Anda percaya bahwa inspirasi bisnis bisa datang dari mana saja kan? Ricky Wijaya adalah salah satu buktinya. Kegemarannya terhadap minuman manis, khususnya teh tarik, justru menjadi awal lahirnya sebuah bisnis. Demi mewujudkan ide tersebut, Ricky bahkan memutuskan pulang ke Indonesia setelah lama bekerja di Malaysia.
“Saya sangat suka minuman manis, terutama teh tarik. Di Malaysia, teh tarik merupakan minuman yang sangat populer. Dari situ saya berpikir, bagaimana jika membuat usaha minuman serupa dengan inovasi baru di Indonesia,” tuturnya.
![]()
Uji Coba Resep Sebelum Yakin Memulai Bisnis
Selama enam bulan, Ricky melakukan berbagai percobaan untuk menemukan resep yang tepat. Dari proses tersebut lahirlah teh kocok cincau, minuman yang terinspirasi dari teh tarik namun memiliki karakter berbeda.
“Teh kocok ini memiliki citra nusantara. Rasanya tidak sepekat teh tarik Malaysia sehingga tidak membuat enek. Kami menggunakan gula asli dan susu rendah lemak, bukan susu full cream,” jelas pria kelahiran Jakarta tahun 1986 ini.
Ricky memulai bisnis minumannya dengan modal Rp20 juta yang berasal dari hasil kerjanya di bidang periklanan di Malaysia. Outlet pertama dibuka pada tahun 2010 di Lokasari Plaza, Jakarta, dengan nama Waroeng Teh Kotjok. Saat itu, harga per cup dibanderol Rp8.000 dengan rata-rata omzet Rp20–30 juta per bulan. Kesuksesan outlet pertama mendorong Ricky membuka outlet kedua di GM Plaza, Jakarta, yang hingga kini masih beroperasi.
Dengan dua outlet dan omzet mencapai Rp80 juta per bulan, Ricky semakin optimistis. Ia membuka outlet ketiga di Mal Ciputra, Jakarta, kemudian disusul pembukaan outlet lain di TangCity Mall Tangerang, Summarecon Mall Serpong, serta beberapa pusat perbelanjaan di Jawa Barat. Rata-rata, setiap outlet mampu mencatat omzet Rp30–60 juta per bulan.
“Saat itu belum ada tren minuman kekinian seperti K-Pop Milk Tea, Chatime, ShareTea, dan sejenisnya. Jadi kami bisa dibilang pionir di kategori minuman ini,” ujarnya bangga.
Berjuang Mempertahankan Bisnis di Tengah Pandemi, Titik Awal Kemitraan
Meski sempat menikmati pertumbuhan pesat, bisnis Ricky tak luput dari tantangan besar saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Dari total 62 outlet yang dimiliki, sebanyak 47 terpaksa ditutup dan hanya menyisakan 15 outlet yang berjuang bertahan.
“Saat itu kami belum membuka sistem kemitraan. Semua outlet adalah milik sendiri, sehingga dampaknya benar-benar terasa,” kenangnya.
Memasuki tahun 2021, Ricky tetap optimistis meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih. Di tengah persiapan untuk bangkit, muncul ketertarikan dari pelanggan yang ingin menjadi mitra bisnis. Melihat peluang tersebut, Ricky akhirnya membuka sistem kemitraan pada tahun 2022. Berbekal pengalaman dan bisnis yang telah teruji, jumlah outlet pun kembali melonjak hingga mencapai 65 outlet.
Pada tahun 2023, Ricky melakukan rebranding dengan mengubah nama Waroeng Teh Kotjok menjadi Teh Kotjok. Rebranding ini mencakup pembaruan desain logo dan warna agar terlihat lebih muda dan cerah, sesuai dengan selera generasi milenial. Meski tampilan berubah, Ricky memastikan rasa minuman tetap sama, bahkan jumlah varian menu bertambah menjadi 22 pilihan.
“Teh Susu Cincau masih menjadi menu best seller dan saat ini dibanderol dengan harga Rp15 ribu,” jelasnya.
Semangat Belajar dan Mewujudkan Target Bisnis
Sebagai pengusaha, Ricky menanamkan prinsip untuk tidak pernah berhenti belajar. Menurutnya, kemauan belajar akan membawa bisnis terus berkembang.
“Dulu saya hanya bisa Photoshop dan tidak menguasai Excel. Tapi saya belajar sampai akhirnya bisa membuat berbagai desain sendiri,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa di awal merintis usaha, banyak hal yang belum ia pahami, mulai dari mencari bahan baku hingga mengelola sumber daya manusia. Dengan bertanya kepada rekan yang lebih berpengalaman, Ricky perlahan menemukan vendor bahan baku dan mempelajari manajemen tim.
“Saya tipe pemimpin yang fokus pada hasil. Aturan jam kerja fleksibel, yang penting target tercapai,” pungkasnya.
Kini, bisnis besutan Ricky telah berkembang pesat dengan lebih dari 150 outlet yang tersebar di berbagai daerah, terutama di Jawa Barat. Ke depannya, Ricky menargetkan ekspansi hingga ke luar Pulau Jawa.
Investasi Kemitraan Teh Kotjok
Ricky menyebutkan, mitra bisnis hanya dikenakan royalti fee 1% dari omzet. Umumnya mitra bisnis mencapai BEP dalam kurun waktu 6-8 bulan. Anda tertarik menjadi mitra bisnis Teh Kotjok? Silakan daftar Peluang Usaha.
Ricky Wijaya adalah salah satu pebisnis yang sukses membangun bisnis dengan sistem kemitraan. Tertarik mengikuti jejaknya? Konsultasikan dengan pakar franchise di Daya.id agar usaha yang Anda jalankan semakin matang dan sukses.
Baca kisah sukses pengusaha inspiratif lainnya di Daya.id. Yuk daftar dan kunjungi Daya.id sekarang juga!