Dirilis

22 Januari 2019

Penulis

Tim Daya Tumbuh Usaha

Ada berbagai macam model bisnis e-commerce, dengan fungsi yang berbeda-beda. Seperti model bisnis B2B, B2C, C2C, dan seterusnya. Berikut ini penjelasan singkatnya untuk Anda.

Dengan mengenal lebih dekat model bisnis e-commerce di bawah, Anda punya gambaran mengenai model seperti apa yang cocok untuk bisnis Anda, dan strategi apa yang bisa Anda bangun.

1. Business to Business (B2B)
Ini adalah model bisnis yang melayani kegiatan transaksi antara pelaku bisnis. Jadi artinya Anda berjualan kepada sesama pebisnis.

Situs e-commerce untuk model ini biasanya dilakukan oleh pihak distributor, produsen, retailer, dropshipper dan pelaku bisnis lainnya.

Transaksi antar pelaku bisnis biasanya membutuhkan order dalam jumlah besar. Maka transaksi jenis ini biasanya memiliki format terstruktur, seperti proses pembelian barang, pengiriman proposal bisnis, informasi dan konsultasi, serta pengiriman, dilengkapi e-mail resmi.

Contoh situs e-commerce yang memiliki konsep B2B adalah Bizzy.co.id, yang melayani transaksi produk peralatan kantor dalam skala bisnis, serta Ralali.com yang melayani kebutuhan penyediaan alat-alat industri.

2. Business to Consumer (B2C)
Ini adalah model bisnis e-commerce yang umum ditemui. Pada model ini, situs B2C melayani kegiatan jual-beli antara produsen dengan konsumen pengguna akhir.

Jenis e-commerce ini merupakan pengembangan toko, hingga memiliki alamat website atau situs sendiri untuk menjual produk kepada pembeli.

Di tengah tingginya minat masyarakat pada metode transaksi online, membangun toko virtual untuk meraih pembeli secara lebih luas adalah satu cara yang ideal. Melalui situs, konsumen memiliki lebih banyak kemudahan untuk mendapatkan informasi harga hingga melacak proses pembelian dan pengiriman barang. Beberapa situs yang kita kenal dengan tipe ini seperti Tiket.com, Bhinneka, dan Chic and Darling.  

3. Consumer to consumer (C2C)
Pada model e-commerce C2C, transaksi barang dan jasa terjadi antar konsumen secara elektronik dengan pihak ketiga sebagai perantaranya.

Beberapa situs yang akrab di telinga kita adalah Shopee, Tokopedia, Bukalapak, atau web luar seperti Ebay. Di sana, siapa saja bisa jadi penjual dan pembeli. Cukup mendaftarkan diri dan melalui proses verifikasi.

Pada bisnis e-commerce jenis ini, Anda harus bersaing dengan sekian banyak penjual serupa sehingga persaingan harga dan kecepatan layanan juga penting untuk mendapatkan review baik dari pembeli.

4. Customer to Business (C2B)
Berbeda dengan model e-commerce B2C, ini adalah kebalikan dari transaksi jual beli tradisional. Biasanya, yang melakukan jenis transaksi ini adalah individu atau sekumpulan pihak yang menyediakan jasa untuk bisnis yang lebih besar. Seperti yang seringkali dilakukan oleh para blogger dengan menyewakan ruang blognya untuk mengiklankan sebuah produk, atau misalnya sekumpulan

5. Business to Administration (B2A)
B2A adalah jenis transaksi online yang terjadi antara perusahaan dan administrasi publik. Umumnya situs ini hadir untuk mempermudah proses layanan kepada administrasi publik bagi pelaku usaha, seperti dokumen hukum, ketenagakerjaan, dan jaminan sosial.

6. Consumer to Administration (C2A)
Berbeda dengan B2A, transaksi online dalam model e-commerce C2A terjadi antara pelaku individu dan administrasi publik. Misalnya pelaporan pajak online, BPJS, dan penyebaran informasi yang berkaitan dengan administrasi publik.

Ini adalah salah satu cara efektif bagi pemerintah menjangkau publik, dan bagi publik untuk memperoleh informasi resmi dan kepengurusan adminsitrasi.

7. Online to Offline (O2O)
Ini adalah jenis e-commerce yang bertujuan untuk mengajak pelanggan dari toko online untuk berkunjung langsung ke toko fisik. Model e-commerce ini masih cukup menarik perhatian, karena masih banyak konsumen yang senang untuk mendapat pengalaman melihat dan menyentuh sendiri barang yang diinginkan sebelum membelinya.

Beberapa retail masih menerapkan jenis e-commerce seperti ini, seperti misalnya berbelanja di pusat furnitur dan rumah tangga seperti IKEA. Walau di banyak situs Anda sudah bisa melakukan transaksi secara online, namun beberapa perusahan ritel besar yang memiliki toko offline yang masih menerapkan model e-commerce ini untuk menghidupkan bisnisnya.


Dengan mengenali model-model e-commerce di atas, Anda dapat mengidentifikasi ke mana arah bisnis dapat dimanfaatkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas secara maksimal dengan modal yang tidak terlalu besar.

Misalnya jika Anda memiliki bisnis kedai bakso, memanfaatkan model e-commerce O2O adalah cara tepat dengan mengadaptasi bagaimana retail besar menarik konsumen dengan memanfaatkan situs online untuk memperluas informasi produk dan penawaran menarik. Atau Anda yang bergerak di dunia fotografi dan ingin menjual hasil foto Anda untuk kegunaan editorial perusahaan besar, memanfaatkan situs (C2B) seperti Istockphoto.com, atau Getty Image adalah cara yang tepat menjangkau pasar.

Teknologi digital membuat dunia bisnis jadi lebih dinamis, kan? Ayo manfaatkan!

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber

Penilaian :

4.3

3 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Ari Handojo

Business Coach

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS