Resah dengan Sistem Belajar Sang Anak, Hanny Agustine Sukses Wujudkan Pendidikan Berbasis Teknologi

Dirilis

17 Juni 2021

Penulis

Majalah Franchise Indonesia, Mitra Strategis Program Daya Sejak 2014

Pengusaha

Ir. Hanny Agustine

Jenis Usaha

Pemilik Franchise Digikidz

Hanny Agustine penemu DIGIKIDZ sukses mengembangkan pendidikan teknologi multimedia berbasis kreativitas untuk mewujudkan cita-cita anak-anak di Indonesia dalam bidang teknologi. Seperti apa kisah suksesnya?

 

Berawal Dari Keresahan Dengan Sistem Pendidikan di Indonesia


Sekitar 20 tahun yang lalu, saat anaknya masih duduk di kelas 3 SD, Hanny menemukan sistem belajar dan metode ujian yang diterapkan sekolah kepada sang anak condong ke hafalan. Setelah ujian, sang anak lupa dengan materi yang sudah dihafal. 



Satu kali hasil ujian Bahasa Indonesia sang anak, jelek. Lantas, Hanny menemui kepala sekolah dan menanyakan apa jawaban yang benar dari soal itu. Soal di ujian tersebut adalah: Batu bata digunakan untuk? 

Kata Kepala Sekolah jawaban seharusnya, untuk membangun rumah. 

“Tahu tidak anak saya menjawab soal itu dengan ‘batu bata digunakan untuk mengganjal pintu?’ Batu bata kan bisa untuk membangun rumah, bangun rumah sakit, juga untuk mengganjal pintu kan? Di rumah, anak saya melihat pembantu rumah mengganjal pintu pakai batu bata, kok salah?” kenangnya ketika itu. 

Pengalaman tersebut mengubah jalan hidup Hanny. Ia resah dengan pendidikan anak di sekolah saat itu. Anak-anak selalu menerapkan siklus belajar mencatat, menghafal, dan lupa. Dari kondisi itu wanita kelahiran Malang ini bertekad mendirikan sarana belajar yang menyenangkan untuk anak-anak dan remaja. 

Tekad tersebut mendorong Ir. Hanny Agustine mendirikan DIGIKIDZ pada tahun 2001, dengan menerapkan pendidikan sistem belajar menggunakan teknologi multimedia dan berbasis kreativitas, DIGIKIDZ hadir untuk memajukan pendidikan anak-anak dan remaja di Indonesia untuk mengenal lebih dalam mengenai multiple intelligence atau konsep quantum learning

 

Terus Mengembangkan Keilmuan Teknologinya

Wanita lulusan Teknik Elektro dari Universitas Kristen Satya Wacana ini sudah bekerja selama 14 tahun sebelum mendirikan DIGIKIDZ. Pengalaman tersebut tentu saja menjadi bekal memulai bisnis ini. Di samping itu, ia juga mengikuti pelatihan-pelatihan seperti pelatihan waralaba dan bisnis.

Ia juga belajar dengan beberapa mentor bisnisnya. Selain itu, Hanny mendatangi confrence, seperti Microsoft Worldwide Conference di Toronto pada Juli 2012. Mengunjungi acara-acara serta pameran teknologi baik lokal maupun internasional seperti Asia Taiwan Computex, untuk menambah wawasan dalam perkembangan teknologi. Ia juga studi banding dengan sekolah-sekolah di luar negeri untuk melakukan benchmarking

Hanny tetap mengeksplorasi hal-hal baru untuk mengembangkan ilmu-ilmu teknologi yang akan diterapkan di DIGIKIDZ agar tetap menjadi yang terdepan dalam pendidikan teknologi dan kreativitas untuk anak-anak dan remaja di Indonesia. 

Dengan semua usaha yang telah Hanny lakukan, tidak heran jika di tangannya DIGIKIDZ berkembang dan menjadi lembaga pendidikan ternama di industri franchise. Saat ini DIGIKIDZ sudah memiliki 12 center (4 gerai milik sendiri dan 8 gerai milik franchise). Ke-12 center tersebut tersebar di Jakarta, Tangerang, Solo, Malang, Surabaya, Medan, Palembang, Lampung dan Jambi. Rata-rata cabang DIGIKIDZ bisa menyentuh omzet hingga 80 juta per bulan.

Jumlah murid di setiap cabang DIGIKIDZ rata-rata 80-150 murid, belum termasuk kerjasama dengan sekolah. DIGIKIDZ kini sudah bekerjasama dengan lebih dari 60 sekolah nasional plus dan international di seluruh Indonesia seperti HighScope, Stella Maris, Al-Azhar, Binus, Kanisius, dan sekolah lainnya.

 

Kerja Keras Di Balik Kesuksesan DIGIKIDZ

Hanny mengakui, ia butuh effort yang keras ketika memulai bisnis DIGIKIDZ. Maklum saja, perkembangan teknologi tahun 2001 berbeda dengan saat ini. Dulu anak-anak tidak banyak yang menggunakan handphone, koneksi internet pun masih lambat, layar monitor pun masih CRT. Sehingga saat membangun DIGIKIDZ perlu effort lebih banyak untuk menjelaskan ke orang tua akan pentingnya mempelajari skill komputer. Selain itu, Hanny juga harus bekerja secara virtual selama tahun 1997-2001 dengan berbagai tim yang tersebar di 13 negara Asia Pasifik.

Pekerjaannya untuk mengembangkan DIGIKIDZ sangat-sangat tergantung pada komputer dan internet. Pada tahun-tahun itu, komputer masih mahal, internet di Indonesia baru muncul dengan modem 56 Kbps. Harga koneksi internet masih mahal dan belum banyak masyarakat Indonesia yang dapat mengakses internet.  

 

Bisnisnya Semakin Relevan di Zaman Sekarang

Dibandingkan dengan perjuangan Hanny saat awal mendirikan DIGIKIDZ dulu, anak-anak saat ini sudah sangat dekat sekali dengan teknologi. Sama halnya juga dengan orang tuanya, ketika dijelaskan produk pembelajaran apa yang ditawarkan oleh DIGIKIDZ mereka sudah langsung paham.

Bisnis DIGIKIDZ saat ini sedang ada dalam masa keemasan. Di mana semua orang semakin melek akan teknologi, khususnya anak-anak. Banyak anak-anak yang bermimpi menjadi content creator seperti menjadi youtuber, animator, atau bahkan game developer. DIGIKIDZ memiliki program yang dapat membuat muridnya mendalami apa yang dicita-citakannya, khususnya dalam bidang teknologi digital.

 

Beradaptasi Dengan Baik Selama Pandemi Covid-19

Saat pandemi Covid-19 ini, Hanny mengakui semua bisnis pasti terkena dampaknya. Namun DIGIKIDZ sigap menghadapi ini dengan meluncurkan beberapa program kelas daring yang bisa diikuti murid-muridnya di rumah. “Justru dengan kelas daring ini, cakupan murid DIGIKIDZ kini berdatangan dari mana-mana, termasuk lokasi di mana kami tidak memiliki cabang di sana, seperti: Makasar, Semarang, Bandung, dan kota-kota lainnya,” ungkapnya. 

Hanny juga mengandalkan strategi online marketing melalui media sosial, website dan juga Ads. Kegiatan offline marketing pun tetap dilakukan, namun porsinya sudah lebih dikurangi. 

 

Kembangkan Produk yang Beragam

Tahun 2007, Hanny mengembangkan produk ROBOTKIDZ, learning center untuk anak belajar merakit dan memprogram robot. Kemudian tahun 2011 mengembangkan produk Elektronika Modern (ELMO), learning center yang mengajarkan anak terkait pembelajaran elektronika dasar. 

“Lalu 2015 mengembangkan produk ARTFACTORY, learning center yang mengajarkan anak teknik lukis artis dunia dengan output berupa barang seni. Dan pada tahun 2019 DIGIKIDZ meluncurkan program baru yang diberi nama DIGIPRENEUR, program untuk mempersiapkan anak menjadi seorang digital enterpreneur,” tambah Hanny. 

DIGIKIDZ menawarkan fee sekolah yang bervariasi sesuai dengan program dan level yang akan diambil oleh murid. Kisaran harganya mulai dari Rp500.000 per bulan untuk 4x pertemuan.

 

Harapan Untuk Masa Depan 

Hanny mempunyai mimpi di masa depan bisa melihat anak-anak Indonesia punya percaya diri tinggi karena menguasai teknologi sejak usia dini. Kelak anak-anak ini nantinya mempunyai pekerjaan yang datang dari segala penjuru dunia dan dapat mengharumkan nama Indonesia. 

“Dan untuk mewujudkan mimpi tersebut, sesuai dengan visi DIGIKIDZ untuk menjadikan anak-anak Indonesia sebagai “the maker”, maka target untuk ke depannya DIGIKIDZ ingin memiliki cabang di seluruh kota besar di Indonesia,” tutup Hanny.



Hanny Agustine adalah salah satu pebisnis yang sukses membangun bisnis waralaba. Anda tertarik mengikuti jejaknya? Konsultasikan dengan pakar franchise di Daya.id agar usaha yang Anda jalankan semakin matang dan sukses.

Untuk kisah sukses pengusaha inspiratif lainnya, bisa Anda baca di Daya.id. Yuk daftar dan kunjungi Daya.id sekarang juga!
 
 

Penilaian :

4.8

8 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS