemurahan. Ia juga menentukan berapa profit wajar yang mau diambil. Untuk yang satu ini, Alex tidak mengalami banyak kesulitan karena ia pernah bekerja sebagai seorang manager di suatu perusahaan swasta dan dibidang finance dan akutansi, ditambah lagi background pendidikannya memang S1 Akuntansi.
 
 

Bukan Uang, Semangat adalah Modal Utama

Menariknya, menurut pria yang hobi berenang, sepedaan dan memelihara ikan KOI ini, modal uang bukanlah yang utama lho! Modal mental paling penting. “Jadi lebih persiapkan mental dan semangat atau spirit yah kalau menurut saya, dan pantang menyerah modalnya. Walaupun kita banyak uang tapi kalau mental pengusaha tidak terbentuk akan berhenti di tengah jalan,” bebernya. 
   
Di awal usaha, peralatan yang digunakan Alex relatif sederhana. Ia menggunakan wajan sebagai alat masak juga umum di pakai dalam bisnis kuliner seperti baskom, kompor tungku, capitan, saringan, dan lainnya. “Di awal usaha juga mitra saya wajibkan untuk membeli freezer untuk menyimpan bahan baku ayam. Cara membumbu juga manual, di kocok pakai plastik dan tangan,” ceritanya.

Tapi seiring berjalanya waktu dan sudah ada modal yang cukup, Alex membeli peralatan yang lebih modern. “Kompornya kita ganti ke deepfry steinless, lalu kita mulai menggunakan mesin pengaduk bumbu. Keduanya kita buat custom dari bahan steinless dan pakai dinamo besar, jadi tidak manual lagi,” jelasnya. 

 

Komplain Pelanggan Berarti Proses Belajar



Menilik perjalanan bisnisnya ke belakang, Alex menjelaskan apa yang dicapai tidak dijalani dengan mulus. Selama proses adaptasi saat memulai bisnis, banyak hal tidak berjalan sesuai rencana, banyak komplain dari pelanggan, banyak salah. 

“Tapi dari situ kita belajar terus, apa yang harus dilakukan, apa yang harus diubah. Karena bagaimanapun, di awal usaha, komplain dari customer atapun supplier itu perlu karena kita masih dalam tahap proses membangun bisnis dan proses belajar,” jelasnya.  

Setelah melalui proses tersebut, Alex semakin mengerti bagaimana menghadapi complain dan bagaimana cara pencegahannya agar tidak terjadi. 

 

Sistem Administrasi dan Peralatan Modern

Relasi yang sudah terjalin baik dengan supplier dan customer merupakan salah satu faktor pendukung bisnis yang Alex jalani saat ini. Selain itu untuk administrasi, Alex sudah menggunakan sistem komputerisasi dan program sistem accounting. Sistem produksi dan penyimpanan pun menggunakan peralatan modern berbahan steinless dan freezer berkapasitas besar untuk penyimpanan bahan baku ayam.

Meski sudah terbilang sukses, Alex merasa perlu untuk terus melakukan modifikasi untuk mengembangkan usahanya.

“Karena makanan kan berubah teknologinya maka kita ikuti terus perkembangannya termasuk untuk menu. Kita buat chicken fillet, barbeque, keju, ayam geprek sambal cobek, kita juga merambah ke kopi, banyak deh modifikasinya,” katanya. 

Salah satunya faktor penghambat bisnis ini menurut Alex adalah SDM yang kurang mumpuni. “Jadi kita harus bimbing dan bimbing terus karyawan kita. Dan satu lagi adalah menghadapi mitra yang nakal dalam arti melakukan penyimpangan dalam bahan bakunya. Karena itu kita selalu melakukan kontrol terhadap outlet mitra,” tuturnya.  

 

Filosofi Bisnis Ala Alex dan Rencana Di Masa Depan

“Dalam bisnis ada filosofi seperti ini: Hati boleh panas, kepala dingin, kaki seribu, kuping gajah. Artinya dalam menghadapi tantangan bisnis harus dihadapi dengan kepala dingin tidak boleh emosi walaupun hati panas. Nah, kaki harus seribu artinya jalan terus ada rintangan jalan terus perbaiki dan jalan lagi, kuping gajah artinya mau menerima masukan dari semua orang,” ujarnya.

Rencana mendatang, Alex akan terus melakukan ekspansi dan merebut pangsa pasar di bidang fried chicken dan burger. 

“Kami juga mau mencoba masuk ke produk kopi dan baru ada 9 variasi menu yang digabung dengan paket CBD di mana mitra bisa jualan burger dan minuman kopi dan bubble. Semoga ada bisnis baru yang kami akan jalankan serta melakukan invoasi produk agar lebih bervariasi,” tutupnya. 



Alex adalah salah satu pengusaha yang sukses dengan berbisnis franchise, Anda tertarik? Konsultasikan dengan pakar franchise di Daya.id agar usaha yang Anda jalankan semakin matang dan sukses.

Untuk kisah sukses pengusaha inspiratif lainnya, bisa Anda baca di Daya.id. Yuk daftar dan kunjungi Daya.id sekarang juga!


 

Penilaian :

4.8

10 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS