Dirilis

06 November 2018

Penulis

Rofian Akbar

Agar tidak mengalami kerugian, jangan salah memilih usaha waralaba atau franchise yang ingin Anda kelola. Untuk itu, dibutuhkan kecermatan dan persiapan dalam memilih usaha waralaba. Sebab, jika tidak berhati-hati, Anda sebagai calon investor bisa menelan kerugian. Bisa jadi usaha waralaba yang Anda pilih gulung tikar di tahun pertama.

Pikirkan segala kemungkinan sebelum memilih usaha waralaba, hingga siap untuk menekuni bisnis tersebut. 
Beberapa pedoman dalam tahapan memilih usaha waralaba adalah sebagai berikut ini:

 
  1. HARUS DAPAT ANDA NIKMATI. Bila Anda menjadi investor owner-operator, pilih bidang yang kira-kira dapat dinikmati rutinitas kesehariannya.
  2. PASTIKAN DIBUTUHKAN KONSUMEN. Patut Anda pertimbangkan dalam proses memilih ini: Pilihlah bisnis yang tetap dibutuhkan meski di tengah situasi krisis. Misalnya, gunting rambut atau salon (rambut selalu tumbuh dan harus dipotong); kebutuhan anak-anak (pendidikan dan ritel produk anak-anak); ritel kebutuhan sehari-hari (minimarket); dan kesehatan (apotek, toko obat, klinik, laboratorium). Bidang lain yang mungkin masih bisa diperdebatkan, tetapi tetap menarik pula di tengah krisis adalah produk fashion wanita, kecantikan wajah, hobi, perawatan mobil, laundry, serta makanan dan minuman.
  3. PASTIKAN ADA PERMINTAAN PASAR. Pilih produk yang memiliki kecukupan pasar di wilayah Anda. Kecukupan pasar berarti ada permintaan (demand) yang cukup dan cenderung terus meningkat.
  4. KISAH SUKSES BUKAN JAMINAN. Ingat pernyataan ini: Kesuksesan di kota asal merek waralaba, bukan jaminan bahwa merek itu akan sukses di lokasi Anda. Kekuatan pemimpin pasar di suatu daerah juga terlihat dari kepiawaian mereka menghadapi pesaing dari daerah lain, misalnya bimbel Ganesha di Bandung mampu menghadang serbuan merek besar dari Yogyakarta, dan Briton (kursus bahasa Inggris) tetap berjaya di Makassar meski merek besar dari Jawa masuk ke ibu kota Sulawesi Selatan itu.
  5. SESUAIKAN DENGAN DANA. Sesuaikan dengan kesiapan jumlah dana Anda. Dalam masalah pendanaan, sebaiknya tidak bergantung pada pembiayaan oleh bank, meski banyak tawaran untuk kredit khusus waralaba. Seandainya terpaksa, sebaiknya jumlah pinjaman tidak lebih dari jumlah utang dagang. Ini disebabkan margin keuntungan harus dibagi dengan pewaralaba dalam bentuk biaya waralaba seperti franchise fee dan royalti, sehingga tambahan pembayaran bunga bank berpotensi akan membebani Anda secara signifikan.
  6. CEK REPUTASI PEWARALABA. Pastikan Anda dapat mempercayai reputasi dan integritas pewaralaba, baik perusahaan maupun pemilik dan tim manajemennya. Waralaba itu terkait dengan prospek atau peluang usaha dan hubungan jangka panjang antara terwaralaba dengan pewaralaba, minimum lima tahun. Beberapa cara menggali aspek ini antara lain dengan bertanya kepada orang-orang yang sedang, atau pernah menjadi terwaralaba. Pihak lain yang bisa ditanya antara lain: pegawai pewaralaba dan terwaralaba, bankir, dan pemasok.
  7. CEK PROYEKSI KEUANGAN. Ujilah semua asumsi dalam proyeksi keuangan yang disajikan oleh pewaralaba, mulai dari harga jual hingga margin keuntungan, mulai dari volume penjualan hingga jumlah pelanggan dan jumlah nominal transaksi per pelanggan, juga asumsi mengenai biaya sewa tempat, asumsi biaya listrik bulanan, dan gaji pegawai yang tidak jarang kurang realistis (di bawah UMR). Bila perlu, tongkrongi gerai mereka selama seminggu. Buatlah sendiri proyeksi keuangan versi Anda, yang sudah disesuaikan asumsi-asumsinya, sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan Anda dalam memilih waralaba yang akan dibeli. Jangan mempercayai mentah-mentah angka yang disajikan dalam iklan atau berita ataupun profil mengenai waralaba di media massa.
  8. TELITI KONTRAK KERJASAMA. Evaluasi dengan teliti isi kontrak atau perjanjian waralaba. Perhatikan kewajiban pewaralaba dan terwaralaba, serta pembatasan yang diberlakukan terhadap Anda. Teliti kejelasan syarat dan biaya perpanjangan perjanjian waralaba bila jangka waktu perjanjiannya berakhir nanti. Cermati pula hal-hal yang dapat mengakibatkan pengakhiran perjanjian atau pemutusan hubungan waralaba, serta aspek-aspek terkait dengan exit strategy (pengalihan hak waralaba kepada pihak lain, perubahan kepemilikan saham perusahaan Anda, hak ahli waris, dan sebagainya). Jangan segan bertanya kepada pewaralaba bila ada yang kurang Anda mengerti. Negosiasikan hal-hal yang perlu dinegosiasikan.
  9. PASTIKAN JAMINAN TERCANTUM. Bila ada jaminan atau garansi tertentu, pastikan jaminan itu tercantum dalam kontrak dan kata-katanya mudah dipahami. Ada pewaralaba yang memberi jaminan keuntungan minimum 1% per bulan, entah dihitung dari jumlah modal yang ditempatkan atau dari angka lain. Ada pula pewaralaba yang memberi jaminan uang kembali bila dalam waktu tertentu tidak tercapai tingkat pengembalian balik modal hingga 100%. Pastikan ada kesamaan persepsi mengenai definisi balik modal dan pastikan pula kejelasan persyaratan berlakunya jaminan ini.
  10. PILIH LOKASI TERBAIK. Pilih lokasi yang terbaik. Persetujuan pewaralaba terhadap lokasi yang Anda ajukan tidak memberi jaminan bahwa bisnis akan lancar. Bila perlu, sewakan ruko Anda ke pihak lain, kemudian Anda menyewa ruko orang lain yang lebih strategis. Biaya sewa ruko yang murah akan menjadi mahal ketika ruko itu tidak mendatangkan jumlah pelanggan yang dibutuhkan. Tidak jarang selisih biaya sewanya setara atau lebih besar dari biaya promosi untuk mendatangkan pelanggan ke ruko yang kurang strategis itu.

 

Sumber:

Rofian Akbar

Penilaian :

5.0

1 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Rofian Akbar

Pakar Waralaba

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS