Dirilis

14 Januari 2020

Penulis

Tim Daya Tumbuh Usaha

Apakah Anda ingin kaya atau bahkan tambah kaya? Kalau bisa kaya dengan cara yang semudah mungkin, tanpa risiko, dan tanpa bersusah payah. Sebisa mungkin dengan modal sekecil-kecilnya dan dapat hasil sebesar-besarnya.

Tapi, kalau saat ini Anda memang ingin kaya, tolong tinggalkan cara itu. Kenapa? Sebab, perpaduan antara mau cari enaknya sendiri, ketidak mengertian, dan keserakahan inilah yang akhirnya banyak menimbulkan orang menjadi korban penipuan investasi bodong.

Apa itu investasi bodong?
Gampangnya begini, investasi bodong adalah bentuk “investasi” yang dilakukan seseorang yang menitipkan sejumlah uang kepada orang atau perusahaan yang mengaku bergerak di bidang investasi, untuk dikelola sehingga hasil investasi akan berkembang. Namun sebenarnya perusahaan tidak mengolah uang tersebut dengan benar. Sering mereka hanya memutarkan uang kepada orang lain bahkan membawa kabur uang para investor. Investasi bodong ini bisanya berwujud money game, berkedok crowdfunding, multilevel marketing (MLM), dan perdagangan forex (foreign exchange) atau pertukaran uang asing.




KENAPA ORANG TERTIPU INVESTASI BODONG?
1. Tergiur Bunga Tinggi
Sebagian masyarakat mudah tergiur dengan tawaran mendapat bunga tinggi dalam waktu cepat dari orang atau perusahaan yang mengaku menawarkan investasi. Padahal, dalam berinvestasi, bunga tinggi tidak bisa didapatkan secara singkat. Selain itu, ada pertimbangan fiskal dari setiap penghitungannya.

2. Malas Belajar  Ilmu Investasi
Masih ada masyarakat yang pemahaman investasinya masih rendah. Mereka cenderung malas untuk mempelajari soal investasi.  Ingat prinsip investasi hanya ada dua:
  • High Risk High Return (risiko tinggi hasil tinggi) contoh saham, serta
  • Low Risk dan Low Return (risiko rendah hasil rendah), contohnya deposito dan obligasi.
Bila ada investasi low risk high return (risiko rendah, hasil tinggi). Kemungkinan besar ini adalah tawaran dari investasi bodong.

3. Tertarik Nama Besar Tokoh yang Mempromosikan
Pelaku penipuan investasi kerap memanfaatkan nama besar tokoh agama, artis, maupun tokoh masyarakat untuk meyakinkan investor agar mau berinvestasi di perusahaannya.

4. Tidak Mempedulikan Legalitas Perusahaan
Calon investor cenderung tidak peduli apakah perusahaan tersebut memiliki izin beroperasi atau tidak. Mereka tidak cek-ricek dahulu ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau asosiasi-asosiasi yang menaungi bisnis seperti Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI), Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan sebagainya. Sehingga mereka terjebak membeli produk investasi dari perusahaan yang tidak memiliki izin resmi.

8 MODUS INVESTASI BODONG
Berdasarkan info dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ada 8 modus investasi bodong:

1. Menawarkan Untung Tinggi
Sebaiknya, Anda jangan mudah tergiur dengan perusahaan investasi atau orang yang menawarkan investasi dengan keuntungan yang tinggi. Memang, siapa sih yang tidak tertarik jika hanya dengan menghimpun dana yang sedikit bisa mendapatkan keuntungan tinggi. Sebagai gambaran, membeli satu produk investasi dibutuhkan dana Rp1 juta, keuntungan yang didapatkan bisa mencapai 40% setiap bulannya. Produk ini juga bisa dibeli kelipatannya. Artinya, akan ada 40% untung untuk setiap Rp1 juta yang diinvestasikan.

Berpatokanlah dengan rata-rata bunga tabungan bank atau reksadana yang terjadi di saat Anda hendak berinvestasi. Carilah informasi terlebih dahulu di bank-bank terdekat atau informasi online.

Bila rata-rata bunga tabungan bank saat itu antara 5%-6% per tahun, dan imbas hasil reksadana saham antara 15%-25% per tahun. Hindari investasi yang mengiming-imingi hasil investasi 2x lipat lebih dari rerata bunga tabungan dan reksadana saham saat itu.

2. Keuntungan dalam Waktu Singkat
Investasi bodong biasanya menawarkan waktu yang singkat untuk dapat mendulang keuntungan yang besar dengan sangat cepat, misalnya saja, dalam waktu satu bulan, keuntungan sudah bisa didapat. Padahal, tidak secepat itu untuk mendapatkan keuntungan dalam berinvestasi.




3. Keuntungan yang Tak Berlanjut
Biasanya di awal menginvestasikan dana, memang Anda akan mendapatkan keuntungan sesuai yang ditawarkan. Akan tetapi, makin lama, keuntungan tidak akan didapatkan. Pihak perusahaan akan berkilah dengan seribu alasan karena keuntungannya macet dan memberitahu nasabahnya untuk tetap sabar. Pada akhirnya, banyak pihak perusahaan yang hilang tanpa jejak.

4. Ada Pilihan Level Produk Investasi
Mirip dengan MLM, saat membeli produk investasi bodong, Anda akan dihadapkan dengan pilihan level yang bisa dipilih, misalnya ada pilihan paket silver, gold, dan platinum. Semakin tinggi levelnya, maka keuntungan yang diperoleh akan semakin banyak. Hal ini yang membuat orang semakin tergoda dengan penawaran yang diberikan investasi bodong.

Bedanya dengan MLM adalah selain tidak ada produk yang secara fisik nyata dan dapat dijual. Dalam investasi bodong, tidak ada support system untuk melakukan peningkatan kapasitas secara terstruktur dan berkelanjutan seperti seminar atau pelatihan agar para anggota dapat bekerja sesuai sistem dan mencapai target sesuai harapan. Jadi fokusnya hanya uang dan uang.

5. Diminta Mencari Investor Baru
Setelah Anda bergabung, maka pimpinan atau pihak yang lebih tinggi akan menugaskan kepada peserta baru untuk mencari investor lainnya. Selain itu, bagi orang yang bisa mendapatkan investor baru, maka akan diberikan sejumlah bonus tambahan berupa uang. Jadi tidak heran, jika jaringan investasi bodong ini semakin hari semakin luas.

6. Legalitas Perusahaan Tidak Jelas
Perusahaan investasi yang menawarkan investasi bodong biasanya tidak jelas asal usulnya dan rekam jejaknya. Artinya, kredibilitasnya dalam mengolah dana investasi masih dipertanyakan. Perusahaan tersebut juga tidak terdaftar di OJK atau asosiasi yang menaungi lembaga serupa misalnya APLI bagi perusahaan yang mengaku dirinya sebagai MLM, AFPI untuk perusahaan fintech crowfunding. Mereka pun terkesan sembunyi-sembunyi dalam menawarkan produknya.

7. Produk Tidak Jelas
Tak hanya perusahaannya saja yang tidak jelas, tapi produk yang ditawarkannya pun tidak jelas. Perusahaan tidak memberikan penjelasan detail akan produknya. Di beberapa kasus, para investor pun tidak tahu akan produk yang dibelinya, mereka hanya menyetorkan sejumlah uang berdasarkan harga dari produk investasinya. Terlebih para investor ini biasanya tidak peduli akan produknya, mereka hanya memikirkan keuntungan besar yang akan didapat.

8. Pengelolaan Sumber Dana Tidak Jelas
Umumnya para pelaku investasi bodong ini mengolah uang investasi dengan skema ponzi, piramida atau money game. Keuntungan yang diberikan kepada nasabah berasal dari uang investor yang baru masuk. Jadi sebenarnya uang yang dikelola hanya berputar-putar dari para nasabahnya. Ada pula yang menyalurkan uangnya ke UKM guna mendapatkan keuntungan. Namun dikala UKM mereka tidak mendapatkan keuntungan sesuai harapan, para pelaku investasi bodong ini kebingungan untuk memberikan keuntungan kepada nasabahnya.

Nah, makin jelas kan? Jadi bila Anda mau investasi, jangan sembarangan ya? Untuk menghindari investasi bodong, ingatlah 2 prinsip investasi, High Risk High Return dan Low Risk Low Return, pelajari suku bunga tabungan dan reksadana saham saat itu, dan periksa kebenaran legalitas perusahaannya.

Alangkah lebih baiknya, sebelum berinvestasi kenali dulu tipe Anda dalam berinvestasi dalam artikel “Anda tipe investor apa sih?” agar Anda benar-benar dapat berinvestasi sesuai harapan dan kebutuhanmu. Selamat mencoba dan teruslah semangat berinvestasi.

Sumber:

Diolah dari berbagai sumber

Penilaian :

5.0

5 Penilaian

Share :

Berikan Komentar

Ada yang ingin ditanyakan?
Silakan Tanya Ahli

Ari Handojo

Business Coach

1 dari 3 konten bebas || Daftar dan Masuk untuk mendapatkan akses penuh ke semua konten GRATIS