Informasi Artikel

Penulis Artikel

Thomas Aquino Herly Marwanto

Bagi pelaku usaha ritel yang baru memulai bisnis, memahami kondisi keuangan usaha adalah hal yang sangat penting. Salah satu ukuran utama kesehatan usaha adalah laba bersih. 

Memahami pentingnya laba bersih dan cara menghitung akan memberikan banyak manfaat, terutama bagi usaha ritel yang masih berkembang.  Berikut beberapa manfaat yang dapat diambil:

 

1.       Mengetahui Usaha Benar-Benar Untung atau Rugi

Banyak usaha terlihat ramai, tapi ternyata uangnya selalu habis. Dengan menghitung laba bersih, Anda tahu apakah usaha benar-benar menghasilkan keuntungan atau hanya sekadar berputar uang.

 

2.      Dasar Pengambilan Keputusan Usaha

Data laba bersih membantu Anda menjawab pertanyaan penting seperti:

  • Apakah harga jual sudah tepat?
  • Perlu mengurangi biaya tertentu atau tidak?
  • Bisa tambah karyawan atau belum?

Keputusan usaha yang baik harus berdasarkan angka, bukan perasaan.

 

3.       Terkait Pengajuan Permodalan ke Pihak Ketiga

Saat mengajukan pinjaman ke bank, koperasi, lembaga keuangan ,investor. Salah satu hal yang akan dilihat adalah kemampuan usaha menghasilkan laba bersih. Laba bersih menunjukkan:

  • Kemampuan bayar cicilan
  • Kesehatan arus kas
  • Kelayakan usaha untuk dikembangkan

Usaha yang rutin mencatat laba bersih akan lebih dipercaya oleh pihak ketiga.

 

4.      Mengontrol Kebocoran Uang

Dengan rutin menghitung laba bersih, Anda lebih mudah menemukan:
•    Biaya yang terlalu besar
•    Pengeluaran yang tidak perlu
•    Potensi penghematan usaha

Sayangnya, banyak pelaku usaha belum benar-benar memahami apa itu laba bersih? apa bedanya dengan laba kotor? dan bagaimana cara menghitungnya dengan mudah?

 

Apa Itu Laba Bersih?

Laba bersih adalah keuntungan akhir yang diperoleh usaha setelah semua biaya dikeluarkan. Biaya adalah semua pengeluaran uang (atau nilai uang) yang dikeluarkan oleh pelaku usaha, untuk menjalankan dan mempertahankan usaha, supaya barang atau jasa bisa diproduksi dan dijual.

Misalnya Anda punya usaha gorengan, warung, atau jualan online:

  • Beli bahan baku (tepung, minyak, telur)
  • Beli gas atau listrik
  • Bayar sewa tempat atau lapak
  • Beli plastik, kardus, atau kemasan
  • Ongkos kirim ke pelanggan
  • Bayar tenaga bantu (kalau ada)

Semua itu disebut biaya usaha, karena tanpa itu usaha tidak bisa berjalan.

Secara sederhana, laba bersih adalah uang yang benar-benar tersisa dan bisa dinikmati pemilik usaha setelah usaha dijalankan. Sebagai contoh: Jika usaha ritel Anda memperoleh penjualan Rp50 juta dalam satu bulan, tetapi total biaya usaha Rp47 juta, maka laba bersih Anda adalah Rp3 juta.

 

Apa Bedanya Laba Kotor dan Laba Bersih?

Banyak pelaku usaha masih tertukar antara laba kotor dan laba bersih. Padahal keduanya sangat berbeda.

Laba kotor adalah selisih antara:

  • Total hasil penjualan
  • Dikurangi Harga Pokok Penjualan (HPP)

HPP biasanya mencakup harga beli barang dan biaya langsung pembelian misalnya biaya pengiriman barang dan biaya kemasan langsung.
Rumus laba kotor:      

Laba Kotor = Total hasil penjualan – HPP

Laba kotor adalah selisih antara uang penjualan dan biaya langsung produk yang dijual. Karena itu, laba kotor dipakai untuk melihat seberapa baik kemampuan kita dalam berjualan. Kalau laba kotor besar, artinya kemampuan jualan baik. Kalau laba kotor kecil, artinya kemampuan jualan perlu diperbaiki.

Laba kotor berkaitan dengan kemampuan jualan Anda, karena laba kotor dipengaruhi oleh dua hal utama dalam berjualan, yaitu:

 

1️.  Harga Jual

  • Apakah harga jual cukup tinggi?
  • Apakah pelanggan bersedia membayar harga tersebut?


 

2️. Biaya Pokok Produk

  • Apakah bahan baku dibeli dengan harga hemat?
  • Apakah ada pemborosan dalam produksi?

Jadi kemampuan jualan Anda disebut bagus, kalau barang yang dijual bukan cuma laku, tapi laku dengan untung.  Kalau laku dan tidak untung, namanya bukan usaha, namun kerja bakti.

Contoh Sederhana

Contoh 1: Laba Kotor Kecil

Harga jual gorengan: Rp2.000

Biaya bahan per gorengan: Rp1.800

Maka Laba kotor = Rp2.000 − Rp1.800 = Rp200

Artinya memang laku, tapi untungnya sangat tipis, kemampuan jualannya kurang kuat


Contoh 2: Laba Kotor Lebih Besar

Harga jual gorengan: Rp2.000

Biaya bahan per gorengan: Rp1.200

Laba kotor = Rp2.000 − Rp1.200 = Rp800

Artinya produk bisa dijual dengan baik, biaya terkendali dan kemampuan jualannya lebih baik

Jadi laba kotor dibilang “kemampuan jualan”? Karena laba kotor menunjukkan:

  • Apakah produk dihargai pelanggan
  • Apakah pelaku usaha pandai menentukan harga
  • Apakah usaha efisien dalam bahan dan produksi
  • Apakah jualan bisa menopang biaya lain (listrik, sewa, dll)

Laba bersih adalah sisa uang usaha setelah semua biaya dibayar. Bukan hanya biaya bahan baku, tetapi SEMUA biaya usaha.

Laba bersih sudah memperhitungkan:

  • Laba kotor
  • Dikurangi semua biaya operasional usaha

Biaya operasional contohnya:

  • Sewa toko
  • Gaji karyawan
  • Listrik dan air
  • Internet
  • Transportasi
  • Biaya admin, cicilan, atau bunga
  • Biaya promosi


Rumus laba bersih:
Laba Bersih = Total Hasil Penjualan – (HPP + Biaya Operasional)

 
Cara Menghitung Laba Bersih dengan Rumus Sederhana

Langkah 1: Hitung Total Penjualan
Jumlahkan semua omzet penjualan dalam periode tertentu (harian, mingguan, atau bulanan).
Contoh:  Total penjualan bulan April: Rp40.000.000

Langkah 2: Hitung HPP (Harga Pokok Penjualan)
Misalnya:  Modal beli barang: Rp25.000.000

Langkah 3: Hitung Biaya Operasional

Contoh biaya:

  • Sewa toko: Rp3.000.000
  • Gaji karyawan: Rp5.000.000
  • Listrik + air: Rp1.000.000
  • Transportasi & lain-lain: Rp1.000.000

Total biaya operasional: Rp10.000.000

Langkah 4: Masukkan ke Rumus
Laba Bersih = Penjualan – (HPP + Biaya Operasional)
Laba Bersih = 40.000.000 – (25.000.000 + 10.000.000)
Laba Bersih = Rp5.000.000

Artinya, dalam satu bulan usaha Anda benar-benar menghasilkan Rp5 juta.

Baca juga:  Laporan Keuangan Laba Rugi Sederhana untuk UMKM Pemula

 

Kapan Penghitungan Laba Bersih Harus Dilakukan?

Idealnya, penghitungan laba bersih dilakukan secara rutin dan konsisten:

  • Bulanan → untuk usaha kecil & ritel pemula
  • Mingguan → untuk usaha dengan transaksi tinggi
  • Tahunan → untuk evaluasi besar dan laporan usaha

Untuk pemula, minimal lakukan per bulan agar usaha tetap terkontrol.

Laba bersih bukan hanya angka, tetapi kompas usaha. Dengan memahami dan menghitung laba bersih secara sederhana, Anda sebagai pelaku usaha ritel bisa:

  • Menjalankan usaha dengan lebih tenang
  • Mengambil keputusan lebih tepat
  • Lebih siap mengajukan permodalan
  • Menjaga usaha tetap berkelanjutan

 
Selain melalui laba bersih, untuk mencek kesehatan usaha Anda, cobalah manfaatkan tools Radar Bisnis, yang ada di website daya.id ini.  

Silakan baca dan gunakan Radar Bisnis di link ini:  Cara Memeriksa Kesehatan Bisnis, Rekomendasi untuk UMKM.

Radar Bisnis ini tidak dipungut biaya bagi para pengguna lho dan apabila setelah mendapatkan hasil test cek Kesehatan usaha ini, Anda ingin berkonsultasi dengan ahli dibidang usaha, agar semakin mampu meningkatkan performa usaha, silakan manfaatkan fitur Tanya Ahli ya, dan mari yang belum pernah daftar daya.id, segera daftar ya. Cukup klik link ini.

Sumber:

Berbagai sumber

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Artikel Terkait

4.8
Memulai Usaha

Tips dan Cara Memperhitungkan Bonus Tahunan

03 Desember 2021

4.9
Memulai Usaha

Cara Menghitung Biaya Bahan Baku, Kunci Menentukan Harga Jual

21 Agustus 2024

4.8
Memulai Usaha

Butuh Uang Segera? Ini Cara Mudah Pinjam Uang di Bank!

29 Juli 2022

5.0
Memulai Usaha

Cara Mengoptimalkan Kinerja Tim agar Dapat Mencapai Target Akhir Tahun dengan Efisien

08 Oktober 2024

Berikan Pendapat Anda

1 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS