Setiap jenis usaha pasti akan mengalami pasang surut. Salah satu situasi yang paling mencemaskan bagi para pengusaha UMKM adalah tatkala usaha sedang sepi pembeli atau penjualan sedang slow atau lambat, turun, dan stagnan pertumbuhannya.
Penurunan jumlah pembeli atau penjualan yang slow tentu berdampak langsung pada pendapatan, yang berisiko mempengaruhi kondisi keuangan usaha. Untuk itu, memiliki strategi keuangan menjadi sangat penting agar usaha tetap bertahan dan bisa bangkit kembali.
Baca juga: Waspada Bisnis Kolaps, Jangan Asal Kelola Keuangan
Artikel ini akan membahas cara-cara mengatur cash flow (arus kas) di kala usaha sedang sepi pembeli atau penjualan sedang slow. Ada lima langkah yang dapat dilakukan, yaitu:
Pertama, Periksa, kelola, dan pantau cash flow (arus kas)
Cash flow (arus kas) adalah pergerakan uang tunai yang masuk dan keluar dari suatu usaha dalam periode tertentu. Jika usaha pendapatan usaha Anda lebih besar daripada pengeluaran usaha, artinya usaha Anda memiliki cash flow (arus kas) positif (+) dalam jangka waktu tersebut. Sebaliknya jika usaha membelanjakan/mengeluarkan uang lebih banyak daripada yang usaha hasilkan, artinya usaha Anda memiliki cash flow (arus kas) negatif (-).
![]()
Jadi ketika sedang sepi pembeli, fokuslah pada manajemen cash flow (arus kas) dibanding profit. Daripada mengejar keuntungan yang tinggi dengan investasi lebih besar, seperti buka cabang usaha. Menjaga cash flow (arus kas) lancar jauh lebih penting dan mendesak agar perusahaan bisa terus beroperasi.
- Jadi ceklah, semua pemasukan dan pengeluaran guna memastikan bahwa uang yang tersedia cukup buat menutupi biaya operasional, seperti gaji karyawan, pembayaran sewa ruko, dan kebutuhan lainnya.
- Buatlah juga rencana atau proyeksi cash flow (arus kas) dan pantau ketat realisasinya. Proyeksi cash flow (arus kas) adalah perkiraan uang yang akan masuk dan keluar, dalam periode tertentu. Proyeksi bisa dibuat dalam periode per mingguan, bulanan, triwulan/quartal, semester atau 12 bulanan. Monitorlah dan realisasikan cash flow (arus kas) secara ketat, agar dapat membantu proses pengambil keputusan secara cepat, guna membuat langkah-langkah perbaikan, terlebih bila cash flow (arus kas) berjalan tidak sesuai rencana.
Kedua, Percepat pembayaran piutang dagang dan menangguhkan utang dagang
Guna memperlambat arus uang keluar dan meningkatkan atau mempercepat arus uang masuk. Semua jenis piutang dagang sebaiknya dipercepat pencairannya dengan cara memperpendek jangka waktu pembayaran invoice, dan secepatnya melakukan penagihan-penagihan piutang dari klien atau pelanggan khususnya yang terlambat.
Selain itu lakukan negosiasi pembayaran utang dagang, dengan cara meminta kelonggaran waktu atau pengunduran jatuh tempo pembayaran kepada supplier. Prioritaskan juga pembayaran utang yang sifatnya mendesak, seperti utang dengan bunga tinggi, tagihan listrik, dan gaji karyawan.
Cara-cara ini akan dapat memperpanjang “napas” kehidupan usaha, ketika aliran uang masuk tidak sesuai dengan proyeksi.
Ketiga, Identifikasi aset dan gunakan untuk menambah pemasukan
Apabila Anda memiliki aset, namun selama ini tidak menghasilkan penambahan pendapatan, maka gunakanlah aset tersebut untuk mendatangkan pemasukan tambahan. Aset seperti tanah, gedung, dan kendaraan bisa disewakan ke pihak lain, sedangkan aset seperti stok barang di gudang akibat kelebihan produksi atau berlebih (over stock) dapat dijual untuk menutup biaya operasional usaha. Kardus-kardus produk yang tidak terpakai dirapikan dan dijual secara kiloan guna menambah pendapatan.

Keempat, Lakukan penghematan
Seperti kita ketahui bersama, pengeluaran adalah jumlah uang yang dikeluarkan atau dibelanjakan, misalnya, cicilan, pembayaran sewa, atau tagihan internet yang harus dibayar setiap bulan, investasi dan sebagainya. Di saat pemasukan seret, periksa pos pengeluaran, kemudian potonglah pengeluaran yang tidak penting, bisa ditunda, bisa dikurangi.
Lakukan penghematan biaya-biaya. Biaya dapat didefinisikan sebagai jumlah uang yang dikeluarkan usaha Anda untuk menghasilkan produk atau jasa, yang meliputi bahan baku, tenaga kerja, dan operasional lainnya. Cek biaya-biaya yang dapat dihapus, dikurangi, atau diganti, misalnya mengurangi biaya listrik, misalnya dari lampu, AC, biaya bensin kendaraan operasional, menghilangkan denda akibat terlambat membayar kewajiban, mengurangi lembur, mengurangi penggunaan kertas dengan memanfaatkan kertas yang telah terpakai secara bolak-balik, dan sebagainya.
Kelima, Mencari akses pembiayaan jangka pendek untuk antisipasi defisit
Apabila laporan cash flow (arus kas) ternyata minus, maka sangat penting bagi pemilik usaha untuk mencari akses ke lembaga keuangan yang menyediakan pembiayaan jangka pendek atau suntikan modal.
Pembiayaan jangka pendek akan membantu melancarkan cash flow (arus kas) perusahaan dan bisa menjadi solusi cepat untuk menata kembali keuangan. Pinjaman modal ini silakan gunakan untuk melunasi tagihan, memperbaiki produktivitas, menutup biaya operasional, hingga pembelian inventaris.
Demikianlah 5 cara mengelola cash flow (arus kas) di saat pembeli sepi atau penjualan sedang slow, semoga bisa membantu usaha Anda tetap survive, namun apabila masih ada hal yang ingin diketahui,
Baca juga: Cara Menjaga Arus Kas UMKM, Lakukan Analisis Awal Tahun.
Bila ingin ada yang ditanyakan, silakan akses Tanya Ahli daya.id. Daftarkan diri Anda untuk akses gratis di Daya.id.
Sumber:
Berbagai sumber
Berikan Pendapat Anda