Ina Cookies dirintis dari usaha rumahan oleh seorang ibu rumah tangga bernama Ina Wiyandini, sejak 1992.
Sebelumnya, wanita yang akrab disapa Mama Ina ini mendapat resep kue kering Nastar dari kakak iparnya. Kesenangannya membuat kue kering mendapatkan momentum ketika perkebunan jahe gajah milik keluarganya panen raya di Aceh pada 1988. Karena khawatir banyaknya jahe yang membusuk, maka diolahlah menjadi nastar. Ina kemudian menjualnya secara door to door atau dari rumah ke rumah. Nastar buatannya mendapat sambutan yang baik dari para tetangga dan kenalan.
Restart Bisnis dan Berkembang di Bandung

Ketika suaminya harus pindah dinas ke daerah Bandung, Ina tetap melanjutkan hobinya membuat kue kering. Usaha menjual kue keringpun di mulai kembali dengan sistem door to door. Seperti sebelumnya, kue kering buatan Ina mendapat respon positif, bahkan banyak kolega suami dan rekan kenalannya yang mau membantu jualan kue keringnya alias menjadi reseller yang kemudian diberi komisi Rp5-7 ribu rupiah per toples.
Seiring bisnisnya semakin berkembang, pada tahun 1992 Ina resmi memberi nama produknya Ina Cookies. Di tahun inilah juga, bersamaan dengan kelahiran anak ke duanya Voula Nur Rahmaniar, Ina Cookies mengalami kesuksesan hingga mampu membukukan penjualan Rp1 miliar dalam satu tahun.
“Waktu itu kan larisnya saat lebaran. Karena lebaran kan satu tahun sekali saja momennya. Jadi kerja satu bulan tetapi bisa hidup untuk satu tahun. Tidak punya banyak karyawan waktu itu. Jadi dikerjakan bareng keluarga saja,” ujar Voula Nur Rahmahniar, putri kedua sekaligus generasi penerus Ina Cookies.
Kata Voula, Ina Cookies mulai aware terhadap strategi marketing dan mulai membuat logo. “Modelnya logo lengkungan kalau di Islam itu bulan dan bintang di Masjid. Jadi harapannya dari Indonesia ingin mendunia. Nama Ina juga sebuah doa artinya Indonesia Cookies. Produk kita juga mulai dikembangkan dengan main product yang menjadi best seller seperti nastar, kastengel, putri salju, sagu keju. Ternyata disukai banyak orang dan rasanya cocok dengan masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Di tahun 1992 pula bisnis kue kering yang dirintis Ina berkembang pemasarannya lewat reseller dan keagenan. Awalnya, yang menjadi reseller adalah keluarga besar. Setelah dewasa, Voula dan sang Kakak juga dilibatkan dalam mengelola dan membesarkan Ina Cookies.
“Karena Ina ingin keluarga besar juga bisa sukses sama-sama membesarkan Ina Cookies. Saya sendiri ketika ikut terlibat di Ina Cookies ditugaskan menjadi SPG kemudian naik ke sales marketing. Sampai kini menjadi Direktur Marketing. Sedangkan kakak saya ditugaskan di bagian manufacturing,” beber Paula.
Persyaratan menjadi reseller cukup mudah yaitu belanja produk senilai Rp375 ribu diskonnya langsung 10%. Sedangkan kalau menjadi distributor minimum belanjanya Rp 3,5 miliar. “Reseller semuanya kita pinjamkan, banner, foto, tools-nya, pelatihan, tim sales, katalog, marketing promo dan sebagainya jadi sudah ready semua tinggal jualan saja,” ujar Voula.
Untuk sistem keagenan, Voula menyebut rata-rata agen mendapat keuntungan 10%. Ia juga rutin memberikan reward untuk agen setiap tahunnya. “Tahun ini, para agen kita kasih award jalan-jalan ke Thailand dan umroh. Untuk umroh minimum belanja di Rp3,5 miliar. Kalau ke Thailand Rp1 miliar. Kemarin yang berangkat 38 orang. Agennya rata-rata ibu rumah tangga yang berjualan online dari rumah. Kita juga ada pelatihan penjualan online namanya Sherina Community,” tutur Voula.
Dituturkan Paula, Ina Cookies terenal sebagai hand made cookies. Sampai saat ini meskipun punya pabrik tapi masih menggunakan hand made karyawan. “Karena kata Ina mesin itu tidak bisa berdoa tapi karyawan bisa mendoakan karena itu semua hand made. Mesin itu hanya untuk beberapa varian yang besarannya harus sama seperti kue lidah kucing dan sagu keju saja. Tapi nastar dan sebagainya pakai hand made karena tidak ada cetakan yang menyerupai bulat sabit,” ungkapnya.
Sampai saat ini, Ina Cookies sudah memproduksi ratusan jenis kue kering. Setiap tahunnya produknya dikurasi menjadi 36 varian yang paling best seller. Nastar, kastengel, putri salju, sagu keju, kue coklat masih menjadi favorit masyarakat. “Produk kami memiliki rasa yang konsisten dan bahan baku premium. Pabrik kita juga sudah berskala internasional jadi tidak semua orang bisa sembarangan masuk pabrik. Sebelum masuk pabrik discreening dahulu kesehatannya, bagian area dalam dan luar harus terjaga. Pakai perlengkapan tempur seperti masker, hijab, sarung tangan, dan sebagainya” jelas Voula.
Selain keunggulan dari segi rasa, menurut Voula harganya juga affordable. “Harga produk di Jabotabek masih affordable, Ina Cookies Gold harganya Rp125 ribu sudah ada all varian. Ada juga JAR harganya Rp75 ribu. Kita juga sudah masuk ke channel modern trade di mal-mal seperti AEON dan Hypermart. Jadi menjangkau semua jenis cookies mulai healthy cookies, cookies anak-anak, oleh-oleh, semua cookies ada,” kata wanita lulusan UNPAD jurusan Business Management ini.
Kesuksesan bisnis Ina tidak terlepas dari bagaimana ia mengelola karyawannya. Voula bercerita, sejak dulu Ina membolehkan pasangan karyawan (suami atau istri) dan bahkan anak-anaknya bekerja bersama-sama di Ina Cookies. Setiap tahunnya karyawan terpilih diberangkatkan umroh, ada CSR seperti pondok tahfidz Qur'an, anak-anak karyawan juga disekolahkan. Itu semua legacy yang sampai sekarang masih dilanjutkan dan menjadi penunjang bisnis Ina Cookies,” jelas Ibu satu anak kelahiran 1992 ini.
Sebelum berkibar bersama Ina Cookies, Ina juga pernah menjalankan bisnis lain seperti restoran fuyunghai, chinesse food, dan makanan sunda sampai bisnis air isi ulang, dan penjualan material bangunan. Dari semua itu, yang masih berjalan sampai sekarang yaitu Restoran makanan sunda dan bakso yang berlokasi di Bandung.
Menurut Voula, kendala yang dialami Ina sewaktu membangun usaha kue keringnya adalah membagi waktu antara usaha dan keluarga. “Karena Ina gak mau anaknya dipegang oleh pengasuh. Ia asuh sendiri anak-anaknya sambil menekuni usaha. Sementara sang suami bekerja. Jadi di awal-awal memulai bisnis, laku satu toples sehari juga sudah alhamdulillah karena dikerjakan sambil urus anak,” kenangnya.

Kian Berkembang di Tangan Generasi Kedua
Ina Cookies kini sudah memasuki usia 34 tahun dan menyerap 1.000 karyawan. Pengelolaannya sudah dipegang generasi kedua sejak tahun 2012, sementara Ina menjadi komisaris perusahaan. Dari satu toko di daerah Bandung, Ina Cookies saat ini sudah punya 200 toko tersebar di seluruh Indonesia dan memiliki channel penjualan yang tersebar di berbagai daerah melalui para resellernya. Distributornya tersebar di 6 kota, yaitu Bandung, Jakarta, Surabaya, Cirebon, Semarang dan Karawang. Sementara Kantor pusat dan pabriknya berada di Bandung di Jl. Bojongkoneng no. 8.
Pengelolaan oleh Voula sebagai generasi ke 2 dengan pendiri sebelumnya tentu berbeda. Voula mengaku dulu pengelolaan oleh sang ibunda masih by feeling misalnya saat mau buat produk masih berdasarkan “kalau jual kue jenis ini sepertinya laku deh”. Semua proses bisnis masih di handle sendiri, belum mengenal orang marketing dan orang desain. “Di generasi kedua ini segala sesuatunya berdasarkan riset. Tidak bisa pakai feeling. Divisi bisnis juga sudah lengkap ada bagian desain, marketing, supervisi dan sebagainya. Akan tetapi tantangan kita juga berat karena distributor dan konsumen kita masih dari kalangan baby boomers. Karyawan juga dari baby boomers jadi masih by feeling. Jadi tangangannya mengubah mindset dan kebiasaan. Kita juga melibatkan vendor untuk mengerjakan apapun seperti desain baru, packaging, ngerjain channel baru ritel seperti general trade, modern trade, dan e-commerce," bebernya.
Wah, ternyata Voula mengalama tantangan antar generasi juga ya!
Semakin Meroket Pasca Pandemi
Di masa Pandemi, penjualan kue kering mengalami penurunan. Karena penjualan banyak bertumpu kepada reseller sementara banyak reseller terdampak pandemi seperti sakit bahkan sampai meninggal. “ Ina berpesan jangan terjadi pemecatan karyawan di masa pandemi. Nah ketika pandemi ada beberapa hal yang dilakukan untuk menyiasati :
- Mencoba mulai berjualan melalui e-commerce.
- Mengerahkan semua karyawan untuk saling bantu proses bisnis meski bukan pekerjaan utamanya. Misalnya, semua karyawan dilibatkan untuk jualan online, chef membantu packing
- Mengatur shift kerja bergantian.
- Memanfaatkan sistem penjualan dropship
Cara-cara tersebut terbukti membantu Ina Cookies bertahan. Bahkan setelah Voula bisa merenovasi pabrik menjadi lebih luas dan ekspansi toko, gudang dan office.
Berhasil bertahan melewati pandemi bukan berarti tantangan bisnis selesai, justru hal ini menjadi titik awal dari tantangan yang baru. Voula mengakui, di era AI seperti sekarang ini, semua orang bisa kreatif, foto produk sampai desain booth sudah bisa dibuat semenarik mungkin dibantu AI. Bersaing dengan dunia yang semakin kreatif menjadi salah satu tantangan yang sedang dihadapi. Selain itu manajemen waktu sangat berpengaruh terhadap operasional bisnis. “Saya punya keluarga, suami bekerja di BUMN yang terkadang harus tugas ke luar negeri. Seperti tugas di Singapura misalnya saya harus bolak balik, jadinya capek Senin sampai Minggu tidak ada libur. Namun saya happy dengan pekerjaan padat ini. Dari luar saya kelihatannya ceria terus padahal otak berpikir terus harus menyelesaikan banyak problem,” tuturnya.
Dengan pencapaian yang diraih sejauh ini, Voula yakin bisa membawa Ina Cookies menjadi perusahaan multinasional di tahun 2028. Bagi Anda yang ingin menekuni dunia bisnis, Voula berbagi tips yang penting mulai saja dulu. “Bila ada program (ide) langsung dar der dor take actions. Apa yang diinget langsung kerjain, jangan ditunda-tunda. Karena inspirasi dan ide akan hilang momentumnya begitu ditunda-tunda,” pungkasnya.
Voula Nur Rahmahniar adalah salah satu pebisnis yang sukses membangun bisnis dengan sistem kemitraan. Tertarik mengikuti jejaknya? Konsultasikan dengan pakar franchise di Daya.id agar usaha yang Anda jalankan semakin matang dan sukses.
Baca kisah sukses pengusaha inspiratif lainnya di Daya.id. Yuk daftar dan kunjungi Daya.id sekarang juga!