Informasi Artikel

Penulis Artikel

Majalah Franchise Indonesia (Mitra Strategis Program Daya Sejak 2014)


Pengusaha

Sugeng Sugiarto

Jenis Usaha

Pemilik franchise Cakwe Galaxy

Tahun 2012 merupakan tahun bersejarah bagi Sugeng Sugiarto. Ia harus menerima kenyataan pahit berhenti dari pekerjaannya di kapal pesiar karena faktor usia. Kendati demikian, ia tidak limbung karena menemukan passion lain yang justru membawanya ke dunia bisnis.

Dulu, di tengah kesibukannya bekerja di kapal pesiar, pria yang akrab disapa Sugiarto ternyata punya keahlian unik yaitu membuat produk kudapan tradisional nusantara dan jepang. Makanya, hal pertama yang ia coba lakukan setelah berhenti bekerja adalah memulai bisnis kuliner seperti siomay dan bento. Namun, waktu itu bisnis tersebut tidak berjalan baik. “Mungkin karena lokasi atau pasar yang tidak sesui dengan kebutuhan produk kami,” kenang pria lulusan SMA ini. 

Sampai pada suatu hari. Sugiarto bertemu dengan teman lamanya yang bekerja di Eat N Eat, sebuah restoran yang menjajakan aneka kuliner. Ia menawarkan beberapa produk kulinernya kepada restoran tersebut melalui temannya tersebut. Rupanya, produknya lulus uji dan diterima Eat N Eat. 

 

Awal Ide Bisnis Cakwe Bumbu Kacang

Pada lain kesempatan, Sugiarto diminta membuat cakwe oleh Eat N Eat. Ia pun berusaha mencari resep cakwe yang enak dan mencoba membuatnya. Di tangan Sugiarto, ia tidak hanya ingin cakwe buatannya sekadar enak, tetapi juga harus ada ciri khasnya. “Akhirnya saya memiliki ide membuat cakwe sambal kacang. Saya belum pernah lihat ada cakwe sambal kacang yang di jual di mall atau pinggir jalan, saya putuskan untuk mengajukannya ke foodcourt Eat n Eat. Produk cakwe saya diterima dan mendapat respon yang baik,” jelasnya.

Respon baik ini, membuat Sugiarto optimis untuk merintis brand produknya sendiri “Cakwe Galaxy” pada 7 Januari 2013 dengan modal Rp15 juta berlokasi di Pasar Ah Poong, Sentul. Sebagai orang lapangan, ia mengakui awalnya tidak terlalu banyak melakukan analisis bisnis melainkan hanya mengandalkan intuisi saja. Bahkan ia belum mengelola keuangan bisnis secara detil, beli bahan juga masih eceran belum terpikir cari supplier. Untuk membuat cakwe, Sugiarto masih melakukan secara manual dibantu 2 orang karyawan. Setelah penjualan ramai, ada untung, barulah ia membeli mixer untuk membuat adonan cakwe.

“Pada awal buka sangat ramai sekali pembelinya sampai laku habis ratusan piece cakwe dengan harga jual Rp15 ribuan dengan ukuran besar. Jadi saya buka hanya mengandalkan keyakinan bahwa bisnis ini akan berhasil. Terlebih lagi produk cakwe yang saya buat berbeda dari cakwe pada umumnya,” ujar Sugiarto. 

 

Kendala dan Strategi Mengelola Bisnis 

Menurut Sugiarto, ada beberapa kendala yang ia hadapi di awal dan sepanjang menjalankan bisnis, diantaranya:

 

1.    Modal

Kendala yang Sugiarto hadapi di awal memulai bisnis adalah modal. Bisnis bento dan siomay yang pertama kali ia coba dan tidak berhasil itu cukup menguras tabungannya, jadi untuk membangun bisnis lagi ia perlu mengerahkan segala cara untuk mengumpulkan modal baik dari pendapatannya sendiri dari titip jual cakwe di restoran bahkan dari bantuan dari teman-teman untuk menutup kekurangan modalnya.

 

2.    Konsistensi Produk

Konsistensi berarti memastikan kualitas, rasa, bentuk, atau pelayanan produk tetap sama setiap kali dibeli oleh konsumen, hal ini tentu bukan hal yang mudah terutama bagi UMKM.

Untuk memastikannya, setiap hari Sugiarto memastikan tidak ada masalah dalam produksinya, dari mulai membuat adonan sampai proses masak. Ia juga memastikan karyawannya bekerja sesuai standar.

 

3.    Mengelola SDM

Dalam perjalanan bisnisnya, jumlah cabang Cakwe Galaxy semakin bertambah. Hal ini menandakan bisnis yang besutan Sugiarto ini bertumbuh, tapi disisi lain tantangan dalam mengelola karyawan juga semakin terasa. Namun, menurut Sugiarto masalah karyawan seperti turn over yang tinggi atau tidak disiplin merupakan hal lumrah yang umum dihadapi oleh pengusaha lainnya, seperti ia justru termotivasi untuk menemukan cara yang tepat untuk meminimalisir tantangan tersebut.

 

4.    Penurunan Bisnis di Masa Pandemi COVID-19

Sejak 2013 sampai 2020, bisnis Sugiarto berkembang hingga memiliki 25 cabang, namun pandemi COVID-19 membuat pencapaian tersebut turun drastis. Selain penurunan penjualan, cabang-cabangnya juga harus tutup sekitar separuhnya. Saat itu, banyak pelanggan yang kangen dengan cakwe, makanya Sugiarto membuka PO dan hasilnya cukup baik dan menjadi kunci bertahan bisnisnya di masa itu. 

Selain strategi menghadapi kendala, Sugiarto melakukan beberapa strategi agar bisnisnya sustain

 

1.    Belajar dari kesalahan menjalankan bisnis sebelumnya dan melakukan perbaikan

Belajar dari kegagalan di bisnis sebelumnya, kali ini Sugiarto memilih lokasi dengan penuh pertimbangan sesuai segmen pasarnya. Ia juga berusaha memperbaiki cara mendisplay makanan yang tepat dan melayani pelanggan dengan ramah. “Di usaha saya sebelumnya, saya tidak terlalu paham cara menjual yang benar, cara pemilihan lokasi yang tepat untuk berjualan, display makanan atau cara mendapatkan costumer. Di bisnis kali ini saya membuat display yang baik, menata produk yang baik, dan melayani konsumen dengan ramah dan sebaik mungkin agar jangan kecewa,” ujar Sugiarto.

 

2.    Manfaatkan media sosial, festival sampai pameran untuk optimalkan pemasaran

Dalam hal pemasaran, Sugiarto memanfaatkan media sosial, bekerjasama dengan EO penyelenggara untuk mengikuti ajang festival dan pameran franchise untuk ekspansi bisnis.  “Saya diajak untuk ikut festival oleh salah satu EO (Event Organizer). Dari festival pertama, relasi terbangun. Sugiarto jadi kenalan dengan banyak EO, dan mereka berminat mengajak Cakwe Galaxy gabung di event-event makanan yang mereka adakan,” jelasnya.

 

3.    Dibantu anggota keluarga: berpengalaman dan tepercaya

Untuk proses administrasi sampai pengelolaan stok barang dilakukan oleh istri Sugiarto yang sebelumnya pernah bekerja di bagian purchasing salah satu restoran besar di Jakarta. 

Kini Cakwe Galaxy tersebar di beberapa Mall seperti Mall Ambassador, Mall Grand Metropolitan Bekasi, Mall Beachwalk Bali, Fresh Market Bintaro, Kalibata City, Puri Gading Jatiwarna, dan beberapa titik lainnya. Dalam waktu dekat, Sugiarto berencana menambah cabang di Mall Kuningan City.

Menurut Sugiarto, rata-rata omzet bisnis perbulan beda-beda setiap cabang, misalnya untuk Mall Ambassador Rp30-40 Juta perbulan. Rata-rata mitra bisnis mampu balik modal di bulan ke lima. “Produk Cakwe kami memiliki keunggulan di saus bumbu kacang karena beda dengan cakwe yang selama ini ada. Selain itu ukuran cakwe yang besar juga menjadi pembeda,” bebernya.

Untuk kemitraan, Sugiarto menawarkan kerjasama kemitraan dengan investasi Rp40 juta dan estimasi balik modal antara 3–5 bulan. Di masa mendatang, pemilik bisnis yang berkantor di Bekasi ini berharap Cakwe Galaxy bisa berkembanga di kota-kota besar di Indonesia.

Sugeng Sugiarto adalah salah satu pebisnis yang sukses membangun bisnis dengan sistem kemitraan. Tertarik mengikuti jejaknya? Konsultasikan dengan pakar franchise di Daya.id agar usaha yang Anda jalankan semakin matang dan sukses.

Baca kisah sukses pengusaha inspiratif lainnya di Daya.id. Yuk daftar dan kunjungi Daya.id sekarang juga!

Penilaian :

0.0

0 Penilaian

Kisah Sukses Lainnya

Berbagai cerita sukses member Daya lainnya

4.7
Menuk

Koki Kini Punya Usaha Sendiri

20 November 2017

4.9
Zuhanita

Warung khas Jawa Timur Ini Tetap Eksis di Tengah Gempuran Kuliner Kekinian, Apa Rahasianya?

05 April 2019

4.9
Barudi Dewanto

Gagal di Bidang Usaha Lain, Pengusaha ini Justru Menikmati Sukses dari Bisnis Bakso

24 Mei 2022

4.9
Agung Nugroho Susanto

Mahasiswa Ini Jadi Pionir Bisnis Laundry Kiloan dengan Penghargaan MURI

16 September 2020

0 dari 5 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS